Feeds:
Tulisan
Komentar

Dari Mana Malas Itu Datang?

Dari kasur turun ke kamar mandi, lalu naik lagi ke kasur, kemudian otak menjadi beku sehingga pikiran tidak berjalan. Akibatnya, hanya kesenangan yang dikejar tanpa kerja, maka kehancuran akan menjelang. Dari situ, timbul slogan “hidup muda poya-poya, tua kaya raya dan mati masuk syurga”.

More…Malas adalah suatu penyakit, simbolnya adalah kata “atuda” (lagi-an) dalam bahasa Sunda. Seorang murid enggan masuk sekolah dengan alasan turun hujan, ibunya berkata kenapa enggak sekolah nak! “atuh da” hujan ibu, kata anaknya. Si ibu lantas berpikir, oh iya sekarang memang hujan. Tapi, si ibu berpikir dua kali, kalau hujan memang berangkat sekolah menjadi batal (tidak jadi). Si ibu yang hampir kehabisan pikiran untuk membujuk anaknya berangkat sekolah tidak lama memberikan jawaban kepada anakanya, nak “atuh di payung” saja.

Dalam bahasa Sunda kata “atuh da” dan “atuh di” merupakan ungkapan kata yang mempunyai makna berlawanan antara daya ke-engganan melakukan sesuatu (“atuh da”) dan daya paksa seseorang terhadap tingkah laku, sikap, pola pikir dan lain-lain. Keduanya bisa muncul bersamaan secara internal (dalam jiwa) atau secara eksternal (dari luar jiwa) seseorang.

“Atuh di” merupakan daya paksa terhadap suatu kewajiban seseorang individu maupun sekelompok orang untuk melaksanakan sesuatu. Ia sama dengan perintah “harus” yang dapat membangun semangat jiwa seseorang untuk melewati rintangan walau pun di depan mata.

Budaya

pendengar sekalian
tepat pukul enam Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB)
Indonesia adalah negeri budaya
rakyat, pemegang teguh budaya bangsa
teman saya bilang, “kini zaman budaya”
pukul tujuh kubaca koran:
korupsi kini semakin membudaya
pak dosen bilang: budaya kita adalah budaya Timur
pak Menteri bilang: di setiap departement tidak ada yang bersih dari budaya
kini, saya dididik dan dibudayakan di kampus
adakah budaya juga
bagi kakek saya
kakek-kakek tetangga saya di ladang yang kini berkaki tunggal merebut kemerdekaan bangsa ini dengan gerilya

“Air”

Berbicara soal nikmat, bangsa Indonesia harus paling bersyukur karena tidak mungkin terhitung banyaknya anugerah Tuhan yang diberikan di Nusantara ini melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam yang lebih baik?. Lanjut Baca »

Kejaksaan Buka Lowongan

[26/9/07] Kejaksaan Agung kembali membuka lowongan formasi calon pegawai negeri sipil di lingkungan Kejaksaan untuk tahun anggaran 2007. Berbeda dari formasi sebelumnya, kali ini yang dibutuhkan hanya sarjana hukum. Itu pun terbatas pada alumni jurusan ilmu hukum, perdata, pidana, tata negara, administrasi negara, dan internasional. Sarjana hukum Islam atau yang dikenal sebagai sarjana syariah tidak disinggung. Pendaftaran berlangsung 24-26 September baik di Kejaksaan Agung maupun di setiap Kejaksaan Tinggi di daerah. Ujian akademik berlangsung pada 29 September. Setelah lulus, akan ada ujian kedua meliputi psikotes, kesehatan dan wawancara. Surat Jaksa Agung Muda Pembinaan Parnomo tertanggal 4 September lalu menyatakan formasi atau kursi yang tersedia mencapai 500. Lihat www.kejaksaan.go.id

Taufiq Himbau MUI Kota Bogor Hidupkan Kembali Shalat Gerhana

Bogor, NajmuNews – Sejak pukul 17.00 WIB, gema suara takbir berkumandang di Masjid Ittihadul Islam Jl Raya Pajajaran Warung Jambu Bogor (28/8). Masjid yang terletak di pondok pesantren Persis (Persatuan Islam) itu semarak dengan jama’ah sebelum maghrib tiba. Selesai shalat maghrib, jama’ah melakukan shalat gerhana matahari (shalat khusuf). Berlaku sebagai imam KH Mansur Ali Pimpinan Persis 112. Ayat-ayat al-Qur’an yang dibawakan Imam dalam shalat kali ini antara lain, surat al-Fajr, al-A’la, al-Jalzalah dan al-Qari’ah. Selesai shalat, lalu Imam membacakan khutbah di hadapan jama’ah. Hadir di antaranya wartawan Radar Bogor untuk meliput kegiatan ini.
Menurut ketua Persis Kota Bogor Taufiq Dzulfikar (32) “shalat gerhana hukumnya sunnah muakkad”. “Dalam tarikh, saat Nabi Saw mengalami kesedihan luar biasa, langit gelap gulita. Sahabat dan penduduk Makkah menganggap bahwa alam sedang berduka. Nabi Saw menampik bahwa tidak ada kaitannya antara gerhana matahari dengan kamatian seseorang. Lalu, Rasul menyeru untuk takbir, empat ruku, lalu sujud”, papar Taufik dalam wawancara yang berlangsung sekitar pukul 18.30 s.d. 19.00 itu.
“Dalam shalat gerhana matahari, dianjurkan membaca surat yang panjang-panjang, lalu bersedekah. Bahkan, semestinya memerdekakan hamba sahaya”, lanjut Taufiq.

Himbau MUI

“Gerhana yang terjadi kali ini terlihat di langit Bogor sekitar pukul 17.30″, tambah Taufik. yang juga sebagai Sekjen KMB (Komunitas Muslim Bogor) pernah menghimbau kepada MUI Kota Bogor agar menghidupkan kembali sunnah ini, karena Rasul Saw berduka, lalu gelap gulita, sebagaimana Hadits Riwayat Siti Aisyah.
Pada tahun 1984, pernah terjadi gerhana matahari total yang berpengaruh terhadap gelombang laut. Gerhana matahari biasanya pertama kali muncul di sebelah timur.
Berkaitan dengan peristiwa gerhana ini, Persis telah membuat catatan di dalam kalender sebagai bahan rujukan atas kejadian seperti ini.
“Hikmah dari peristiwa (gerhana matahari) ini agar umat Islam khususnya senantiasa selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. terkait meningkatnya bencana-bencana alam yang terjadi di negeri ini”, ujar Taufiq (Naj).

Jakarta, Kompas – Kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat George Walker Bush sering kali menimbulkan ketegangan dan konflik di berbagai negara. Kebijakan itu pulalah yang justru meningkatkan radikalisme di dunia Islam.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi saat menerima Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Cameron R Hume di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (5/9).

Hasyim menegaskan, NU tidak pernah memusuhi Pemerintah AS, apalagi bangsa AS. Namun, NU selalu bersikap kritis terhadap kebijakan luar negeri Presiden Bush yang justru menghasilkan konflik di berbagai negara.

Konflik yang terjadi di negara-negara Islam akan selalu berimbas ke Indonesia. Kondisi ini semakin menambah beban bagi Indonesia yang sedang berupaya keluar dari krisis dan menuntaskan program reformasi.

Dalam pertemuan sekitar satu jam itu, Hasyim dan Hume juga membahas upaya mengatasi radikalisme di dunia Islam dan Indonesia.

Menurut Hasyim, radikalisme yang muncul di Indonesia tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena keberadaannya bukanlah lahir dari karakteristik domestik asli Indonesia. Karakter Islam di Indonesia adalah penuh dengan toleransi karena berhadapan dengan keragaman suku, budaya, agama, ataupun ras.

Sementara itu, di Timur Tengah, citra Islam kerap dikaitkan dengan kekerasan karena Islam di Timur Tengah berhadapan dengan kekuatan Israel atau potensi minyak bumi yang selalu diperebutkan beberapa negara, serta kebijakan AS yang tidak adil terhadap dunia Islam. “Radikalisme Islam di Indonesia cukup dikurangi dengan pengembangan moderasi Islam, peningkatan kesejahteraan dan pendidikan,” katanya.

Hasyim juga menyayangkan sikap AS dalam menghadapi radikalisme. Di satu sisi, AS sangat menentang munculnya radikalisme. Namun, di sisi lain, kebijakan luar negeri AS justru memunculkan radikalisme baru. Untuk itu, lanjut Hasyim, NU akan terus mengobarkan perdamaian dunia meski tujuan itu sulit tercapai.

Dalam kesempatan itu Hume menawarkan peningkatan kerja sama dengan NU dalam bidang pendidikan melalui beasiswa studi ke AS ataupun pengiriman tenaga ahli AS ke pesantren dan sekolah NU. Bidang pendidikan yang ditawarkan meliputi manajemen, bisnis, ekonomi, teknologi, pedagogi, dan teknologi informasi. (MZW)

Taliban Dicurigai Terlibat

Islamabad, Rabu – Pemerintah Pakistan curiga kelompok pro-Taliban terlibat dalam ledakan bom bunuh diri yang mengakibatkan 31 orang tewas. Proses penyelidikan terhadap dua ledakan bom itu, Rabu (5/9), semakin membuat pusing Presiden Pervez Musharraf. Ledakan yang terjadi, Selasa di kota Rawalpindi, dekat Islamabad, itu memperparah kekacauan masalah keamanan yang sedang terjadi di Pakistan.

Padahal, saat ini Musharraf sedang sibuk mencari cara agar bisa kembali terpilih sebagai presiden melalui pemilihan presiden bulan September atau Oktober. Kondisi keamanan yang kacau dikhawatirkan bisa membuyarkan kesempatan Musharraf. Kelompok oposisi juga akan menjadikan hal itu sebagai amunisi menyerang kubu Musharraf.

Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan bom saat berada dalam bus yang sedang ditumpangi pegawai Kementerian Pertahanan. Sementara satu bom lagi meledak di jalanan dekat pasar yang biasa dilewati pejabat militer yang hendak menuju ke markas besar militer. Padahal, kedua lokasi ada di dalam lingkungan yang dijaga superketat.

Juru bicara Departemen Dalam Negeri Pakistan Brigadir Javed Cheema memperkirakan, ada kemungkinan ledakan itu terkait dengan kelompok bersenjata pro- Taliban yang didukung kelompok Al Qaeda. Apalagi mengingat bahwa ada sayap-sayap Al Qaeda saat ini yang berperang dengan pasukan Pakistan di daerah perbatasan Pakistan-Afganistan.

Untuk sementara, para penyelidik tengah mengincar Baitullah Mehsud, ketua kelompok bersenjata paling senior yang bermarkas di Distrik Waziristan Selatan. Selama ini Mehsud menjadi buron.

“Memang sampai sekarang belum ada yang mengaku bertanggung jawab. Tetapi, dari beberapa serangan sebelumnya, selalu ada kaitan dengan Baitullah Mehsud,” kata Cheema. (AFP/LUK)

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert bertemu kabinetnya, Rabu (5/9), guna membahas respons terhadap berlanjutnya serangan roket Hamas dari Jalur Gaza. Roket dan mortir itu sering jatuh di lahan kosong, tetapi banyak juga yang mengenai kawasan permukiman. Sejumlah anggota kabinet mengusulkan untuk memutus suplai air, listrik, dan bahan bakar ke Jalur Gaza, tetapi Olmert menolak. (afp/fro)

Sejarah Indonesia Terulang

Jakarta, Kompas – Penguasaan sejumlah aset strategis oleh pihak asing pada saat ini telah membuat Indonesia kembali seperti pada masa penjajahan. Ironisnya, meski amat merugikan, kondisi ini belum terlalu disadari karena prosesnya berlangsung lama dan bertahap.

Mantan Ketua MPR Amien Rais, Rabu (5/9) di Jakarta, menuturkan, pada masa penjajahan Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) merupakan korporasi modern pertama yang punya kekuasaan amat besar di Indonesia.

Kondisi hampir serupa, lanjut Amien, saat ini kembali terulang. Sebab, sekitar 65 persen kepemilikan bank di Indonesia sudah berada di tangan asing. Perusahaan strategis, seperti Indosat, juga sudah bukan milik kita. Berbagai perjanjian kontrak karya pengelolaan tambang juga cenderung memihak kepentingan asing.

“Contoh lain dari sikap ugal- ugalan ini adalah perjanjian kerja sama dengan Singapura atau DCA. Sebab, dalam perjanjian itu disebutkan, selama lebih dari 20 tahun, militer Singapura dapat berlatih di sejumlah wilayah barat Indonesia dengan menggunakan peluru tajam dan mengajak pihak lain. Kalau DPR mengesahkan perjanjian itu, berarti mereka juga ugal-ugalan,” tutur Amien.

Untuk keluar dari keadaan yang menjadikan rakyat Indonesia seperti kuli di negaranya sendiri ini, lanjut Amien, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, kepemimpinan nasional harus direkonstruksi sehingga sesuai dengan nilai-nilai nasionalisme para pendiri bangsa, seperti Soekarno dan Hatta.

Kedua, kemandirian bangsa harus kembali dibangun dengan rekonstruksi mental. Sebab, tanpa mental kemandirian, sebuah negara akan selesai. Ketiga, memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk mengelola sendiri kekayaan alamnya.

Sonny Keraf, anggota DPR dari Fraksi PDI-P, menuturkan, sebenarnya sudah ada pemikiran untuk mengembalikan berbagai pengelolaan tambang yang selama ini dikuasai pihak asing kepada Pemerintah Indonesia. Namun, masih ada sejumlah perdebatan untuk mewujudkan hal itu, seperti tentang penghormatan terhadap kontrak kerja. (NWO)

Jakarta, Kompas – Islam dan Barat saat ini seperti dua kutub yang berseberangan. Dalam situasi demikian diperlukan kesadaran dan usaha dari kedua budaya ini untuk mau saling berinteraksi dan memahami perbedaan yang ada sehingga kesalahpahaman dan stereotip antarkeduanya bisa dihilangkan. Hal itu dikemukakan oleh Jacqueline Wasilewski, ahli kajian antarbudaya dari The International Society for Intercultural Education, Training, and Research dalam seminar “Islam and the West: From Coexistence to Engagement” di Jakarta, akhir pekan lalu. Seminar yang digelar oleh Bina Antarbudaya ini dimaksudkan untuk memperingati 50 tahun Program Pertukaran Pelajar American Field Service (AFS) di Indonesia.

Program pertukaran pelajar seperti AFS, menurut Wasilewski, merupakan suatu wahana pembelajaran antarbudaya yang efektif. Peserta program harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memiliki nilai, cara hidup, dan cara pikir yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan asal.

Ribuan peserta AFS dari berbagai negara Barat tinggal di keluarga Muslim, juga sebaliknya. “Tinggal bersama keluarga asing dengan budaya yang berbeda, mereka tidaklah belajar sebagai ’penonton’, tetapi sebagai ’pemain’ yang turut mengalami dan menghayati kehidupan budaya lain yang sangat berbeda sehingga dapat lebih merasakan dan memahami secara mendasar dan mendalam,” kata Wasilewski.

Para alumni AFS yang telah dibekali dengan pemahaman antarbudaya itu kini tersebar di berbagai penjuru dunia. AFS asal Indonesia di antaranya penyair Taufiq Ismail, Tanri Abeng, dan pendidik Arief Rachman. (LOK)

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »