Dari kasur turun ke kamar mandi, lalu naik lagi ke kasur, kemudian otak menjadi beku sehingga pikiran tidak berjalan. Akibatnya, hanya kesenangan yang dikejar tanpa kerja, maka kehancuran akan menjelang. Dari situ, timbul slogan “hidup muda poya-poya, tua kaya raya dan mati masuk syurga”.
More…Malas adalah suatu penyakit, simbolnya adalah kata “atuda” (lagi-an) dalam bahasa Sunda. Seorang murid enggan masuk sekolah dengan alasan turun hujan, ibunya berkata kenapa enggak sekolah nak! “atuh da” hujan ibu, kata anaknya. Si ibu lantas berpikir, oh iya sekarang memang hujan. Tapi, si ibu berpikir dua kali, kalau hujan memang berangkat sekolah menjadi batal (tidak jadi). Si ibu yang hampir kehabisan pikiran untuk membujuk anaknya berangkat sekolah tidak lama memberikan jawaban kepada anakanya, nak “atuh di payung” saja.
Dalam bahasa Sunda kata “atuh da” dan “atuh di” merupakan ungkapan kata yang mempunyai makna berlawanan antara daya ke-engganan melakukan sesuatu (“atuh da”) dan daya paksa seseorang terhadap tingkah laku, sikap, pola pikir dan lain-lain. Keduanya bisa muncul bersamaan secara internal (dalam jiwa) atau secara eksternal (dari luar jiwa) seseorang.
“Atuh di” merupakan daya paksa terhadap suatu kewajiban seseorang individu maupun sekelompok orang untuk melaksanakan sesuatu. Ia sama dengan perintah “harus” yang dapat membangun semangat jiwa seseorang untuk melewati rintangan walau pun di depan mata.