<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Seeking The Indonesian Soul</title>
	<atom:link href="http://najmudin.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://najmudin.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 17:46:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh najmu</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-136</link>
		<dc:creator>najmu</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 17:46:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-136</guid>
		<description>salam sejahtera 
terima kasih atas saran dan kritiknya semoga semuanya dapat bersahabat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam sejahtera<br />
terima kasih atas saran dan kritiknya semoga semuanya dapat bersahabat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di “Reunifikasi” Sunda oleh syarah</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/20/%e2%80%9creunifikasi%e2%80%9d-sunda/#comment-134</link>
		<dc:creator>syarah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 10:58:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/20/%e2%80%9creunifikasi%e2%80%9d-sunda/#comment-134</guid>
		<description>bsa gak ngetranslate bahasa indonesia ke bahasa sunda</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bsa gak ngetranslate bahasa indonesia ke bahasa sunda</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh Ian  Gomper</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-133</link>
		<dc:creator>Ian  Gomper</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 08:49:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-133</guid>
		<description>Sudahlah   kalau  kita   berdebat   kusir   seperti   ini  tidak   akan  habis   habisnya.  Masing  masing   ingin  mempertahankan   pendapatnya,  baik   memang...dari  perbedaan  pendapat   akan   muncul  pemikiran   brilian...tapi  seperti  penulis   pertama  katakan   kita   harus   hindari  etnosentris.  Sejarah   dapat   berubah   seiring   ditemukannya  fakta  fakta  baru   seperti   penemuan  prasasti   dsb.   Bagi  saya   Kutai, Tarumanegara,   Melayu   (Jambi),Sriwijaya,Mataram   Kuno,  Singosari,Majapahit,Goa  Makassar  dsb    telah  mengambil   perannya    masing  masing    dalam   sejarah  Nusantara    dan   sebenarnya  telah   saling  bersaudara  akibat   perkawinan  antar  mereka    sebut   saja  Sanjaya  Mataram  Kuno  masih  keturunan   Sunda,  yang  akhirnya  keturunannya   mendirikan   kerajaan  kerajaan  di  Jawa  Timur,   Syailandra  (Sriwijaya)  menurunkan   Raja-Raja  Mataram  Kuno  lalu  Adityawarman    (Pagaruyung)  masih  keturunan  Rd.  Wijaya,  Parameswara  (Sriwijaya)  mendirikan   Kerajaan  Malaka    dan   menurunkan  Raja  Raja  Melayu   di  Semenanjung  Malaysia,   Raja  Raja   Goa   juga  menurunkan  Raja  Raja    Melayu   di  Semenanjung.    Nusantara  terpisah  karena  penajajahan  Belanda  dan  Inggris.   Nusantara  adalah   wilayah  kepulauan   dengan  ragam  etnis  terbesar  di  dunia,  mudah  tersulut   konflik.  Alangkah  bijak  jika  kita  tidak   merasa  lebih  dominan  terhadap  etnis  lain,    karena  we  are  connected  with  blood,  Sayang  memang   beberapa  wilayah  Nusantara  tidak  bisa  bergabung  ke  dalam  wilayah  Indonesia  karena  politik  bagi  bagi  kue   bangsa  bangsa  yang  letaknya  ribuan  kilometer   dari  Nusantara. Kesimpulannya    kita   jangan  merasa  lebih  dominan  dari  etnis  lain  semua  adalah   setara.  Ini  adalah  peninggalan  orde  baru   yang  salah  kaprah  dalam  memandang  kebangsaan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sudahlah   kalau  kita   berdebat   kusir   seperti   ini  tidak   akan  habis   habisnya.  Masing  masing   ingin  mempertahankan   pendapatnya,  baik   memang&#8230;dari  perbedaan  pendapat   akan   muncul  pemikiran   brilian&#8230;tapi  seperti  penulis   pertama  katakan   kita   harus   hindari  etnosentris.  Sejarah   dapat   berubah   seiring   ditemukannya  fakta  fakta  baru   seperti   penemuan  prasasti   dsb.   Bagi  saya   Kutai, Tarumanegara,   Melayu   (Jambi),Sriwijaya,Mataram   Kuno,  Singosari,Majapahit,Goa  Makassar  dsb    telah  mengambil   perannya    masing  masing    dalam   sejarah  Nusantara    dan   sebenarnya  telah   saling  bersaudara  akibat   perkawinan  antar  mereka    sebut   saja  Sanjaya  Mataram  Kuno  masih  keturunan   Sunda,  yang  akhirnya  keturunannya   mendirikan   kerajaan  kerajaan  di  Jawa  Timur,   Syailandra  (Sriwijaya)  menurunkan   Raja-Raja  Mataram  Kuno  lalu  Adityawarman    (Pagaruyung)  masih  keturunan  Rd.  Wijaya,  Parameswara  (Sriwijaya)  mendirikan   Kerajaan  Malaka    dan   menurunkan  Raja  Raja  Melayu   di  Semenanjung  Malaysia,   Raja  Raja   Goa   juga  menurunkan  Raja  Raja    Melayu   di  Semenanjung.    Nusantara  terpisah  karena  penajajahan  Belanda  dan  Inggris.   Nusantara  adalah   wilayah  kepulauan   dengan  ragam  etnis  terbesar  di  dunia,  mudah  tersulut   konflik.  Alangkah  bijak  jika  kita  tidak   merasa  lebih  dominan  terhadap  etnis  lain,    karena  we  are  connected  with  blood,  Sayang  memang   beberapa  wilayah  Nusantara  tidak  bisa  bergabung  ke  dalam  wilayah  Indonesia  karena  politik  bagi  bagi  kue   bangsa  bangsa  yang  letaknya  ribuan  kilometer   dari  Nusantara. Kesimpulannya    kita   jangan  merasa  lebih  dominan  dari  etnis  lain  semua  adalah   setara.  Ini  adalah  peninggalan  orde  baru   yang  salah  kaprah  dalam  memandang  kebangsaan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh wong jawi</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-132</link>
		<dc:creator>wong jawi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:04:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-132</guid>
		<description>Kenapa pulau jawa tidak dinamakan pulau sunda sebab orang jawa sudah lebih dahulu mendiami dan bertamaddun..

Adanya nama “JAWA” sebelum adanya kerajaan salaknagara dan tarumanagara.. 

Dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa berarti nama jawa sudah lebih dahulu dikenal bukan kerajaannya…

Hasil  kajian dari kebanyakkan sejarahwan menetapkan bahawa Wilayah INDONESIA adalah peninggalan Kerajaan Majapahit sebuah kerajaan JAWA…yang berada daerah Jawa Timur…

Sememangnya raja majapahit adalah dari putra mahkota sunda dari pajajaran namun tidak mampu menukar wilayah kerajaan majapahit atau nama majapahit sebagai kebesaran kerajaan sunda atau kerana segan dengan orang jawa…wallohu wa’lam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa pulau jawa tidak dinamakan pulau sunda sebab orang jawa sudah lebih dahulu mendiami dan bertamaddun..</p>
<p>Adanya nama “JAWA” sebelum adanya kerajaan salaknagara dan tarumanagara.. </p>
<p>Dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa berarti nama jawa sudah lebih dahulu dikenal bukan kerajaannya…</p>
<p>Hasil  kajian dari kebanyakkan sejarahwan menetapkan bahawa Wilayah INDONESIA adalah peninggalan Kerajaan Majapahit sebuah kerajaan JAWA…yang berada daerah Jawa Timur…</p>
<p>Sememangnya raja majapahit adalah dari putra mahkota sunda dari pajajaran namun tidak mampu menukar wilayah kerajaan majapahit atau nama majapahit sebagai kebesaran kerajaan sunda atau kerana segan dengan orang jawa…wallohu wa’lam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh Adi Mulyadi</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-130</link>
		<dc:creator>Adi Mulyadi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 21:54:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-130</guid>
		<description>Tanda tanda orang Sunda salah satunya seperti Pasukan Batalion Siliwangi waktu awal di dirikannya kerena mereka dididik dalam tradisi asli masarakat sunda. Hirup sauyunan tara pahiri hiri silih pikanyaah teu ingngis belapati Mereka ramah,  sabar, ikhlas buat mendirikan negri tercinta ini INDONESIA, tentu tidak akan ada negri ini tanpa keberadaannya. Ini adalah hasil spirit yang telah menjadi adat masarakat Sunda warisan dari leluhur Raja raja Sunda yang Adil Bijaksana anu ngadidik jati diri Sunda lebih dari 1400 tahun (200M - 1600M). Walaupun kepemimpinan dari Sunda sekarang ini kurang tampil di pemerintahan Nasianal karena orang Sunda teu haweuk (serakah) padahal Kalau mau mereka bisa dan mampu dan pasti akan lebih adil. Orang Sunda pun tak pernah mengklaim kondisi ini. Bila melihat ke kenyataan sejarah sebenarnya kalau mau bicara jujur pendiri kerajaan Majapahit adalah ORANG SUNDA juga bisa jadi asalnya gubernur dari pakuan untuk wilayah timur jawa dimana beliau yang membabat hutan dan menemukan buah maja yang pahit itulah mulanya Kerajaan Majapahit, Karena yang namanya Jawa itu awalnya adalah sebutan untuk Kerajaan yang pertama ada dan itu adanya hanya di Jawa barat waktu itu namanya Tarumanegara, dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa wajar bila kerajaan Sunda memperluas wilayah (bukan menjajah tetapi memperluas kanyaahsayang sesama agama/Hindu) ketimur Jawa dari serangan asing, dan mengirimkan utusannya. bukti lainnya banyak kosa kata  bahasa Jawa keraton yang sama dengan bahasa Sunda Halus itulah sisa sisanya Dimuat pula dalam naskah lain Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, (artinya)
&quot;Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan (Jawa Barat).
Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa : Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kublay Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.
Jadi jelas bahwa Tak mungkin Majapahit akan menyerang Kerajaan Pajajaran secara langsung kerena mereka adalah keluarga besar Pajajaran juga (segan ) Walaupun terjadinya perang Bubat itu adalalah tindakan serampangan yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada yang kurang jelas asal usulnya dan secara serampangan menyerang iringan pengantin (gak lucu gitu) tanpa persetujuan Raja Hayam Wuruk. Itu pula salah satu yang menyebabkan kemunduran Maja Pahit disamping datangnya Islam. Wallahu alam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tanda tanda orang Sunda salah satunya seperti Pasukan Batalion Siliwangi waktu awal di dirikannya kerena mereka dididik dalam tradisi asli masarakat sunda. Hirup sauyunan tara pahiri hiri silih pikanyaah teu ingngis belapati Mereka ramah,  sabar, ikhlas buat mendirikan negri tercinta ini INDONESIA, tentu tidak akan ada negri ini tanpa keberadaannya. Ini adalah hasil spirit yang telah menjadi adat masarakat Sunda warisan dari leluhur Raja raja Sunda yang Adil Bijaksana anu ngadidik jati diri Sunda lebih dari 1400 tahun (200M &#8211; 1600M). Walaupun kepemimpinan dari Sunda sekarang ini kurang tampil di pemerintahan Nasianal karena orang Sunda teu haweuk (serakah) padahal Kalau mau mereka bisa dan mampu dan pasti akan lebih adil. Orang Sunda pun tak pernah mengklaim kondisi ini. Bila melihat ke kenyataan sejarah sebenarnya kalau mau bicara jujur pendiri kerajaan Majapahit adalah ORANG SUNDA juga bisa jadi asalnya gubernur dari pakuan untuk wilayah timur jawa dimana beliau yang membabat hutan dan menemukan buah maja yang pahit itulah mulanya Kerajaan Majapahit, Karena yang namanya Jawa itu awalnya adalah sebutan untuk Kerajaan yang pertama ada dan itu adanya hanya di Jawa barat waktu itu namanya Tarumanegara, dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa wajar bila kerajaan Sunda memperluas wilayah (bukan menjajah tetapi memperluas kanyaahsayang sesama agama/Hindu) ketimur Jawa dari serangan asing, dan mengirimkan utusannya. bukti lainnya banyak kosa kata  bahasa Jawa keraton yang sama dengan bahasa Sunda Halus itulah sisa sisanya Dimuat pula dalam naskah lain Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, (artinya)<br />
&#8220;Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan (Jawa Barat).<br />
Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa : Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kublay Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.<br />
Jadi jelas bahwa Tak mungkin Majapahit akan menyerang Kerajaan Pajajaran secara langsung kerena mereka adalah keluarga besar Pajajaran juga (segan ) Walaupun terjadinya perang Bubat itu adalalah tindakan serampangan yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada yang kurang jelas asal usulnya dan secara serampangan menyerang iringan pengantin (gak lucu gitu) tanpa persetujuan Raja Hayam Wuruk. Itu pula salah satu yang menyebabkan kemunduran Maja Pahit disamping datangnya Islam. Wallahu alam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh A.Hamid B Salikin</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-128</link>
		<dc:creator>A.Hamid B Salikin</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 20:23:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-128</guid>
		<description>Untuk Joko Dolog – Alhamdulillah, terima kasih atas pandangannya tetapi itu mungkin anggapan kamu atau sejarah versi kamu saya kira. Dan maaf saya tidak akan melayani orang yang penasaran  hingga hilang akal. Sekian , terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Joko Dolog – Alhamdulillah, terima kasih atas pandangannya tetapi itu mungkin anggapan kamu atau sejarah versi kamu saya kira. Dan maaf saya tidak akan melayani orang yang penasaran  hingga hilang akal. Sekian , terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh joko dolog</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-127</link>
		<dc:creator>joko dolog</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 14:52:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-127</guid>
		<description>Untuk A.Hamid B. Salikin perlu diketahui raja-raja majapahit dan keturunannya adalah keturunan seorang BAJINGAN, GARONG, PERAMPOK yakni Ken Arok, Dia nyuri istri orang ken dedes dari tunggul ametung, maka sifat-sifat raja jawa ga jauh berbeda dengan bapak moyangnya Ken Arok, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, mengikuti syahwat kekuasaan, kerajaan Majapahit ga jauh berbeda dengan Belanda, yang satu imperialis berambut pirang, satu lagi imperialis berambut hitam.
Perlu diketahui majapahit dua kali nyerang PAJAJARAN tapi kalah, akhirnya pake cara2 bubat, itu bukann ksatria bung itu cara2 banci. kalau kamu mengannggap itu suatu kejeniusan strategi, maka saya maklum itu cara-cara keturunan Ken Arok dalam mencapai  tujuan, benar-benar suatu kebudayaan keturunan seorang Gali</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk A.Hamid B. Salikin perlu diketahui raja-raja majapahit dan keturunannya adalah keturunan seorang BAJINGAN, GARONG, PERAMPOK yakni Ken Arok, Dia nyuri istri orang ken dedes dari tunggul ametung, maka sifat-sifat raja jawa ga jauh berbeda dengan bapak moyangnya Ken Arok, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, mengikuti syahwat kekuasaan, kerajaan Majapahit ga jauh berbeda dengan Belanda, yang satu imperialis berambut pirang, satu lagi imperialis berambut hitam.<br />
Perlu diketahui majapahit dua kali nyerang PAJAJARAN tapi kalah, akhirnya pake cara2 bubat, itu bukann ksatria bung itu cara2 banci. kalau kamu mengannggap itu suatu kejeniusan strategi, maka saya maklum itu cara-cara keturunan Ken Arok dalam mencapai  tujuan, benar-benar suatu kebudayaan keturunan seorang Gali</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh Misteri</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-125</link>
		<dc:creator>Misteri</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 09:12:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-125</guid>
		<description>1) Nama tidak selalunya, dan tidak semestinya identik dengan Bangsa nya. Namun nama menjadi identik dengan peranan dan kewibawaannya. Di zaman dahulu kala banyak orang dari masyarakat kita menamakan mengikut  apa yang terdapat disekelilingnya, keindahan dan kehaibatannya seperti nama2 dedaunan, nama bunga2an, nama2 tuhan atau dewa2, nama binatang2 dan sebagainyanya. Di zaman Hindu pula banyak masyarakat di Nusanatara ini (khusus nya dipulau Jawa ) kebiasaannya memakai nama2 yang ada kait mengait dengan ugamanya, Hindu (bukan bangsanya) dengan sesuatu tujuan atau pengharapan. Begitu juga di zaman agama Buddah dan seterusnya di zaman agama Islam. 
Dari segi kosakata bahasa terdapat banyak juga bahasa Sunda dan bahasa Melayu yang mengambil dari bahasa Jawa yang tidak dipertikaikan contohnya gamelan Sunda dan gamelan Malaysia. Gamelan itu dari kosakata bahasa Jawa. Dan seperti contoh  Nusantara. Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna nusa (pulau) dan antara (lain).Istilah ini pertama kali tertulis pada beberapa pustaka dari literatur berbahasa Jawa Pertengahan (dari periode Jawa Timur, i.e. Kediri sampai Majapahit). Selanjutnya muncul konsep yang diperbaharui, yang dikemukakan oleh Ernest Douwes Dekker di awal abad ke-20 dan masih dipakai hingga sekarang untuk menyatakan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia.Malaysia ikut menggunakan istilah ini dipakai sebagai padanan Kepulauan Melayu (Malay Archipelago) dan memiliki muatan nasionalistik.
Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyan Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya bergelar Jaka Susuruh dari Pajajaran dianggap lemah kebenarannya, 1)terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki. 2) Dan jika Raja Majapahit benar2 punyai darah keturunan Sunda, dan raja2 diJawa tengah dan Timur sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah Jawa bagian barat yg di anggap tanah para dewa yang ditinggikan karena anak-pinak dinasti2 Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurunkan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), pasti Kerajaan2 besar yang ada di Jawa Tengah dan Timur tidak berdiam diri dan berpelok tuboh. Setidak2nya membangunkan semula martabat kerajaan Sunda dengan pelbagai hal dan cara dan harus sungkem (berbakti) sebagaimana anak berbakti dengan orang tuanya, tidak berlaku halnya malahan Majapahit bangga dengan penaklukkan Sunda. 3) Di Singapura ini, bapa saya asal Jawa Tengah Kebumen pernah menceritakan dari  buyut2  bapa saya dan juga kebanyakkan berita yang sama saya dapat dari semua kawan2 yang orang tuanya asal Jawa Tengah seperti Kendal, kebumen, Jogja dan sebagainya sama mengatakan bahawa orang Sunda itu asalnya orang Jawa yang menyebabkan Jawa lebih tua dari Sunda dari cerita sandi mengikut cerita lisan dari para leluhur kami,  (bukan anggapan orang Jawa di modern ini ya). (maaf, cerita ini tidak dapat kami bentangkan sebagaimana telah diamanahkan kesemua orang2 tua kami orang2 dari Jawa Tengah) Jadi bagaimanakah pulau yang bernama pulau Jawa yang mayoritas penduduknya orang Jawa dijadikan penduduk kedua dari hal sejarah dan kebesarannya berbanding minoriti orang Sunda yang hanya ada di bahagian barat itu yang kemudiannya  menjadi besar dengan lahirnya Salaknagara. Jadi kebangkitan Kerajaan2 di Jawa Tengah dan Timur tidak lain hanya untuk mengambil alih atau mengambil balik hak dan martabatnya. Demikian juga terhadap Sriwijaya yang pernah dikatakan pernah menakluk bumi Jawa bagian barat. Dengan kebangkitan kerajaan2 besar diJawa Tengah dan Timur dengan sendirinya menyebabkan melemahnya kerajaan Sunda dan  disamping Majapahit  dapat mengalahkan kerajaan Sriwijaya untuk menebus maruahnya. Menurut sejarahwan terkenal Bennard Vekkle, Jawa Barat merupakan yang terkebelakang dipulau Jawa hingga abad 11. Kerajaan2 besar bangkit di Jawa Tengah dan Timur, sedikit sekali yang berubah diantara suku Sunda.Orang Sunda memiliki raja di zaman Airlangga kira2 tahun 1020m. Raja2 Sunda semakin berada dibawah kekuasaan kerajaan2 Jawa yang besar  dan akhirnya  tertakluk oleh kerajaan2 besar jawa.  
2)Dari hal Gajah Mada, seperti yang anda katakan jika Raja Majapahit (Hayam  Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda ( yg dianggap lemah kebenarannya itu) Secara etika, jelas Hayam Wuruk tidak akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Begitu juga dgn Gajah Mada. Jika Gajah Mada berasal orang Melayu Paloh bekas dari Kerajaan Sriwijaya (SumSel), atau orang Bali dan sebagainya(kecuali dari orang Jawa) kesemuanya ini tidak masuk akal dengan sebab ucapan dari Sumpah Palapanya yang bermaksud mengalahkan dan menaklukkan nusantara. Cuba semak dengan teliti ucapannya yang berbahasa Jawa itu““Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa” artinya :“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”. Arti dari ucapan beliau “apabila sudah kalah Nusantara” itu jelas bermakna berperang, menundukkan untuk ditaklukki. Dan berperang itu pasti ada pertumpahan darah yang menyebabkan banyak jiwa terkorban, kemusnahan harta benda dan lain2nya. Jadi gajah mada bolih dikatakan orang yang tidak siuman atau orang gila karena memerang dan menghancurkan tempat dimana Ia berasal dan memerangi leluhurnya. Namun jika tidak sampai terjadi peperangan, ini bermakna kerajaan2 lain di Nusantara ini dapat ditundukkan dengan arti kata lainnya mereka siap akur untuk menjadi negara2 bawahan Kerajaan Majapahit di sebabkan kebesaran dan kekuatan kerajaan MajaPahit itu sendiri bersama rajanya (Hayam Wuruk), Maha patihnya (Gajah Mada) dan kekuatan panglima2 lainnya, dan kekuatan keekonomiannya dan bala tenteranya disamping Gaja Mada sebagai orang yang memainkan peran besar terhadap kejayaan Majapahit. 
(3) Semua staf Gajah Mada yang dikatakan orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar pada pendapat saya memang sudah wajarlah demikian, pasti Gajah mada akan menggunakan orang2  jajahannya, setidak2nya orang  yang sudah siap mahu berkhidmat bersatu dengan kerajaan Majapahit selain dari orang Jawa itu sendiri yang majoritas penduduk terbesar Indonesia.
4) Maaf, bukan saya ta’sub dengan Kehaibatan Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit, setakat mengagumi saja. Gajah Mada juga menghilangkan diri entah kemana dan Kerajaan Majapahit juga runtuh akhirnya dengan kehadiran Islam dipulau Jawa yang diperjuangkan oleh Wali Songo dan dengan berdirinya Kerajaan Demak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1) Nama tidak selalunya, dan tidak semestinya identik dengan Bangsa nya. Namun nama menjadi identik dengan peranan dan kewibawaannya. Di zaman dahulu kala banyak orang dari masyarakat kita menamakan mengikut  apa yang terdapat disekelilingnya, keindahan dan kehaibatannya seperti nama2 dedaunan, nama bunga2an, nama2 tuhan atau dewa2, nama binatang2 dan sebagainyanya. Di zaman Hindu pula banyak masyarakat di Nusanatara ini (khusus nya dipulau Jawa ) kebiasaannya memakai nama2 yang ada kait mengait dengan ugamanya, Hindu (bukan bangsanya) dengan sesuatu tujuan atau pengharapan. Begitu juga di zaman agama Buddah dan seterusnya di zaman agama Islam.<br />
Dari segi kosakata bahasa terdapat banyak juga bahasa Sunda dan bahasa Melayu yang mengambil dari bahasa Jawa yang tidak dipertikaikan contohnya gamelan Sunda dan gamelan Malaysia. Gamelan itu dari kosakata bahasa Jawa. Dan seperti contoh  Nusantara. Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna nusa (pulau) dan antara (lain).Istilah ini pertama kali tertulis pada beberapa pustaka dari literatur berbahasa Jawa Pertengahan (dari periode Jawa Timur, i.e. Kediri sampai Majapahit). Selanjutnya muncul konsep yang diperbaharui, yang dikemukakan oleh Ernest Douwes Dekker di awal abad ke-20 dan masih dipakai hingga sekarang untuk menyatakan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia.Malaysia ikut menggunakan istilah ini dipakai sebagai padanan Kepulauan Melayu (Malay Archipelago) dan memiliki muatan nasionalistik.<br />
Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyan Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya bergelar Jaka Susuruh dari Pajajaran dianggap lemah kebenarannya, 1)terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki. 2) Dan jika Raja Majapahit benar2 punyai darah keturunan Sunda, dan raja2 diJawa tengah dan Timur sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah Jawa bagian barat yg di anggap tanah para dewa yang ditinggikan karena anak-pinak dinasti2 Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurunkan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), pasti Kerajaan2 besar yang ada di Jawa Tengah dan Timur tidak berdiam diri dan berpelok tuboh. Setidak2nya membangunkan semula martabat kerajaan Sunda dengan pelbagai hal dan cara dan harus sungkem (berbakti) sebagaimana anak berbakti dengan orang tuanya, tidak berlaku halnya malahan Majapahit bangga dengan penaklukkan Sunda. 3) Di Singapura ini, bapa saya asal Jawa Tengah Kebumen pernah menceritakan dari  buyut2  bapa saya dan juga kebanyakkan berita yang sama saya dapat dari semua kawan2 yang orang tuanya asal Jawa Tengah seperti Kendal, kebumen, Jogja dan sebagainya sama mengatakan bahawa orang Sunda itu asalnya orang Jawa yang menyebabkan Jawa lebih tua dari Sunda dari cerita sandi mengikut cerita lisan dari para leluhur kami,  (bukan anggapan orang Jawa di modern ini ya). (maaf, cerita ini tidak dapat kami bentangkan sebagaimana telah diamanahkan kesemua orang2 tua kami orang2 dari Jawa Tengah) Jadi bagaimanakah pulau yang bernama pulau Jawa yang mayoritas penduduknya orang Jawa dijadikan penduduk kedua dari hal sejarah dan kebesarannya berbanding minoriti orang Sunda yang hanya ada di bahagian barat itu yang kemudiannya  menjadi besar dengan lahirnya Salaknagara. Jadi kebangkitan Kerajaan2 di Jawa Tengah dan Timur tidak lain hanya untuk mengambil alih atau mengambil balik hak dan martabatnya. Demikian juga terhadap Sriwijaya yang pernah dikatakan pernah menakluk bumi Jawa bagian barat. Dengan kebangkitan kerajaan2 besar diJawa Tengah dan Timur dengan sendirinya menyebabkan melemahnya kerajaan Sunda dan  disamping Majapahit  dapat mengalahkan kerajaan Sriwijaya untuk menebus maruahnya. Menurut sejarahwan terkenal Bennard Vekkle, Jawa Barat merupakan yang terkebelakang dipulau Jawa hingga abad 11. Kerajaan2 besar bangkit di Jawa Tengah dan Timur, sedikit sekali yang berubah diantara suku Sunda.Orang Sunda memiliki raja di zaman Airlangga kira2 tahun 1020m. Raja2 Sunda semakin berada dibawah kekuasaan kerajaan2 Jawa yang besar  dan akhirnya  tertakluk oleh kerajaan2 besar jawa.<br />
2)Dari hal Gajah Mada, seperti yang anda katakan jika Raja Majapahit (Hayam  Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda ( yg dianggap lemah kebenarannya itu) Secara etika, jelas Hayam Wuruk tidak akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Begitu juga dgn Gajah Mada. Jika Gajah Mada berasal orang Melayu Paloh bekas dari Kerajaan Sriwijaya (SumSel), atau orang Bali dan sebagainya(kecuali dari orang Jawa) kesemuanya ini tidak masuk akal dengan sebab ucapan dari Sumpah Palapanya yang bermaksud mengalahkan dan menaklukkan nusantara. Cuba semak dengan teliti ucapannya yang berbahasa Jawa itu““Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa” artinya :“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”. Arti dari ucapan beliau “apabila sudah kalah Nusantara” itu jelas bermakna berperang, menundukkan untuk ditaklukki. Dan berperang itu pasti ada pertumpahan darah yang menyebabkan banyak jiwa terkorban, kemusnahan harta benda dan lain2nya. Jadi gajah mada bolih dikatakan orang yang tidak siuman atau orang gila karena memerang dan menghancurkan tempat dimana Ia berasal dan memerangi leluhurnya. Namun jika tidak sampai terjadi peperangan, ini bermakna kerajaan2 lain di Nusantara ini dapat ditundukkan dengan arti kata lainnya mereka siap akur untuk menjadi negara2 bawahan Kerajaan Majapahit di sebabkan kebesaran dan kekuatan kerajaan MajaPahit itu sendiri bersama rajanya (Hayam Wuruk), Maha patihnya (Gajah Mada) dan kekuatan panglima2 lainnya, dan kekuatan keekonomiannya dan bala tenteranya disamping Gaja Mada sebagai orang yang memainkan peran besar terhadap kejayaan Majapahit.<br />
(3) Semua staf Gajah Mada yang dikatakan orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar pada pendapat saya memang sudah wajarlah demikian, pasti Gajah mada akan menggunakan orang2  jajahannya, setidak2nya orang  yang sudah siap mahu berkhidmat bersatu dengan kerajaan Majapahit selain dari orang Jawa itu sendiri yang majoritas penduduk terbesar Indonesia.<br />
4) Maaf, bukan saya ta’sub dengan Kehaibatan Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit, setakat mengagumi saja. Gajah Mada juga menghilangkan diri entah kemana dan Kerajaan Majapahit juga runtuh akhirnya dengan kehadiran Islam dipulau Jawa yang diperjuangkan oleh Wali Songo dan dengan berdirinya Kerajaan Demak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh hidayat</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-124</link>
		<dc:creator>hidayat</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 06:35:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-124</guid>
		<description>Maaf ini hanya masukan saja.
Gajah Mada memang betul mengabdikan diri ke Majapahit. Akan tetapi menurut penelitian kami, termasuk mengutip manuskrip kuno dari Leiden Belanda, Surabaya, Kuala Lumpur, Kalbar, Sumsel, asalnya bukan dari suku Jawa atau Sunda.
Singkat saja ya, (1) Gajah Mada jarang menggunakan bahasa bertingkat tapi melayu kuno (pada masa itu perbedaan bahasa Jawa, Sunda dan Melayu cukup sedikit) namun setelah Majapahit runtuh, barulah masing-masing negara (kerajaan) perlu punya identitas dengan membedakan logat penutur dan materi bahasanya, salah satunya melalui karya sastra lisan, tulisan dan media siar komunikatif lainnya.
Kiprahnya sebagai bekel, karena Gajah Mada seorang bahari dengan wawasan luas tentang navigasi kelautan. Sehingga hapal mengenai kota-kota kuno dan cara menjangkaunya (sehingga mengerti ke jalan eks Kesultanan Sulu-Philipina, kajian dari sejarah besar Brunei Darussalam).
(2) Gajah Mada menyelamatkan Raja Majapahit ke-2 karena memiliki darah Melayu (dari rahim Dara Pethak dan Raden Wijaya), karena Gajah Mada di beberapa hikayat Melayu ada menyebut dari Melayu Paloh (sambas, Kalbar), ada juga dari bekas kerajaan Sriwijaya (Sumsel).
(3) Semua staf Gajah Mada orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar ada saya pegang)
(4) di Kerajaan Melayu Tanjungpura yang menjadi bawahan Singasari, khususnya ada cerita Ocang (menikah dengan Dara Punio) dan itu dianggap menjadi ayah Gajah Mada. Di Desa Beringin, Kecamatan Tumbang Titi, masyarakat Dayak Pesaguan menganggap itu makam Gajah Mada setelah purna tugas di Majapahit. Walaupun negarakertagama mengatakan Gajah Mada sudah gering saat Hayam Wuruk berkunjung. Itu dianggap salah dan catatan mennipu, karena Hayam Wuruk minta Gajah Mada jadi patih lagi setelah dipecat karena Perang Bubat, Gajah Mada tidak mau. Kenapa sejarawan orang Jawa yang saya hargai kesukuannya yang besar dan unik dalam kesantunan itu, menganggap Gajah Mada mau lagi dipinta jadi panglima. Dalam penelitian kami, tertolak jika Gajah Mada mau lagi. “Lidah dah dibuang kenapa pula dijilat leka”.
(5) Gajah Mada meninggal sebagai pertapa Buddha bukan Hindu yang menjadi agama Raja Majapahit.
(6) Gajah Mada menolak kasta dan bahasa bertingkat tapi mendukung bahasa santun via kiasan maupun budi bahasa.
(7) Gajah Mada menolak status Parahyangan atas tanah Jawa bagian Barat (maksudnya, raja-raja di Jateng-Jatim, tak akan pernah berperang dengan kerajaan di Jawa bagian barat karena dianggap itu tanah para dewa atau tanah yang ditinggikan), Karena anak-pinak dinasti-dinasti sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah jawa bagian barat tersebut. Karena Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya dari turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurukan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), Kalingga dan barulah di masa SAnjaya hanya mau memerintah di Jateng dan berdirilah Mataram Kuno). Alasannya di tanah tersebut sering terjadi perang saudara. Sedangkan kekuasaan di Jawa bagian barat diserahkan anaknya dan saudara mudanya. Mungkin inilah orang Jawa menganggap lebih tua daripada suku Sunda di zaman modern ini. Di Atlas Sejarah Nusantara kami punya kronikal dari tahun saka sudah kami buat jadi tahun masehi, dengan bantuan perhitungan candra (bulan) bukan hanya surya.
(8) Wajar kalau Gajah Mada ingin Sunda takluk, bukan sebagai saudara Majapahit karena Raden Wijaya menurut babat Tanah Jawi dari Pajajaran (bukan klaim naskah sunda ya.
(9) Dayak Pesaguan mengklaim Gajah Mada dari anak Ocang (Panglima Singasari yang menikah dengan perempuan Dayak setempat, Dara Punio. Lalu balik ke Jawa lagi untuk mengambil garam buat acara menuba, rupanya sudah berganti Majapahit). Di Tumbang Titi masyarakat Dayak sudah bunyinkan gong dan gamelan berhari-hari terpaksa menuba ikan terdahulu. Ocang yang datang lagi ke Tanjungpura-Kalbar terlambat, marah maka garam satu kapal ditumpahkan. Sampai saat sekarang padang pasir di tengah rimba kalimantan di Desa Beringin, dianggap karena garam yang ditumpahkan Ocang. (banyak gelar dari pengawal Ocang dan Kejawa-jawaan karena Ocang memang orang Jawa), sampai saat ini masih dipakai.
(10) kalau versi Melayu Paloh-Sambas, Gajah Mada berasal dari sana karena ada hikayat Gajah Mede. Orang Melayu Paloh SAmbas walau berbatasan dengan SArawak (Malaysia Timur), maka menyebut e seperti e milik orang Betawi, bukan e seperti milik orang Melayu Pontianak-ibukota Provinsi Kalbar atau Riau-Malaysia).
(11) Kenapa Gajah Mada dianggap lahir dari tanah jajahan Singasari di Sumatera, karena semua staf Gajah Mada orang Sumtera (mereka berperang di sana-sini Raja Jawa nyaman saja terima upeti). Kajian naskah kunonya ada.
(12)Mahesa Anabrang yang menurunkan Adityawarman (Kerajaan Pagaruyung-Minangkabau yang musnah oleh Belanda semasa Perang Paderi 1837), merupakan ayah dari beberapa stafnya Gajah Mada. Istri Mahesa Anabrang, Dara Jingga disebut Bundo Kanduang orang orang Minangkabau. Mahesa Anabrang balik dari ekspedisi Pamalayu (diutus menaklukkan kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya oleh Raja Kertanegara dalam kerja kurun 1275-1292) waktu balik eh Singasari sudah runtuh, maka militernya disuruh mengabdi ke Raden Wijaya (Majapahit). Mahesa Anabrang tewas di tangan Lembu Sora yang memberontak Majapahit. Akhirnya Adityawarman, anaknya yang tak diberi tahu ihwal kematiannya ayahnya di Jawa, marah. Maka militer Majapahit dibantai di Padang Sibusuk (tempat dan prasastinya masih ada, boleh Bapak terjemahkan kalau bisa bacanya he he guraulah bang ni), dan sejak saat itu orang Minang tak mau dikawini orang Jawa (pada masa itu saja 1300-an). Karena banyak anak kyai yang menikah dengan perempuan Miang di era kolonial dan republik ini. Prasasti ekspedisi Pamalayu Singasari masih ada, dan batunya di museumlah. Masak saya bawa ke Kalbar he he
(13) Dah dulu ya, kenapa saya tahu banyak. Karena saya melanjutkan penelitian Prof Mohammad Yamin (suku Minang) tentang Majapahit dan Gajah Mada sejak tauhn 1945, kala itu untuk menyusun konsep nusantara jelang sidang BPUPKI 18 Agustus 1945. Jangan olok Moh Yamin ya, dia pahlawan nasional negeri kita men.
(14) Selain saya masih mahasiswa hukum di Universitas Tanjungpura Pontianak, juga sudah empat tahun jadi wartawan harian Equator, koran terbesar kedua di Kalbar setelah Pontianak POst (keduanya group Jawa POst). Kajian sejarah saya pernah di sajikan di Kuala Lumpur, Kuching (Malaysia Timur), Labuan (Malay) dan Brunei. Di Jawa tak tau tak ada ngundang, lagian di Jawa dah banyak orang sejarah he hee..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf ini hanya masukan saja.<br />
Gajah Mada memang betul mengabdikan diri ke Majapahit. Akan tetapi menurut penelitian kami, termasuk mengutip manuskrip kuno dari Leiden Belanda, Surabaya, Kuala Lumpur, Kalbar, Sumsel, asalnya bukan dari suku Jawa atau Sunda.<br />
Singkat saja ya, (1) Gajah Mada jarang menggunakan bahasa bertingkat tapi melayu kuno (pada masa itu perbedaan bahasa Jawa, Sunda dan Melayu cukup sedikit) namun setelah Majapahit runtuh, barulah masing-masing negara (kerajaan) perlu punya identitas dengan membedakan logat penutur dan materi bahasanya, salah satunya melalui karya sastra lisan, tulisan dan media siar komunikatif lainnya.<br />
Kiprahnya sebagai bekel, karena Gajah Mada seorang bahari dengan wawasan luas tentang navigasi kelautan. Sehingga hapal mengenai kota-kota kuno dan cara menjangkaunya (sehingga mengerti ke jalan eks Kesultanan Sulu-Philipina, kajian dari sejarah besar Brunei Darussalam).<br />
(2) Gajah Mada menyelamatkan Raja Majapahit ke-2 karena memiliki darah Melayu (dari rahim Dara Pethak dan Raden Wijaya), karena Gajah Mada di beberapa hikayat Melayu ada menyebut dari Melayu Paloh (sambas, Kalbar), ada juga dari bekas kerajaan Sriwijaya (Sumsel).<br />
(3) Semua staf Gajah Mada orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar ada saya pegang)<br />
(4) di Kerajaan Melayu Tanjungpura yang menjadi bawahan Singasari, khususnya ada cerita Ocang (menikah dengan Dara Punio) dan itu dianggap menjadi ayah Gajah Mada. Di Desa Beringin, Kecamatan Tumbang Titi, masyarakat Dayak Pesaguan menganggap itu makam Gajah Mada setelah purna tugas di Majapahit. Walaupun negarakertagama mengatakan Gajah Mada sudah gering saat Hayam Wuruk berkunjung. Itu dianggap salah dan catatan mennipu, karena Hayam Wuruk minta Gajah Mada jadi patih lagi setelah dipecat karena Perang Bubat, Gajah Mada tidak mau. Kenapa sejarawan orang Jawa yang saya hargai kesukuannya yang besar dan unik dalam kesantunan itu, menganggap Gajah Mada mau lagi dipinta jadi panglima. Dalam penelitian kami, tertolak jika Gajah Mada mau lagi. “Lidah dah dibuang kenapa pula dijilat leka”.<br />
(5) Gajah Mada meninggal sebagai pertapa Buddha bukan Hindu yang menjadi agama Raja Majapahit.<br />
(6) Gajah Mada menolak kasta dan bahasa bertingkat tapi mendukung bahasa santun via kiasan maupun budi bahasa.<br />
(7) Gajah Mada menolak status Parahyangan atas tanah Jawa bagian Barat (maksudnya, raja-raja di Jateng-Jatim, tak akan pernah berperang dengan kerajaan di Jawa bagian barat karena dianggap itu tanah para dewa atau tanah yang ditinggikan), Karena anak-pinak dinasti-dinasti sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah jawa bagian barat tersebut. Karena Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya dari turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurukan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), Kalingga dan barulah di masa SAnjaya hanya mau memerintah di Jateng dan berdirilah Mataram Kuno). Alasannya di tanah tersebut sering terjadi perang saudara. Sedangkan kekuasaan di Jawa bagian barat diserahkan anaknya dan saudara mudanya. Mungkin inilah orang Jawa menganggap lebih tua daripada suku Sunda di zaman modern ini. Di Atlas Sejarah Nusantara kami punya kronikal dari tahun saka sudah kami buat jadi tahun masehi, dengan bantuan perhitungan candra (bulan) bukan hanya surya.<br />
(8) Wajar kalau Gajah Mada ingin Sunda takluk, bukan sebagai saudara Majapahit karena Raden Wijaya menurut babat Tanah Jawi dari Pajajaran (bukan klaim naskah sunda ya.<br />
(9) Dayak Pesaguan mengklaim Gajah Mada dari anak Ocang (Panglima Singasari yang menikah dengan perempuan Dayak setempat, Dara Punio. Lalu balik ke Jawa lagi untuk mengambil garam buat acara menuba, rupanya sudah berganti Majapahit). Di Tumbang Titi masyarakat Dayak sudah bunyinkan gong dan gamelan berhari-hari terpaksa menuba ikan terdahulu. Ocang yang datang lagi ke Tanjungpura-Kalbar terlambat, marah maka garam satu kapal ditumpahkan. Sampai saat sekarang padang pasir di tengah rimba kalimantan di Desa Beringin, dianggap karena garam yang ditumpahkan Ocang. (banyak gelar dari pengawal Ocang dan Kejawa-jawaan karena Ocang memang orang Jawa), sampai saat ini masih dipakai.<br />
(10) kalau versi Melayu Paloh-Sambas, Gajah Mada berasal dari sana karena ada hikayat Gajah Mede. Orang Melayu Paloh SAmbas walau berbatasan dengan SArawak (Malaysia Timur), maka menyebut e seperti e milik orang Betawi, bukan e seperti milik orang Melayu Pontianak-ibukota Provinsi Kalbar atau Riau-Malaysia).<br />
(11) Kenapa Gajah Mada dianggap lahir dari tanah jajahan Singasari di Sumatera, karena semua staf Gajah Mada orang Sumtera (mereka berperang di sana-sini Raja Jawa nyaman saja terima upeti). Kajian naskah kunonya ada.<br />
(12)Mahesa Anabrang yang menurunkan Adityawarman (Kerajaan Pagaruyung-Minangkabau yang musnah oleh Belanda semasa Perang Paderi 1837), merupakan ayah dari beberapa stafnya Gajah Mada. Istri Mahesa Anabrang, Dara Jingga disebut Bundo Kanduang orang orang Minangkabau. Mahesa Anabrang balik dari ekspedisi Pamalayu (diutus menaklukkan kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya oleh Raja Kertanegara dalam kerja kurun 1275-1292) waktu balik eh Singasari sudah runtuh, maka militernya disuruh mengabdi ke Raden Wijaya (Majapahit). Mahesa Anabrang tewas di tangan Lembu Sora yang memberontak Majapahit. Akhirnya Adityawarman, anaknya yang tak diberi tahu ihwal kematiannya ayahnya di Jawa, marah. Maka militer Majapahit dibantai di Padang Sibusuk (tempat dan prasastinya masih ada, boleh Bapak terjemahkan kalau bisa bacanya he he guraulah bang ni), dan sejak saat itu orang Minang tak mau dikawini orang Jawa (pada masa itu saja 1300-an). Karena banyak anak kyai yang menikah dengan perempuan Miang di era kolonial dan republik ini. Prasasti ekspedisi Pamalayu Singasari masih ada, dan batunya di museumlah. Masak saya bawa ke Kalbar he he<br />
(13) Dah dulu ya, kenapa saya tahu banyak. Karena saya melanjutkan penelitian Prof Mohammad Yamin (suku Minang) tentang Majapahit dan Gajah Mada sejak tauhn 1945, kala itu untuk menyusun konsep nusantara jelang sidang BPUPKI 18 Agustus 1945. Jangan olok Moh Yamin ya, dia pahlawan nasional negeri kita men.<br />
(14) Selain saya masih mahasiswa hukum di Universitas Tanjungpura Pontianak, juga sudah empat tahun jadi wartawan harian Equator, koran terbesar kedua di Kalbar setelah Pontianak POst (keduanya group Jawa POst). Kajian sejarah saya pernah di sajikan di Kuala Lumpur, Kuching (Malaysia Timur), Labuan (Malay) dan Brunei. Di Jawa tak tau tak ada ngundang, lagian di Jawa dah banyak orang sejarah he hee..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sunda Dulu dan Kini (Sebuah Refleksi) oleh hidayat</title>
		<link>http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-123</link>
		<dc:creator>hidayat</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 06:25:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://najmudin.wordpress.com/2007/11/22/sunda-dulu-dan-kini-sebuah-refleksi/#comment-123</guid>
		<description>Sebenarnya bukan Majapahit tdk mampu menaklukkan Sunda. Namun memang Raja Majapahit (Hayam Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda. Secara etika, jelas Hayam Wuruk tdk akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Nama &quot;Hayam&quot; bukanlah kosakata bahasa Jawa, namu kosakata Bahasa Sunda. Silakan cek sendiri di literatur2 tentang adanya keturunan darah Sunda dalam dirinya..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya bukan Majapahit tdk mampu menaklukkan Sunda. Namun memang Raja Majapahit (Hayam Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda. Secara etika, jelas Hayam Wuruk tdk akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Nama &#8220;Hayam&#8221; bukanlah kosakata bahasa Jawa, namu kosakata Bahasa Sunda. Silakan cek sendiri di literatur2 tentang adanya keturunan darah Sunda dalam dirinya..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
