Sambil menunggu waktu “sahur” dan adzan Shubuh di bulan Puasa tahun 2006 lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang teman dari jurusan sejarah salah satu universitas ketika penulis melakukan studi di Bandung. Kiranya perlu untuk mengabadikannya karena mempunyai arti tersendiri dalam sebuah refleksi penulis sebagaimana yang sebagiannya Anda dapat baca sekarang.
Dalam kesempatan itu, saya banyak memperbincangkan (ngaler-ngidul, ngulon wetan) tentang berbagai hal, termasuk sejarah dan budaya daerah. Terdapat satu perbincangan menarik yang kiranya menjadi inti perbincangan saat itu mengenai budaya daerah terutama Sunda. Inti pertanyaannya, kira-kira bagaimana cara memandang peran orang Sunda pada konteks masa kini?
Mungkin karena saat itu nuansa kemahasiswaan penulis masih cukup kuat, sehingga akhir perbincangan itu melahirkan renungan, “andaikan perbincangan ini dilakukan oleh orang Jawa atau Sumatera, mungkin sudah menghasilkan berbagai judul tulisan”, sehingga tak ada lagi pertanyaan kenapa penulis di media-media massa nasional kebanyakan dari orang (mahasiswa) Jogjakarta dan Jakarta. Sementara orang (mahasiswa) Sunda tak banyak tulisannya di media massa.
Perbincangan itu dimulai dari sudut pandang sejarah dan sosio-kultural orang Sunda dewasa ini, sehingga jika perbincangan itu tak diiringi sikap kritis, hampir saja menimbulkan ego kedaerahan (Sunda), seiring dengan perbincangan tentang peran suku Sunda dalam pentas perpolitikan nasional selama ini dan sejarah hubungan Sunda-Jawa masa lalu, terutama kasus “perang bubat”.
Hal ini sebagaimana diakui dalam tulisan Susanto Zuhdi (Merajut Simpul-simpul Perekat Keindonesiaan, Kompas, 25 Agustus 2006), bahwa selain sisi positif, sejarah juga memiliki sisi negatif yang perlu diantisipasi, apalagi yang beragam suku bangsa dan kebudayaan seperti Indonesia. Terdapat banyak fakta sejarah di masyarakat kita yang dapat menjadi faktor disintegratif bangsa.
Faktor pertama, biasanya karena sudut pandang etnosentrisme yang memperlihatkan adanya kontroversi atau bahkan ketegangan yang dapat mendorong konflik tertutup maupun terbuka. Faktor kedua, ketidaktepatan interpretasi yang tidak sesuai dengan konteks zamannya.
Contoh untuk yang disebut pertama adalah karena prasangka kelompok atau suku bangsa, seperti antara etnis Sunda dan Jawa pada kasus tokoh Gajah Mada. Personifikasinya terlihat pada tidak ada nama Jalan Gajah Mada di Bandung.
Contoh ini sebenarnya sudah menjadi klasik, tetapi perlu tinjauan baru. Apakah fakta Perang Bubat, misalnya, demikian saja diungkap tanpa makna yang jelas, khususnya dalam konteks tujuan pendidikan. Untuk akademis pun penulisan sejarah tidak cukup hanya menderetkan fakta dan dipaparkan begitu saja. Interpretasi dan makna apa yang hendak digali dan diungkap merupakan hal prinsip.
Namun, meski “pengucilan” penulisan sejarah seperti penaklukan raja-raja yang tercantum dalam buku pendidikan sejarah lebih ditekankan, tradisi oral masih cukup kuat pengaruhnya dalam pengungkapan sejarah. Oleh karena itu, tulisan ini tidak hanya melihat dari faktor positif tujuan pendidikan, tapi juga sejauh mana relevansi sejarah dapat mengungkapkan makna-makna baru yang postif dalam konteks sosial dan budaya masyarakat masa kini.
“Bubat” dan Budaya Sunda
Tanggung jawab (tugas) seorang sejarawan atau penulis sejarah tidak segampang yang terpikir karena sejarah berhubungan dengan fakta-fakta yang akurat, meski kebenaran sejarah milik pelakunya sendiri. Kesalahan menulis fakta dapat berakibat fatal bagi penggunanya atau yang memiliki hubungan dengan sejarah yang ditulisnya, karena dapat menimbulkan etnosentris bahkan sentimen agama di masyarakat.
Setiap bangsa, negara atau agama tentu mempunyai sejarahnya masing-masing. Sejarah tak selalu berhubungan politik dan kekuasaan, tapi juga dengan sosial, budaya dan sebagainya.
Ketika Max I Dimont menuliskan tentang populasi penduduk Yahudi pada masa sebelum masehi sampai masa keruntuhan kekhalifahan Islam abad ke-17, bukunya berjudul Desain Yahudi atau Kehendak Tuhan banyak mendapat banyak kritikan terutama dari kalangan Islam karena menampilkan sosok Nabi Muhammad yang digambarkan dengan membawa unta.
Peristiwa pembantaian ras Yahudi oleh kekuasaan Nazi Hitler juga banyak menuai kontroversi terutama setelah presiden Iran Ahmadinejad menyatakan bahwa peristiwa itu adalah kepalsuan belaka. Padahal, sebelumnya, di Eropa orang yang menyangkal kejadian itu mendapat kecaman dari pihak pemerintahan setempat.
Begitu pun di Indonesia terdapat sejumlah peristiwa masa lalu, baik yang tertuang dalam tulisan maupun lisan banyak menorehkan “luka sejarah”. Salah satunya cerita tentang “Perang Bubat”.
“Perang Bubat” kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.
Pada mulanya hubungan kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda sangat harmonis. Namun, pada abad ke-14, raja Majapahit Hayam Wuruk sangat tergila-gila terhadap putri raja pajajaran Maharaja Linggabuana bernama Dyah Pitaloka Citaresmi. Konon, ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyan Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Namun, panglima perang Majapahit Patih Gajah Mada rupanya mempunyai insting politik yang tinggi dengan mengadakan manuver-manuver politiknya sehingga kedatangan rombongan dari Sunda yang berjumlah 95 petinggi kerajaan itu dijadikan momentum untuk menguasai Kerajaan Sunda, untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut. Dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan sunda lah yang belum terkuasai.
Dengan maksud itu dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai Sumpah Palapa yang ia ucapkan saat sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Versi lain menyatakan bahwa Gajah Mada membuat strategi seolah-olah bersaing dengan raja Hayam Wuruk untuk memperebutkan Dyah Pitaloka Citaresmi putri Raja Sunda yang cantik. Namun dalam hal ini, apakah kejadian itu tidak menyulut kemelut di tubuh kerajaan Majapahit antara Patih Gajah dan Raja Hayam Wuruk sebelum terjadi pertemuan di “Palagan Bubat”.
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit) (lihat: http://id.wikipedia.org/).
Peristiwa “perang bubat” meski terjadi sekitar 647 tahun yang lalu, mungkin masih menyisakan “dendam sejarah” hingga kini terutama di kalangan masyarakat suku Sunda-Jawa. Hal ini nampak dengan tidak adanya jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Jawa Barat (Bandung).
Sebagian masyarakat Sunda masih memegang tradisi “pantangan” menikah dengan suku Jawa. Bahkan, setelah Sunda masuk Islam, tradisi itu masih melekat dengan “larangan” bagi seorang laki-laki suku Sunda menikah dengan perempuan keutunan Jawa dengan alasan bahwa Jawa lebih tua dari Sunda. Kepercayaan ini nampak dari pengaruh Islam yang menempatkan status keagamaan masyarakat Jawa yang lebih dahulu memeluk Islam.
Tradisi pantangan itu bukan hanya berawal dari kejadian “perang bubat”, tapi juga sudah merambah ke ranah status keagamaan yang dianut para penguasa masa itu. Hal itu menujukan bahwa tradisi etnosentrisme bukan hanya terjadi di sunda tapi juga di Jawa, bahkan daerah-daerah lain di Indonesia, termasuk tingkat lokal di Jawa Barat sendiri, seperti di Bogor bahwa sejak jaman dahulu para pemimpin di Bogor berasal dari daerah luar Bogor meski pun masyarakat sekitar mempercayai bahwa mereka mempunyai hubungan kuat dengan keberadaan kerajaan Pajajaran.
Banyak simpang siur tentang sejarah Sunda. Khususnya tentang tragedi “Palagan Bubat”. Semua ahli sejarah punya versi masing-masing untuk kejadian ini. Banyak literatur dan referensi serta bukti-bukti sejarah yang saling bertolak belakang, mungkin para sejarawan salah menerjemahkan manuskrip-manuskrip itu?
Salah seorang ahli sejarah Sunda berkebangsaan Perancis meragukan adanya “Perang Bubat” sebab berita tersebut ditemukan dalam sebuah manuskrip yang ditemukan di Pulau Bali oleh seorang sejarawan berkebangsaan Belanda. Menurut profesor Perancis itu manuskrip tersebut dihadirkan untuk memecah belah Sunda dan Jawa, sebagai salah satu politik “devide et impera” agar Belanda mudah menggempur keduanya (http://ruhlelana.multiply.com/journal/item/29), karena kedua kerajaan itu masing-masing cukup tangguh, kuat dan punya kekerabatan yang cukup kuat.
Apakah mungkin kerajan yang kolaps dirundung pertikaian internal antara patih dan raja (bahkan patih tak mendapat dukungan raja) membangun kekuatan yang kompak untuk memusnahkan pasukan utama kerajaan Sunda yang kuat? Mana yang menang dan kalah dalam peprangan itu tak banyak dituliskan.
Apakah benar, peperangan yang terjadi dibubuhi dengan alasan hanya karena bermula dari tergila-gilanya in love raja Hayam Wuruk kepada Putri raja Sunda Dyah Pitaloka? Apakah raja-raja dahulu tak memiliki kedewasaan, apabila hanya masalah ‘sepele” (wanita) menjadi rebutan sampai peprangan antar kerajaan? Di zaman sekarang, tawuran antar pemuda karena soal wanita sudah menjadi kasus yang klasik, apalagi hal ini dilakukan oleh sang raja yang tingkat kedewasaannya dan kebijaksanaannya lebih tinggi dari rakyat.
Kalau memang benar (alasan karena wanita), pantas setelah peristiwa “Perang Bubat” kerajaan Pajajaran tidak melakukan pembalasan terhadap kerajaan Majapahit. Pihak Pajajaran mungkin beranggapan buat apa berperang karena soal wanita, meminjam istilah Gus Dur, “gitu aja kok repot”.
Balas dendam bukan lah tradisi ajaran dari Sunda (Pajajaran). Pada saat itu, keyakinan terhadap ajaran Hindu di Sunda masih sangat kuat, bahkan lebih kuat dari pada Jawa. Hal ini, dapat dilihat dari kuatnya kepercayaan masyarakat dari pengaruh penyebaran Islam ke tataran Sunda. Bahkan Robert Hefner (1999), menyatakan bahwa kepercayaan Hindu paling kuat di Jawa terletak di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah (sekitar Ciamis dan Cilacap Sunda).
Sampai akhirnya Islam masuk, faktor alam memperkuat alasan bahwa kawasan Sunda sangat subur untuk berkembangnya tradisi keyakinan agama, baik Hindu maupun Islam. Hal ini dapat dilihat, bahwa kepercayaan terhadap roh-roh leluhur di kawasan Sunda masih kental.
Di Sukabumi masih terlihat acara-acara sesajian terhadap Nyi Roro Kidul dari pada daerah Jawa Tengah (Jogja), bahkan di Bogor yang sudah ter-kota-kan pemberian sesajen masih terlihat meski sudah memasuki agama Islam. Di suatu muara dekat Ponpes Darul Falah Bogor (yang sudah mengenal metode modern), setiap bulan Mulud masih terlihat sesajen berupa kepala kerbau atau kambing dalam “tampah” di pinggir muara.
Begitu juga kepercayaan tarikat di kalangan Sunda sangat kuat, terutama dapat dilihat dengan adanya pesantren Suryalaya dan ajaran kebatinan “Hikmah” di tempat-tempat lain. Bahkan, hingga kini di kawasan Sunda bersubur juga aliran-aliran kerpercayaan baru seperti Hidayatullah, kepercayaan terhadap orang yang mengaku Imam Mahdi di Puncak Bogor, Jemaah Ahmadiyah di Parung, dan baru-baru ini aliran Al-Qiyadah dengan rasulnya Ahmad Musaddeq yang mengaku mendapat wahyu dari “Tuhan” sejak bersemedi di Gunung Bundar Bogor, meski kehadiran isu-isu keagamaan sering mencuat di saat berdekatan dengan Pilkada atau Pemilu.
Peristiwa “bubat” merupakan cerita yang lucu sampai pihak pejabat pemerintah daerah (provinsi) tak mencantumkan jalan Hayam Wuruk atau Gajah Mada di Jawa Barat atau jalan Pajajaran di Jawa Tengah.
Antara benar dan salah, “wanita” (“Dyah Pitaloka”) dalam peristiwa (“perang bubat”) itu merupakan simbol yang dijadikan kesuburan wanita yang berusia 19 tahun dan memiliki daya pikat tinggi.
Dareah Jawa Barat merupakan kawasan sangat subur dengan nuansa pegunungan dan perhutanan. Tentu semua orang punya hasrat untuk mengolahnya, sehingga menjadi rebutan. Oleh karena itu, penduduk Jawa Barat memiliki tingkat keagamaan cukup tinggi, sehingga pemerintah menjadikan semangat Jawa Barat dengan tema “Santri Raksa Desa”.
Hal ini menjadi alasan kenapa Islam sulit masuk ke bumi Pajajaran karena tingkat keagamaan (Hindu) masa itu sangat tinggi. Setelah masuk Islam pun, wilayah subur itu sangat dan pantastis utnuk kegiatan-kegiatan ritual keagamaan seperti tasawuf, thariqat, bahkan segi pemikiran.
Dari kesuburan itu, pantas penduduk Jawa Barat mengalami kepadatan penduduk cukup besar (kedua setelah Jakarta) di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia. Banyak para pendatang dari kawasan lain datang ke Jawa Barat untuk mencari penghidupan.
>> Next
con ker naon manehh
Apakah iya, sebuah Kerajaan sebesar Majapahit masih sempat berfikir untuk menaklukan Kerajaan kecil Sunda yang sebenarnya bukanlah ancaman yang significant, dan saya juga bertanya apakah seorang negawaran besar sekaliber Gajah Mada yang notabene berhasil menguasai sebagian Asia Tenggara pada saat itu sempat melakukan hal keji seperti itu. walaupun visinya adalah untuk tujuan politiknya. Saya kok meragukan kebenaran sejarah tsb.
Saya malah meragukan sejarah tentang wilayah kerajaan Majapahit (dan juga Sriwijaya). Kelihatannya sejarah versi Indonesia itu hanya mencari pembenaran psikologis tentang wilayah negara kesatuan republik Indonesia.
emang benar tuh sampai sekarang gak ada jalan yg namanya Gajah Mada/Majapahit/Hayam wuruk tuh di Jawa Barat, cek aja klo gak percaya… (luka org sunda)
Kalau memang benar Kerajaan Sunda gagah perkasa yang menyebabkan Majapahit tidak dapat menaklukinya, sila singkap sejarah Sriwijaya, bagaimanakah Kerajaan Sunda bisa ditakluki olih Kerajaan Melayu Sriwijaya pada abad ke6M.? Dan Raja Prabu Jayabupati dari Kerajaan Sunda Galuh (1030M.-1042.M.) diPakuan pernah ditakuti olih Kerajaan Melayu Sriwjaya lalu untuk mengelakkan serangan Sriwijaya yang perkasa itu Raja Sunda mengahwinkan putrinya dengan Raja Prabu Sanghyang Ageng? Sedangkan Kerajaan Sriwijaya yang perkasa itu pada akhirnya juga hancur musnah dikalahkan olih Kerajaan Majapahit ( Apakah benar Majapahit tidak mampu menakluk Sunda?).
(Maaf sedikit koreksi) Kalau memang benar Kerajaan Sunda gagah perkasa, yang menyebabkan Majapahit tidak dapat menaklukinya, sila singkap sejarah Sriwijaya, bagaimanakah Kerajaan Sunda bisa ditakluki oleh Kerajaan Melayu Sriwijaya pada abad ke6M.? Dan dizaman Sriwijaya, orang Melayu menjadi momok yang menakutkan bagi Kerajaan Sunda. Untuk mengelakkan serangan Sriwijaya, Kerajaan Sunda Galuh melakukan hubungan pernikahan antara Prabu Sahyang Ageng dengan putri Sriwijaya. Lihatlah, Kerajaan Sriwijaya yang perkasa itu pada akhirnya hancur musnah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit ( Apakah benar Majapahit tidak mampu menakluk Sunda?). Pada hemat saya Majapahit sebenarnya belum pernah ada niat mahu menakluk Sunda secara besar2an atau paksa, ini mungkin disebabkan adanya pertalian darah/bangsa) dan juga mungkin strategi perang seorang pahlawan yang berwibawa lagi bijaksana, kerana untuk menakluk Nusanatara didalam negeri tidaklah boleh ada kacau. Dan perang Bubat bukanlah satu peperangan yang besar2an untuk penaklukkan , bahkan ia terjadi dengan tidak disengajakan yang dicetuskan oleh propokator dalaman yang berniat jahat. Hanya perkahwinan antara Hayam Wuruk dengan Dyah Petaloka merupakan suatu yang bertentangan dengan “sumpah Palapanya yang luhur dan murni itu” Gajah Mada, terpaksa memberi jalan keluar bahawa pengantin perempuan tidak dapat tidak dijadikan isteri boyongan. Namun lamaran juga sudah diterima dengan terbukti adanya rombongan pengantin yang menuju kedaerah Majapahit dipusanggrahan Bubat.
Majapahit punyai vision/wawasan yang jauh dan lebih besar. Penaklukkan keatas Nusantara bukanlah penindasan. Ia mahu kerajaan2 diNusantara berada dibawah naungan panji2 bendera merah putih (Majapahit)yang merupakan kesatuan dan penyatuan. Majapahit lebih peka dari serangan dan penaklukkan dari negara2 besar yang lebih sarakah. Walau saya seorang Islam saya juga tahu bahawa Majapahit menganuti agama Hindu/Buddha yang mengajarkan keharmonian sesama. Dan apabila negara2 diNusantara ini (khususnya Indonesia) tetap bersatu dan tidak pecah belah seperti apa yang berlaku terhadap negara besar seperti Russia yang telah rapoh pasti saya kira Indonesia tetap disegani dimata dunia.
Sunda bukan kerajaan kecil, kekuatannya pun sangat besar dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Kerajaan sunda tidak pernah kalah oleh kerajaan Sriwijaya ataupun Majapahit. Kerajaan sunda memang tidak pernah berambisi untuk menjajah daerah lain, padahal sangat mampu untuk melakukannya, bahkan untuk menaklukan seluruh nusantara seperti yang konon dilakukan oleh sriwijaya dan majapahit. masyarakat sunda adalah masyarakat yang cinta damai, tidak serakah, dan lebih memegang teguh prinsip-prinsip humanisme, sampai saat ini. Saat gejolak masa transisi dari orde baru ke orde reformasi ketika daerah lain bergolak dengan berbagai kerusuhan, di jawa barat yang notabene dekat dengan pusat Indonesia, Jakarta, dan wilayah urban di sekitarnya, tidak terjadi hal itu. Pun ketika pemilihan gubernur maupun walikota dan bupati di Jawa Barat, tidak pernah terjadi silang sengketa yang menyebabkan kerusuhan, semua terselesaikan dengan damai. Pemekaran wilayah yang biasanya di ikuti dengan pro kontra yang berujung kerusuhan di daerah lain pun tidak terjadi, padahal selain pemekaran setingkat kabupaten, Jawa Barat pernah merasakan pemekaran propinsi di tengah situasi reformasi yang sangat panas yang bisa menimbulkan kerusuhan, tetapi sekali lagi di Jawa barat tidak terjadi. Pembauran etnis di Jawa barat termasuk paling tinggi di Indonesia, dengan segala pervbedaan budaya, sifat, watak dan karakteristik lainnya, sangat berpotensi untuk terjadinya singgungan antar etnis, tetapi di Jawa Barat itu tidak terjadi, masyarakat hidup secara harmonis. dan sebagainya. Itu bukti bahwa masyarakat sunda bukan masyarakat yang serakah, dan lebih cinta perdamaian. Sunda adalah tanah dimana sistem kerajaan pertama kali dibangun di Indonesia dengan kerajaan Salakanagaranya. Kerajaan sunda hanya runtuh bukan karena serangan dari kerajaan lain, tetapi melemahnya dari dalam kerajaan sunda itu sendiri. Banyaknya bangsawan dan kerajaan kecil (kerajaan sunda terdiri dari kerajaan2 kecil) mulai menganut Islam, sedangkan raja sunda enggan menjadi Islam karena ketaatannya kepada agama nenek moyang (bukan hindu, tetapi agama sunda yang monoteisme, dengan hyang tunggal sebagai tuhan, sedangkan hindu menganut paham politeisme). Tentang Gajahmada, kita memang setuju sebagai panglima perang yang pintar, tetapi bukan berarti tidak menggunakan cara-cara dan taktik perang yang licik. Raden wijaya, pendiri kerajaan majapahit pun dapat mengalahkan pasukan kubilai khan dengan menyerangnya dari belakang setelah mereka kelelahan menghancurkan kerajaan kadiri setelah berpura-pura menjadi kawan pasukan kubilai khan. Kerajaan kadiri menghancurkan kerajaan singashari karena balas dendam karena kakek jayakatwang dikalahkan ken arok yang kemudian menghancurkan kadiri lama dan mendirikan singhasari. Tidak ada strategi perang yang benar-benar murni jujur, kadang panglima perang harus menggunakan cara-cara tertentu untuk memengkan perang. Masyarakat sunda tidak pernah merasa pernah ditaklukan majapahit, tidak ada prasasti ataupun tulisan kuno yang menyatakan bahwa kerajaan sunda pernah ditaklukan majapahit selain klaim dari majapahit itu sendiri. Kerajaan sunda adalah kerajaan terlama di Indonesia, didirikan sekitar abad ke 2 (salakanagara) dan runtuh di abad ke 16 (pajajaran) berari 14 abad atau 1400 tahun. Tidak ada kerajaan lain yang selama itu di nusantara. Itu pun masih dilanjutkan dengan kesultanan Banten dan Cirebon yang menganggap sebagai pewaris kerajaan sunda. Kesultanan Cirebon bahkan berdiri sampai sekarang. Dibalik semua itu, kita tidak sepantasnya mengecilkan arti sebuah tatanan masyarakat dan budaya yang telah dibangun hingga menjadi besar. Sejarah menjadi acuan hidup, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat yang merasakannya. runtuhnya kerajaan sunda kita anggap sebagai jalan dari Allah sehingga orang sunda adalah etnis dimana komposisi islamnya paling besar di Indonesia, dan memegang teguh itu. Bahakan islam menjadi agama sekaligus budaya masyarakat Sunda. Tidak ada yang boleh mengecilkan sunda.
Jawa barat pernah menjadi negara pasundan di jaman transisi kemerdekaan (RIS), tetapi sekali lagi masyarakat sunda lebih memilih masuk negara Indonesia, bukti bahwa masyarakat sunda mencintai perdamaian dan persatuan di nusantara ini. Padahal Jawa barat sangat berpotensi untuk menjadi negara yang maju dengan berbagai potensi alam, sumberdaya manusia, dan fasilitas yang ada. Indonesia menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat sunda.
Tidak ada yang boleh mengecilkan sunda oleh siapa pun, baik oleh orang bukan sunda apalagi orang sunda sendiri, karena prinsip orang sunda pun tidak mengecilkan siapa pun. Kita memegang prinsip marilah berbangga dengan budaya kita masing-masing, karena budaya yang tercipta dibangun dalam waktu lama dengan berbagai pengalaman masyarakat, semua itu sangat besar artinya bagi identitas bangsa ini. Indonesia tidak dibangun karena kebesaran majapahit, sriwijaya, atau sunda. Tetapi dibangun oleh seluruh komunitas masyarakat di nusantara. Kerajaan kecil di papua atau pulau lainnya, tidak kalah dengan majapahit. Karena majapahit tidak lebih besar dari kerajaan itu dalam membangun Indonesia. mari kita berpikir bahwa indonesia adalah semua, sama, dan sejajar. Orang minangkabau sama dengan orang jawa walaupun jumlah etnisnya berbeda jauh. Kita adalah Indonesia. Dan seyogyanyalah kita harus saling menghormati. Dan saya bangga dengan budaya etnis saya, Sunda. Saya juga bangga dengan bangsa saya, Indonesia. PR kita adalah bagaimana membuat Indonesia maju dan disegani oleh bangsa lain. Indonesia maju berarti aceh, batak, minang, melayu, sunda, jawa, madura, bali, dayak, bugis, toraja, papua, ambon, dsb pun maju.
Tidak ada yang boleh mengecilkan sunda oleh siapa pun, baik oleh orang bukan sunda apalagi orang sunda sendiri, karena prinsip orang sunda pun tidak mengecilkan siapa pun. Saya sangat setuju sekali, tetapi apakah benar kamu dan juga pengarang ini tidak mengecilkan orang lain dengan mengatakan :-
Tentang Gajahmada, kita memang setuju sebagai panglima perang yang pintar, tetapi bukan berarti tidak menggunakan cara-cara dan taktik perang yang licik. Bolih saya katakan itu adalah andaian, beranggapan atau sangka buruk kamu ( juga pengarang sejarah ini ) terhadap gajah mada tentang perang bubat kerana tidak ada saksi yang sah yang tahu dudok perkara sebenar yang dapat diyakini tentang kejadian tersebut, ia tidak begitu dari versi sejarah jawa. Sedang sejarah perang bubat pun masih ada yang meragukan kewujudannya.
Tidak ada strategi perang yang benar-benar murni jujur, Saya sangat setuju sekali, saya mengatakan sumpah palapahnya yang luhur dan murni itu bukan strategi perang yang benar-benar murni jujur, kadang panglima perang harus menggunakan cara-cara tertentu untuk memengkan perang. Saya sangat setuju sekali, strategi atau taktik perang ada yang bolih dikatakan licik dan ada yang tidak.
Raden wijaya, pendiri kerajaan majapahit pun dapat mengalahkan pasukan kubilai khan dengan menyerangnya dari belakang setelah mereka kelelahan menghancurkan kerajaan kadiri setelah berpura-pura menjadi kawan pasukan kubilai khan. Saya kira kalau pun memang benar, konon demikian, saya rasa itu bukan licik, itu adalah strategi dan muslihat perang. Salman al farisi juga menggunakan strategi atau muslihat perang dengan menggali lubang yang mendapat kepujian dari Rasululloh sehingga dapat mengalahkan kaum musyrikin yang begitu banyak jumlahnya tanpa atau dengan sedikit sekali menggunakan pedang yaitu lawan satu dengan satu.
Dan saya kira bukan prinsip orang sunda saja bahkan prinsip orang jawa atau bangsa melayu dari nusantara ini juga demikian rupa tidak suka mengecilkan orang lain. Bukan hanya kerajaan sunda saja bahkan kerajaan Majapahit atau Sriwijaya dari orang jawa dan melayu juga bukan masyarakat serakah. Bukan masyarakat sunda atau orang sunda saja bahkan prinsip orang jawa atau bangsa melayu pun sangat cinta kedamaian. Tidak bolih membalas dendam bukan hanya ajaran kerajaan sunda pajajaran atau masyarakat sunda saja bahkan juga ajaran kerajaan majapahit dari masyarakat jawa dan ajaran kerajaan sriwijaya dari masyarakat melayu.Tetapi sejarah tetap sejarah. Terdapat banyak sebab2 tertentu yang harus terjadi peperangan dan penaklukkan.
Kerajaan sunda adalah kerajaan terlama di Indonesia, didirikan sekitar abad ke 2 (salakanagara) :- namun Orang Jawa lebih terlama mendiami pulau Jawa dan lebih tua dari dari orang Sunda bahkan lebih tua dari kerajaan Sunda ( Salaknagara ) yang berdiri pada abad ke2 msh. itu, (Sila singkap The first Java man / From Java man to Javanese) terdapat peninggalan tengkorak purba di sungai Solo Jawa Timur dan di sungai Sangiran Jawa Tengah sekitar 1.7 tahun dahulu, jauh sebelum satu masehi. Bangsa Arab menamakan seluroh Nusantara ini dengan panggilan Al-Jawi ya itu Orang Jawa atau keturunan Jawa. Mengikut sejarah Islam bangsa Arab adalah bangsa yang paling tertua dimuka bumi ini, sudah lebih mengenal orang Jawa. Kerajaan Salaknagara yang didukung olih orang Sunda terjadi berdiri, itu pun kerana ada raja dari negeri India ( yg bernama Dewawarman ) yang lari kerana kalah perang di negerinya lalu singgah di Jawa Barat dan kemudian mengahwini putri Aki Tirem penguasa yang berstatus sebagai penghulu di Jawa Barat, kerana belum ada yang dinobatkan sebagai raja di pulau Jawa ketika itu.
Menurut Bennard vekkle (sejahrawan terkenal ) Kebudayaan dan kesenian orang Sunda banyak mengambil dari kebudayaan dan kesenian orang Jawa. Menurut Wiwipedia dari free encyclopedia juga demikian bahawa kebudayaan sunda banyak meminjam atau mengambil dari kebudayaan orang jawa. Dan menurut Roger L Dixon, pada abad 20 ini, banyak penglibatan orang sunda dalam pelbagai hal dan peristiwa ,namun secara ukuran (statistic) pada abad ini sejarah orang sunda pada hakikatnya merupakan sejarah orang jawa. Jadi buat apa mencari kelemahan orang lain sedang pada diri kita sendiri banyak kelemahan.
Kerajaan Sunda pernah ditakluki olih Kerajaan Sriwijaya.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
Kerajaan Sriwijaya
1. Di abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipina.[18] Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.[1]
2. Periode Pemerintahan
Kerajaan Sriwijaya berkuasa dari abad ke-7 hingga awal abad ke-13 M, dan mencapai zaman keemasan di era pemerintahan Balaputra Dewa (833-856 M). Kemunduran kerajaan ini berkaitan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Sumatera, dan munculnya kekuatan Singosari dan Majapahit di Pulau Jawa.
3. Wilayah Kekuasaan
Dalam sejarahnya, kerajaan Sriwijaya menguasai bagian barat Nusantara. Salah satu faktor yang menyebabkan Sriwijaya bisa menguasai seluruh bagian barat Nusantara adalah runtuhnya kerajaan Fu-nan di Indocina. Sebelumnya, Fu-nan adalah satu-satunya pemegang kendali di wilayah perairan Selat Malaka. Faktor lainnya adalah kekuatan armada laut Sriwijaya yang mampu menguasai jalur lalu lintas perdagangan antara India dan Cina. Dengan kekuatan armada yang besar, Sriwijaya kemudian melakukan ekspansi wilayah hingga ke pulau Jawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa, kekuasaan Sriwijaya sampai ke Brunei di pulau Borneo.
4. Dari prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK Van der Meulen di Pulau Bangka pada bulan Desember 1892 M, diperoleh petunjuk mengenai Kerajaan Sriwijaya yang sedang berusaha menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun tidak dijelaskan wilayah mana yang dimaksud dengan Bhumi Jawa dalam prasasti itu, beberapa arkeolog meyakini, yang dimaksud Bhumi Jawa itu adalah Kerajaan Tarumanegara di Pantai Utara Jawa Barat.
5. Kerajaan Malayu Dharmasraya
(Dialihkan dari Kerajaan Melayu)
Kerajaan Malayu adalah nama sebuah kerajaan yang pernah ada di Pulau Sumatra. Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas dua periode, yaitu Kerajaan Malayu Tua pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga Tamwa, dan Kerajaan Malayu Muda pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya.Berdasarkan letak ibu kotanya, Kerajaan Malayu Tua atau Malayu Kuno sering pula disebut dengan nama Kerajaan Malayu Jambi, sedangkan Kerajaan Malayu Muda sering pula disebut dengan nama Kerajaan Dharmasraya.
6. Daerah Kekuasaan Dharmasraya
Istilah San-fo-tsi pada zaman Dinasti Sung sekitar tahun 990–an identik dengan Kerajaan Sriwijaya. Namun, ketika Sriwijaya mengalami kehancuran pada tahun 1025, istilah San-fo-tsi masih tetap dipakai dalam naskah-naskah kronik Cina untuk menyebut Pulau Sumatra secara umum.
Dalam naskah berjudul Chu-fan-chi karya Chau Ju-kua tahun 1225 disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan, yaitu Pong-fong, Tong-ya-nong, Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Ki-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an, Ji-lo-ting, Tsien-mai, Pa-ta (Batak ?, Patani ?), Tan-ma-ling, Kia-lo-hi (Kamboja), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-to (Sunda), Kien-pi, Lan-mu-li, dan Si-lan (Sailan ?). Dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Srilangka (Si-lan), Kamboja (Kia-lo-hi), sampai Sunda (Sin-to).
Sumber :
1.Slamet Muljana, Sriwijaya, Yogyakarta: LkiS
2.D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha
Nasional.
3.Ensiklopedi Nasional Indonesia
4.Tim Universitas Riau, Sejarah Riau, Yogyakarta: Adicita
Karya Nusa
5.Rakaryan Sukarjaputra, Kompas: 29 Juni 2001
6.Wikipedia Kredit foto : http://www.budpar.go.id
Sebenarnya bukan Majapahit tdk mampu menaklukkan Sunda. Namun memang Raja Majapahit (Hayam Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda. Secara etika, jelas Hayam Wuruk tdk akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Nama “Hayam” bukanlah kosakata bahasa Jawa, namu kosakata Bahasa Sunda. Silakan cek sendiri di literatur2 tentang adanya keturunan darah Sunda dalam dirinya..
Maaf ini hanya masukan saja.
Gajah Mada memang betul mengabdikan diri ke Majapahit. Akan tetapi menurut penelitian kami, termasuk mengutip manuskrip kuno dari Leiden Belanda, Surabaya, Kuala Lumpur, Kalbar, Sumsel, asalnya bukan dari suku Jawa atau Sunda.
Singkat saja ya, (1) Gajah Mada jarang menggunakan bahasa bertingkat tapi melayu kuno (pada masa itu perbedaan bahasa Jawa, Sunda dan Melayu cukup sedikit) namun setelah Majapahit runtuh, barulah masing-masing negara (kerajaan) perlu punya identitas dengan membedakan logat penutur dan materi bahasanya, salah satunya melalui karya sastra lisan, tulisan dan media siar komunikatif lainnya.
Kiprahnya sebagai bekel, karena Gajah Mada seorang bahari dengan wawasan luas tentang navigasi kelautan. Sehingga hapal mengenai kota-kota kuno dan cara menjangkaunya (sehingga mengerti ke jalan eks Kesultanan Sulu-Philipina, kajian dari sejarah besar Brunei Darussalam).
(2) Gajah Mada menyelamatkan Raja Majapahit ke-2 karena memiliki darah Melayu (dari rahim Dara Pethak dan Raden Wijaya), karena Gajah Mada di beberapa hikayat Melayu ada menyebut dari Melayu Paloh (sambas, Kalbar), ada juga dari bekas kerajaan Sriwijaya (Sumsel).
(3) Semua staf Gajah Mada orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar ada saya pegang)
(4) di Kerajaan Melayu Tanjungpura yang menjadi bawahan Singasari, khususnya ada cerita Ocang (menikah dengan Dara Punio) dan itu dianggap menjadi ayah Gajah Mada. Di Desa Beringin, Kecamatan Tumbang Titi, masyarakat Dayak Pesaguan menganggap itu makam Gajah Mada setelah purna tugas di Majapahit. Walaupun negarakertagama mengatakan Gajah Mada sudah gering saat Hayam Wuruk berkunjung. Itu dianggap salah dan catatan mennipu, karena Hayam Wuruk minta Gajah Mada jadi patih lagi setelah dipecat karena Perang Bubat, Gajah Mada tidak mau. Kenapa sejarawan orang Jawa yang saya hargai kesukuannya yang besar dan unik dalam kesantunan itu, menganggap Gajah Mada mau lagi dipinta jadi panglima. Dalam penelitian kami, tertolak jika Gajah Mada mau lagi. “Lidah dah dibuang kenapa pula dijilat leka”.
(5) Gajah Mada meninggal sebagai pertapa Buddha bukan Hindu yang menjadi agama Raja Majapahit.
(6) Gajah Mada menolak kasta dan bahasa bertingkat tapi mendukung bahasa santun via kiasan maupun budi bahasa.
(7) Gajah Mada menolak status Parahyangan atas tanah Jawa bagian Barat (maksudnya, raja-raja di Jateng-Jatim, tak akan pernah berperang dengan kerajaan di Jawa bagian barat karena dianggap itu tanah para dewa atau tanah yang ditinggikan), Karena anak-pinak dinasti-dinasti sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah jawa bagian barat tersebut. Karena Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya dari turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurukan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), Kalingga dan barulah di masa SAnjaya hanya mau memerintah di Jateng dan berdirilah Mataram Kuno). Alasannya di tanah tersebut sering terjadi perang saudara. Sedangkan kekuasaan di Jawa bagian barat diserahkan anaknya dan saudara mudanya. Mungkin inilah orang Jawa menganggap lebih tua daripada suku Sunda di zaman modern ini. Di Atlas Sejarah Nusantara kami punya kronikal dari tahun saka sudah kami buat jadi tahun masehi, dengan bantuan perhitungan candra (bulan) bukan hanya surya.
(8) Wajar kalau Gajah Mada ingin Sunda takluk, bukan sebagai saudara Majapahit karena Raden Wijaya menurut babat Tanah Jawi dari Pajajaran (bukan klaim naskah sunda ya.
(9) Dayak Pesaguan mengklaim Gajah Mada dari anak Ocang (Panglima Singasari yang menikah dengan perempuan Dayak setempat, Dara Punio. Lalu balik ke Jawa lagi untuk mengambil garam buat acara menuba, rupanya sudah berganti Majapahit). Di Tumbang Titi masyarakat Dayak sudah bunyinkan gong dan gamelan berhari-hari terpaksa menuba ikan terdahulu. Ocang yang datang lagi ke Tanjungpura-Kalbar terlambat, marah maka garam satu kapal ditumpahkan. Sampai saat sekarang padang pasir di tengah rimba kalimantan di Desa Beringin, dianggap karena garam yang ditumpahkan Ocang. (banyak gelar dari pengawal Ocang dan Kejawa-jawaan karena Ocang memang orang Jawa), sampai saat ini masih dipakai.
(10) kalau versi Melayu Paloh-Sambas, Gajah Mada berasal dari sana karena ada hikayat Gajah Mede. Orang Melayu Paloh SAmbas walau berbatasan dengan SArawak (Malaysia Timur), maka menyebut e seperti e milik orang Betawi, bukan e seperti milik orang Melayu Pontianak-ibukota Provinsi Kalbar atau Riau-Malaysia).
(11) Kenapa Gajah Mada dianggap lahir dari tanah jajahan Singasari di Sumatera, karena semua staf Gajah Mada orang Sumtera (mereka berperang di sana-sini Raja Jawa nyaman saja terima upeti). Kajian naskah kunonya ada.
(12)Mahesa Anabrang yang menurunkan Adityawarman (Kerajaan Pagaruyung-Minangkabau yang musnah oleh Belanda semasa Perang Paderi 1837), merupakan ayah dari beberapa stafnya Gajah Mada. Istri Mahesa Anabrang, Dara Jingga disebut Bundo Kanduang orang orang Minangkabau. Mahesa Anabrang balik dari ekspedisi Pamalayu (diutus menaklukkan kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya oleh Raja Kertanegara dalam kerja kurun 1275-1292) waktu balik eh Singasari sudah runtuh, maka militernya disuruh mengabdi ke Raden Wijaya (Majapahit). Mahesa Anabrang tewas di tangan Lembu Sora yang memberontak Majapahit. Akhirnya Adityawarman, anaknya yang tak diberi tahu ihwal kematiannya ayahnya di Jawa, marah. Maka militer Majapahit dibantai di Padang Sibusuk (tempat dan prasastinya masih ada, boleh Bapak terjemahkan kalau bisa bacanya he he guraulah bang ni), dan sejak saat itu orang Minang tak mau dikawini orang Jawa (pada masa itu saja 1300-an). Karena banyak anak kyai yang menikah dengan perempuan Miang di era kolonial dan republik ini. Prasasti ekspedisi Pamalayu Singasari masih ada, dan batunya di museumlah. Masak saya bawa ke Kalbar he he
(13) Dah dulu ya, kenapa saya tahu banyak. Karena saya melanjutkan penelitian Prof Mohammad Yamin (suku Minang) tentang Majapahit dan Gajah Mada sejak tauhn 1945, kala itu untuk menyusun konsep nusantara jelang sidang BPUPKI 18 Agustus 1945. Jangan olok Moh Yamin ya, dia pahlawan nasional negeri kita men.
(14) Selain saya masih mahasiswa hukum di Universitas Tanjungpura Pontianak, juga sudah empat tahun jadi wartawan harian Equator, koran terbesar kedua di Kalbar setelah Pontianak POst (keduanya group Jawa POst). Kajian sejarah saya pernah di sajikan di Kuala Lumpur, Kuching (Malaysia Timur), Labuan (Malay) dan Brunei. Di Jawa tak tau tak ada ngundang, lagian di Jawa dah banyak orang sejarah he hee..
1) Nama tidak selalunya, dan tidak semestinya identik dengan Bangsa nya. Namun nama menjadi identik dengan peranan dan kewibawaannya. Di zaman dahulu kala banyak orang dari masyarakat kita menamakan mengikut apa yang terdapat disekelilingnya, keindahan dan kehaibatannya seperti nama2 dedaunan, nama bunga2an, nama2 tuhan atau dewa2, nama binatang2 dan sebagainyanya. Di zaman Hindu pula banyak masyarakat di Nusanatara ini (khusus nya dipulau Jawa ) kebiasaannya memakai nama2 yang ada kait mengait dengan ugamanya, Hindu (bukan bangsanya) dengan sesuatu tujuan atau pengharapan. Begitu juga di zaman agama Buddah dan seterusnya di zaman agama Islam.
Dari segi kosakata bahasa terdapat banyak juga bahasa Sunda dan bahasa Melayu yang mengambil dari bahasa Jawa yang tidak dipertikaikan contohnya gamelan Sunda dan gamelan Malaysia. Gamelan itu dari kosakata bahasa Jawa. Dan seperti contoh Nusantara. Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna nusa (pulau) dan antara (lain).Istilah ini pertama kali tertulis pada beberapa pustaka dari literatur berbahasa Jawa Pertengahan (dari periode Jawa Timur, i.e. Kediri sampai Majapahit). Selanjutnya muncul konsep yang diperbaharui, yang dikemukakan oleh Ernest Douwes Dekker di awal abad ke-20 dan masih dipakai hingga sekarang untuk menyatakan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia.Malaysia ikut menggunakan istilah ini dipakai sebagai padanan Kepulauan Melayu (Malay Archipelago) dan memiliki muatan nasionalistik.
Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyan Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya bergelar Jaka Susuruh dari Pajajaran dianggap lemah kebenarannya, 1)terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki. 2) Dan jika Raja Majapahit benar2 punyai darah keturunan Sunda, dan raja2 diJawa tengah dan Timur sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah Jawa bagian barat yg di anggap tanah para dewa yang ditinggikan karena anak-pinak dinasti2 Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurunkan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), pasti Kerajaan2 besar yang ada di Jawa Tengah dan Timur tidak berdiam diri dan berpelok tuboh. Setidak2nya membangunkan semula martabat kerajaan Sunda dengan pelbagai hal dan cara dan harus sungkem (berbakti) sebagaimana anak berbakti dengan orang tuanya, tidak berlaku halnya malahan Majapahit bangga dengan penaklukkan Sunda. 3) Di Singapura ini, bapa saya asal Jawa Tengah Kebumen pernah menceritakan dari buyut2 bapa saya dan juga kebanyakkan berita yang sama saya dapat dari semua kawan2 yang orang tuanya asal Jawa Tengah seperti Kendal, kebumen, Jogja dan sebagainya sama mengatakan bahawa orang Sunda itu asalnya orang Jawa yang menyebabkan Jawa lebih tua dari Sunda dari cerita sandi mengikut cerita lisan dari para leluhur kami, (bukan anggapan orang Jawa di modern ini ya). (maaf, cerita ini tidak dapat kami bentangkan sebagaimana telah diamanahkan kesemua orang2 tua kami orang2 dari Jawa Tengah) Jadi bagaimanakah pulau yang bernama pulau Jawa yang mayoritas penduduknya orang Jawa dijadikan penduduk kedua dari hal sejarah dan kebesarannya berbanding minoriti orang Sunda yang hanya ada di bahagian barat itu yang kemudiannya menjadi besar dengan lahirnya Salaknagara. Jadi kebangkitan Kerajaan2 di Jawa Tengah dan Timur tidak lain hanya untuk mengambil alih atau mengambil balik hak dan martabatnya. Demikian juga terhadap Sriwijaya yang pernah dikatakan pernah menakluk bumi Jawa bagian barat. Dengan kebangkitan kerajaan2 besar diJawa Tengah dan Timur dengan sendirinya menyebabkan melemahnya kerajaan Sunda dan disamping Majapahit dapat mengalahkan kerajaan Sriwijaya untuk menebus maruahnya. Menurut sejarahwan terkenal Bennard Vekkle, Jawa Barat merupakan yang terkebelakang dipulau Jawa hingga abad 11. Kerajaan2 besar bangkit di Jawa Tengah dan Timur, sedikit sekali yang berubah diantara suku Sunda.Orang Sunda memiliki raja di zaman Airlangga kira2 tahun 1020m. Raja2 Sunda semakin berada dibawah kekuasaan kerajaan2 Jawa yang besar dan akhirnya tertakluk oleh kerajaan2 besar jawa.
2)Dari hal Gajah Mada, seperti yang anda katakan jika Raja Majapahit (Hayam Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda ( yg dianggap lemah kebenarannya itu) Secara etika, jelas Hayam Wuruk tidak akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Begitu juga dgn Gajah Mada. Jika Gajah Mada berasal orang Melayu Paloh bekas dari Kerajaan Sriwijaya (SumSel), atau orang Bali dan sebagainya(kecuali dari orang Jawa) kesemuanya ini tidak masuk akal dengan sebab ucapan dari Sumpah Palapanya yang bermaksud mengalahkan dan menaklukkan nusantara. Cuba semak dengan teliti ucapannya yang berbahasa Jawa itu““Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa” artinya :“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”. Arti dari ucapan beliau “apabila sudah kalah Nusantara” itu jelas bermakna berperang, menundukkan untuk ditaklukki. Dan berperang itu pasti ada pertumpahan darah yang menyebabkan banyak jiwa terkorban, kemusnahan harta benda dan lain2nya. Jadi gajah mada bolih dikatakan orang yang tidak siuman atau orang gila karena memerang dan menghancurkan tempat dimana Ia berasal dan memerangi leluhurnya. Namun jika tidak sampai terjadi peperangan, ini bermakna kerajaan2 lain di Nusantara ini dapat ditundukkan dengan arti kata lainnya mereka siap akur untuk menjadi negara2 bawahan Kerajaan Majapahit di sebabkan kebesaran dan kekuatan kerajaan MajaPahit itu sendiri bersama rajanya (Hayam Wuruk), Maha patihnya (Gajah Mada) dan kekuatan panglima2 lainnya, dan kekuatan keekonomiannya dan bala tenteranya disamping Gaja Mada sebagai orang yang memainkan peran besar terhadap kejayaan Majapahit.
(3) Semua staf Gajah Mada yang dikatakan orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar pada pendapat saya memang sudah wajarlah demikian, pasti Gajah mada akan menggunakan orang2 jajahannya, setidak2nya orang yang sudah siap mahu berkhidmat bersatu dengan kerajaan Majapahit selain dari orang Jawa itu sendiri yang majoritas penduduk terbesar Indonesia.
4) Maaf, bukan saya ta’sub dengan Kehaibatan Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit, setakat mengagumi saja. Gajah Mada juga menghilangkan diri entah kemana dan Kerajaan Majapahit juga runtuh akhirnya dengan kehadiran Islam dipulau Jawa yang diperjuangkan oleh Wali Songo dan dengan berdirinya Kerajaan Demak.
Untuk A.Hamid B. Salikin perlu diketahui raja-raja majapahit dan keturunannya adalah keturunan seorang BAJINGAN, GARONG, PERAMPOK yakni Ken Arok, Dia nyuri istri orang ken dedes dari tunggul ametung, maka sifat-sifat raja jawa ga jauh berbeda dengan bapak moyangnya Ken Arok, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, mengikuti syahwat kekuasaan, kerajaan Majapahit ga jauh berbeda dengan Belanda, yang satu imperialis berambut pirang, satu lagi imperialis berambut hitam.
Perlu diketahui majapahit dua kali nyerang PAJAJARAN tapi kalah, akhirnya pake cara2 bubat, itu bukann ksatria bung itu cara2 banci. kalau kamu mengannggap itu suatu kejeniusan strategi, maka saya maklum itu cara-cara keturunan Ken Arok dalam mencapai tujuan, benar-benar suatu kebudayaan keturunan seorang Gali
Untuk Joko Dolog – Alhamdulillah, terima kasih atas pandangannya tetapi itu mungkin anggapan kamu atau sejarah versi kamu saya kira. Dan maaf saya tidak akan melayani orang yang penasaran hingga hilang akal. Sekian , terima kasih.
Tanda tanda orang Sunda salah satunya seperti Pasukan Batalion Siliwangi waktu awal di dirikannya kerena mereka dididik dalam tradisi asli masarakat sunda. Hirup sauyunan tara pahiri hiri silih pikanyaah teu ingngis belapati Mereka ramah, sabar, ikhlas buat mendirikan negri tercinta ini INDONESIA, tentu tidak akan ada negri ini tanpa keberadaannya. Ini adalah hasil spirit yang telah menjadi adat masarakat Sunda warisan dari leluhur Raja raja Sunda yang Adil Bijaksana anu ngadidik jati diri Sunda lebih dari 1400 tahun (200M – 1600M). Walaupun kepemimpinan dari Sunda sekarang ini kurang tampil di pemerintahan Nasianal karena orang Sunda teu haweuk (serakah) padahal Kalau mau mereka bisa dan mampu dan pasti akan lebih adil. Orang Sunda pun tak pernah mengklaim kondisi ini. Bila melihat ke kenyataan sejarah sebenarnya kalau mau bicara jujur pendiri kerajaan Majapahit adalah ORANG SUNDA juga bisa jadi asalnya gubernur dari pakuan untuk wilayah timur jawa dimana beliau yang membabat hutan dan menemukan buah maja yang pahit itulah mulanya Kerajaan Majapahit, Karena yang namanya Jawa itu awalnya adalah sebutan untuk Kerajaan yang pertama ada dan itu adanya hanya di Jawa barat waktu itu namanya Tarumanegara, dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa wajar bila kerajaan Sunda memperluas wilayah (bukan menjajah tetapi memperluas kanyaahsayang sesama agama/Hindu) ketimur Jawa dari serangan asing, dan mengirimkan utusannya. bukti lainnya banyak kosa kata bahasa Jawa keraton yang sama dengan bahasa Sunda Halus itulah sisa sisanya Dimuat pula dalam naskah lain Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, (artinya)
“Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan (Jawa Barat).
Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa : Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kublay Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.
Jadi jelas bahwa Tak mungkin Majapahit akan menyerang Kerajaan Pajajaran secara langsung kerena mereka adalah keluarga besar Pajajaran juga (segan ) Walaupun terjadinya perang Bubat itu adalalah tindakan serampangan yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada yang kurang jelas asal usulnya dan secara serampangan menyerang iringan pengantin (gak lucu gitu) tanpa persetujuan Raja Hayam Wuruk. Itu pula salah satu yang menyebabkan kemunduran Maja Pahit disamping datangnya Islam. Wallahu alam,
Kenapa pulau jawa tidak dinamakan pulau sunda sebab orang jawa sudah lebih dahulu mendiami dan bertamaddun..
Adanya nama “JAWA” sebelum adanya kerajaan salaknagara dan tarumanagara..
Dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa berarti nama jawa sudah lebih dahulu dikenal bukan kerajaannya…
Hasil kajian dari kebanyakkan sejarahwan menetapkan bahawa Wilayah INDONESIA adalah peninggalan Kerajaan Majapahit sebuah kerajaan JAWA…yang berada daerah Jawa Timur…
Sememangnya raja majapahit adalah dari putra mahkota sunda dari pajajaran namun tidak mampu menukar wilayah kerajaan majapahit atau nama majapahit sebagai kebesaran kerajaan sunda atau kerana segan dengan orang jawa…wallohu wa’lam…
Sudahlah kalau kita berdebat kusir seperti ini tidak akan habis habisnya. Masing masing ingin mempertahankan pendapatnya, baik memang…dari perbedaan pendapat akan muncul pemikiran brilian…tapi seperti penulis pertama katakan kita harus hindari etnosentris. Sejarah dapat berubah seiring ditemukannya fakta fakta baru seperti penemuan prasasti dsb. Bagi saya Kutai, Tarumanegara, Melayu (Jambi),Sriwijaya,Mataram Kuno, Singosari,Majapahit,Goa Makassar dsb telah mengambil perannya masing masing dalam sejarah Nusantara dan sebenarnya telah saling bersaudara akibat perkawinan antar mereka sebut saja Sanjaya Mataram Kuno masih keturunan Sunda, yang akhirnya keturunannya mendirikan kerajaan kerajaan di Jawa Timur, Syailandra (Sriwijaya) menurunkan Raja-Raja Mataram Kuno lalu Adityawarman (Pagaruyung) masih keturunan Rd. Wijaya, Parameswara (Sriwijaya) mendirikan Kerajaan Malaka dan menurunkan Raja Raja Melayu di Semenanjung Malaysia, Raja Raja Goa juga menurunkan Raja Raja Melayu di Semenanjung. Nusantara terpisah karena penajajahan Belanda dan Inggris. Nusantara adalah wilayah kepulauan dengan ragam etnis terbesar di dunia, mudah tersulut konflik. Alangkah bijak jika kita tidak merasa lebih dominan terhadap etnis lain, karena we are connected with blood, Sayang memang beberapa wilayah Nusantara tidak bisa bergabung ke dalam wilayah Indonesia karena politik bagi bagi kue bangsa bangsa yang letaknya ribuan kilometer dari Nusantara. Kesimpulannya kita jangan merasa lebih dominan dari etnis lain semua adalah setara. Ini adalah peninggalan orde baru yang salah kaprah dalam memandang kebangsaan kita.
salam sejahtera
terima kasih atas saran dan kritiknya semoga semuanya dapat bersahabat