Gegap-gempita masyarakat desa Cibitung Tengah Tenjolaya (dulu Ciampea) Bogor sekitar tahun 1985-1986-an tak lagi terbendung. Mereka gembira menyambut kehadiran listrik masuk desa dengan antusias. Sebelumnya, mereka hanya menikmati alat penerang dari lampu tradisional, seperti petromak, obor, lampu cempor, lampu botol dan lampu-lampu kecil lainnya yang banyak bergantung pada minyak tanah.
Seorang anak berusia lima tahun pun ikut gembira. Meski saat itu listrik hanya sampai perbatasan rukun kampung, belum sampai rumahnya, anak itu ikut menyambut kahadiran listrik di desa, karena kelak musim masuk sekolah tiba, anak itu ikut menikmati cahaya lampu listrik.
Belajar menjadi tenang, mata tak lagi melotot melihat huruf-huruf al-Qur’an atau buku sekolah. Berjalan di malam hari tidak lagi mengacungkan obor tinggi-tinggi, karena adanya alat penerangan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Dengan penuh semangat dan keceriaan, tampak petugas pemasangan listrik dan seluruh warga antusias bergotong-royong memasangkan tiang-tiang dan kabel-kabel ke rumah warga menyambut kehadiran listrik.
Dengan memakai helm warna kuning, membawa gulungan kabel listrik di kampung, nampak seorang bapak ikut dalam pemasangan tiang dan kabel-kabel listrik di antara kerumunan warga yang bergotong-royong. Anak itu menatap bapak tersebut. Ketika anak itu tahu bahwa bapak yang terlihat layaknya petugas PLN itu ayahnya sendiri, keduanya -anak dan bapak saling membalas senyum.
Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Beberapa bulan dari situ, listrik menjalar ke kampung halaman dan masuk menghiasai malam, menerangi sudut-sudut rumah anak dan bapak itu. Namun, sayang, bapak itu tak sempat merasakan kehangatan desa tatkala kampung halamannya sudah terang benderang dengan cahaya lampu listrik. Sejenak terlintas dalam renungan anaknya, betapa bahagia bapak seandainya sempat menikmati terpasangnya lampu listrik di rumah.
Beliau tak lagi memompa lampu petromak untuk menerangi mushalla dan pengajian di sore hari. Jalan di pesawahan yang telah dapat dilalui mobil hasil gotong royong warga, termasuk beliau yang selalu tampil di depan dapat bergembira dengan adanya lampu listrik, dan suara adzan akan lebih bergema dengan masa tenaga listrik.
Sungguh kreasi Tuhan Maha Indah, begitu kampung halaman sudah mulai terhiasi cahaya agama, rupanya Allah Swt., tak rela kalau salah satu menteri penerangan-Nya hanya mencicipi gemerlap alam dunia, apalagi hanya lampu listrik.
Semoga Allah Swt., membalas segala amal perbuatan ibadahnya. Sebagai penerang agama dengan cahaya al-Qur’an. Mendidik generasi muda dengan al-Qur’an dan mengasihani anak yatim dengan al-Qur’an.
Rupanya, Tuhan mempunyai rencana lebih agung, dengan menempatkan beliau di suatu tempat para kekasih-Nya, yang paling Tuhan suka dan justru jauh lebih terang cahayanya.
sama pengalamannya dengan saya. mungkin, sama-sama berasal dari padusunan di Jawa Barat.