Refleksi: Sunda Dulu dan Kini

Sambil menunggu waktu “sahur” dan adzan Shubuh di bulan Puasa tahun 2006 lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang teman dari jurusan sejarah salah satu universitas ketika penulis melakukan studi di Bandung. Kiranya perlu untuk mengabadikannya karena mempunyai arti tersendiri dalam sebuah refleksi penulis sebagaimana yang sebagiannya Anda dapat baca sekarang.

Dalam kesempatan itu, saya banyak memperbincangkan (ngaler-ngidul, ngulon wetan) tentang berbagai hal, termasuk sejarah dan budaya daerah. Terdapat satu perbincangan menarik yang kiranya menjadi inti perbincangan saat itu mengenai budaya daerah terutama Sunda. Inti pertanyaannya, kira-kira bagaimana cara memandang peran orang Sunda pada konteks masa kini?

Mungkin karena saat itu nuansa kemahasiswaan penulis masih cukup kuat, sehingga akhir perbincangan itu melahirkan renungan, “andaikan perbincangan ini dilakukan oleh orang Jawa atau Sumatera, mungkin sudah menghasilkan berbagai judul tulisan”, sehingga tak ada lagi pertanyaan kenapa penulis di media-media massa nasional kebanyakan dari orang (mahasiswa) Jogjakarta dan Jakarta. Sementara orang (mahasiswa) Sunda tak banyak tulisannya di media massa.

Perbincangan itu dimulai dari sudut pandang sejarah dan sosio-kultural orang Sunda dewasa ini, sehingga jika perbincangan itu tak diiringi sikap kritis, hampir saja menimbulkan ego kedaerahan (Sunda), seiring dengan perbincangan tentang peran suku Sunda dalam pentas perpolitikan nasional selama ini dan sejarah hubungan Sunda-Jawa masa lalu, terutama kasus “perang bubat”.

Hal ini sebagaimana diakui dalam tulisan Susanto Zuhdi (Merajut Simpul-simpul Perekat Keindonesiaan, Kompas, 25 Agustus 2006), bahwa selain sisi positif, sejarah juga memiliki sisi negatif yang perlu diantisipasi, apalagi yang beragam suku bangsa dan kebudayaan seperti Indonesia. Terdapat banyak fakta sejarah di masyarakat kita yang dapat menjadi faktor disintegratif bangsa.

Faktor pertama, biasanya karena sudut pandang etnosentrisme yang memperlihatkan adanya kontroversi atau bahkan ketegangan yang dapat mendorong konflik tertutup maupun terbuka. Faktor kedua, ketidaktepatan interpretasi yang tidak sesuai dengan konteks zamannya.

Contoh untuk yang disebut pertama adalah karena prasangka kelompok atau suku bangsa, seperti antara etnis Sunda dan Jawa pada kasus tokoh Gajah Mada. Personifikasinya terlihat pada tidak ada nama Jalan Gajah Mada di Bandung.

Contoh ini sebenarnya sudah menjadi klasik, tetapi perlu tinjauan baru. Apakah fakta Perang Bubat, misalnya, demikian saja diungkap tanpa makna yang jelas, khususnya dalam konteks tujuan pendidikan. Untuk akademis pun penulisan sejarah tidak cukup hanya menderetkan fakta dan dipaparkan begitu saja. Interpretasi dan makna apa yang hendak digali dan diungkap merupakan hal prinsip.

Namun, meski “pengucilan” penulisan sejarah seperti penaklukan raja-raja yang tercantum dalam buku pendidikan sejarah lebih ditekankan, tradisi oral masih cukup kuat pengaruhnya dalam pengungkapan sejarah. Oleh karena itu, tulisan ini tidak hanya melihat dari faktor positif tujuan pendidikan, tapi juga sejauh mana relevansi sejarah dapat mengungkapkan makna-makna baru yang postif dalam konteks sosial dan budaya masyarakat masa kini.

“Bubat” dan Budaya Sunda

Tanggung jawab (tugas) seorang sejarawan atau penulis sejarah tidak segampang yang terpikir karena sejarah berhubungan dengan fakta-fakta yang akurat, meski kebenaran sejarah milik pelakunya sendiri. Kesalahan menulis fakta dapat berakibat fatal bagi penggunanya atau yang memiliki hubungan dengan sejarah yang ditulisnya, karena dapat menimbulkan etnosentris bahkan sentimen agama di masyarakat.

Setiap bangsa, negara atau agama tentu mempunyai sejarahnya masing-masing. Sejarah tak selalu berhubungan politik dan kekuasaan, tapi juga dengan sosial, budaya dan sebagainya.

Ketika Max I Dimont menuliskan tentang populasi penduduk Yahudi pada masa sebelum masehi sampai masa keruntuhan kekhalifahan Islam abad ke-17, bukunya berjudul Desain Yahudi atau Kehendak Tuhan banyak mendapat banyak kritikan terutama dari kalangan Islam karena menampilkan sosok Nabi Muhammad yang digambarkan dengan membawa unta.

Peristiwa pembantaian ras Yahudi oleh kekuasaan Nazi Hitler juga banyak menuai kontroversi terutama setelah presiden Iran Ahmadinejad menyatakan bahwa peristiwa itu adalah kepalsuan belaka. Padahal, sebelumnya, di Eropa orang yang menyangkal kejadian itu mendapat kecaman dari pihak pemerintahan setempat.

Begitu pun di Indonesia terdapat sejumlah peristiwa masa lalu, baik yang tertuang dalam tulisan maupun lisan banyak menorehkan “luka sejarah”. Salah satunya cerita tentang “Perang Bubat”.

“Perang Bubat” kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

Pada mulanya hubungan kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda sangat harmonis. Namun, pada abad ke-14, raja Majapahit Hayam Wuruk sangat tergila-gila terhadap putri raja pajajaran Maharaja Linggabuana bernama Dyah Pitaloka Citaresmi. Konon, ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyan Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.

Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Namun, panglima perang Majapahit Patih Gajah Mada rupanya mempunyai insting politik yang tinggi dengan mengadakan manuver-manuver politiknya sehingga kedatangan rombongan dari Sunda yang berjumlah 95 petinggi kerajaan itu dijadikan momentum untuk menguasai Kerajaan Sunda, untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut. Dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan sunda lah yang belum terkuasai.

Dengan maksud itu dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai Sumpah Palapa yang ia ucapkan saat sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyatakan bahwa Gajah Mada membuat strategi seolah-olah bersaing dengan raja Hayam Wuruk untuk memperebutkan Dyah Pitaloka Citaresmi putri Raja Sunda yang cantik. Namun dalam hal ini, apakah kejadian itu tidak menyulut kemelut di tubuh kerajaan Majapahit antara Patih Gajah dan Raja Hayam Wuruk sebelum terjadi pertemuan di “Palagan Bubat”.

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit) (lihat: http://id.wikipedia.org/).

Peristiwa “perang bubat” meski terjadi sekitar 647 tahun yang lalu, mungkin masih menyisakan “dendam sejarah” hingga kini terutama di kalangan masyarakat suku Sunda-Jawa. Hal ini nampak dengan tidak adanya jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Jawa Barat (Bandung).

Sebagian masyarakat Sunda masih memegang tradisi “pantangan” menikah dengan suku Jawa. Bahkan, setelah Sunda masuk Islam, tradisi itu masih melekat dengan “larangan” bagi seorang laki-laki suku Sunda menikah dengan perempuan keutunan Jawa dengan alasan bahwa Jawa lebih tua dari Sunda. Kepercayaan ini nampak dari pengaruh Islam yang menempatkan status keagamaan masyarakat Jawa yang lebih dahulu memeluk Islam.

Tradisi pantangan itu bukan hanya berawal dari kejadian “perang bubat”, tapi juga sudah merambah ke ranah status keagamaan yang dianut para penguasa masa itu. Hal itu menujukan bahwa tradisi etnosentrisme bukan hanya terjadi di sunda tapi juga di Jawa, bahkan daerah-daerah lain di Indonesia, termasuk tingkat lokal di Jawa Barat sendiri, seperti di Bogor bahwa sejak jaman dahulu para pemimpin di Bogor berasal dari daerah luar Bogor meski pun masyarakat sekitar mempercayai bahwa mereka mempunyai hubungan kuat dengan keberadaan kerajaan Pajajaran.

Banyak simpang siur tentang sejarah Sunda. Khususnya tentang tragedi “Palagan Bubat”. Semua ahli sejarah punya versi masing-masing untuk kejadian ini. Banyak literatur dan referensi serta bukti-bukti sejarah yang saling bertolak belakang, mungkin para sejarawan salah menerjemahkan manuskrip-manuskrip itu?

Salah seorang ahli sejarah Sunda berkebangsaan Perancis meragukan adanya “Perang Bubat” sebab berita tersebut ditemukan dalam sebuah manuskrip yang ditemukan di Pulau Bali oleh seorang sejarawan berkebangsaan Belanda. Menurut profesor Perancis itu manuskrip tersebut dihadirkan untuk memecah belah Sunda dan Jawa, sebagai salah satu politik “devide et impera” agar Belanda mudah menggempur keduanya (http://ruhlelana.multiply.com/journal/item/29), karena kedua kerajaan itu masing-masing cukup tangguh, kuat dan punya kekerabatan yang cukup kuat.

Apakah mungkin kerajan yang kolaps dirundung pertikaian internal antara patih dan raja (bahkan patih tak mendapat dukungan raja) membangun kekuatan yang kompak untuk memusnahkan pasukan utama kerajaan Sunda yang kuat? Mana yang menang dan kalah dalam peprangan itu tak banyak dituliskan.

Apakah benar, peperangan yang terjadi dibubuhi dengan alasan hanya karena bermula dari tergila-gilanya in love raja Hayam Wuruk kepada Putri raja Sunda Dyah Pitaloka? Apakah raja-raja dahulu tak memiliki kedewasaan, apabila hanya masalah ‘sepele” (wanita) menjadi rebutan sampai peprangan antar kerajaan? Di zaman sekarang, tawuran antar pemuda karena soal wanita sudah menjadi kasus yang klasik, apalagi hal ini dilakukan oleh sang raja yang tingkat kedewasaannya dan kebijaksanaannya lebih tinggi dari rakyat.

Kalau memang benar (alasan karena wanita), pantas setelah peristiwa “Perang Bubat” kerajaan Pajajaran tidak melakukan pembalasan terhadap kerajaan Majapahit. Pihak Pajajaran mungkin beranggapan buat apa berperang karena soal wanita, meminjam istilah Gus Dur, “gitu aja kok repot”.

Balas dendam bukan lah tradisi ajaran dari Sunda (Pajajaran). Pada saat itu, keyakinan terhadap ajaran Hindu di Sunda masih sangat kuat, bahkan lebih kuat dari pada Jawa. Hal ini, dapat dilihat dari kuatnya kepercayaan masyarakat dari pengaruh penyebaran Islam ke tataran Sunda. Bahkan Robert Hefner (1999), menyatakan bahwa kepercayaan Hindu paling kuat di Jawa terletak di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah (sekitar Ciamis dan Cilacap Sunda).

Sampai akhirnya Islam masuk, faktor alam memperkuat alasan bahwa kawasan Sunda sangat subur untuk berkembangnya tradisi keyakinan agama, baik Hindu maupun Islam. Hal ini dapat dilihat, bahwa kepercayaan terhadap roh-roh leluhur di kawasan Sunda masih kental.

Di Sukabumi masih terlihat acara-acara sesajian terhadap Nyi Roro Kidul dari pada daerah Jawa Tengah (Jogja), bahkan di Bogor yang sudah ter-kota-kan pemberian sesajen masih terlihat meski sudah memasuki agama Islam. Di suatu muara dekat Ponpes Darul Falah Bogor (yang sudah mengenal metode modern), setiap bulan Mulud masih terlihat sesajen berupa kepala kerbau atau kambing dalam “tampah” di pinggir muara.

Begitu juga kepercayaan tarikat di kalangan Sunda sangat kuat, terutama dapat dilihat dengan adanya pesantren Suryalaya dan ajaran kebatinan “Hikmah” di tempat-tempat lain. Bahkan, hingga kini di kawasan Sunda bersubur juga aliran-aliran kerpercayaan baru seperti Hidayatullah, kepercayaan terhadap orang yang mengaku Imam Mahdi di Puncak Bogor, Jemaah Ahmadiyah di Parung, dan baru-baru ini aliran Al-Qiyadah dengan rasulnya Ahmad Musaddeq yang mengaku mendapat wahyu dari “Tuhan” sejak bersemedi di Gunung Bundar Bogor, meski kehadiran isu-isu keagamaan sering mencuat di saat berdekatan dengan Pilkada atau Pemilu.

Peristiwa “bubat” merupakan cerita yang lucu sampai pihak pejabat pemerintah daerah (provinsi) tak mencantumkan jalan Hayam Wuruk atau Gajah Mada di Jawa Barat atau jalan Pajajaran di Jawa Tengah.

Antara benar dan salah, “wanita” (“Dyah Pitaloka”) dalam peristiwa (“perang bubat”) itu merupakan simbol yang dijadikan kesuburan wanita yang berusia 19 tahun dan memiliki daya pikat tinggi.

Dareah Jawa Barat merupakan kawasan sangat subur dengan nuansa pegunungan dan perhutanan. Tentu semua orang punya hasrat untuk mengolahnya, sehingga menjadi rebutan. Oleh karena itu, penduduk Jawa Barat memiliki tingkat keagamaan cukup tinggi, sehingga pemerintah menjadikan semangat Jawa Barat dengan tema “Santri Raksa Desa”.

Hal ini menjadi alasan kenapa Islam sulit masuk ke bumi Pajajaran karena tingkat keagamaan (Hindu) masa itu sangat tinggi. Setelah masuk Islam pun, wilayah subur itu sangat dan pantastis utnuk kegiatan-kegiatan ritual keagamaan seperti tasawuf, thariqat, bahkan segi pemikiran.

Dari kesuburan itu, pantas penduduk Jawa Barat mengalami kepadatan penduduk cukup besar (kedua setelah Jakarta) di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia. Banyak para pendatang dari kawasan lain datang ke Jawa Barat untuk mencari penghidupan.

>> Next

Perihal Najmu
Seeking The Indonesia Soul

44 Responses to Refleksi: Sunda Dulu dan Kini

  1. embun santana mengatakan:

    con ker naon manehh

  2. wong Tlacap mengatakan:

    Apakah iya, sebuah Kerajaan sebesar Majapahit masih sempat berfikir untuk menaklukan Kerajaan kecil Sunda yang sebenarnya bukanlah ancaman yang significant, dan saya juga bertanya apakah seorang negawaran besar sekaliber Gajah Mada yang notabene berhasil menguasai sebagian Asia Tenggara pada saat itu sempat melakukan hal keji seperti itu. walaupun visinya adalah untuk tujuan politiknya. Saya kok meragukan kebenaran sejarah tsb.

  3. wangi mengatakan:

    Saya malah meragukan sejarah tentang wilayah kerajaan Majapahit (dan juga Sriwijaya). Kelihatannya sejarah versi Indonesia itu hanya mencari pembenaran psikologis tentang wilayah negara kesatuan republik Indonesia.

  4. teh Dyah Pitaloka we miss you... mengatakan:

    emang benar tuh sampai sekarang gak ada jalan yg namanya Gajah Mada/Majapahit/Hayam wuruk tuh di Jawa Barat, cek aja klo gak percaya… (luka org sunda)

    • dildaar80 mengatakan:

      Beda dengan Jawa Barat, di Jawa tengah ada lho jalan Siliwangi..

      Cuma setahu saya di Jateng dan Jatim jg tidak ada nama jalan Tarumanegara, jalan Galuh Pakuan, jalan Dyah Pitaloka, jalan Baduga Maharaja, jalan Dipati Ukur dst..
      Jalan Aditiawarman, jalan Hang Tuah dst..

      Kenapa?

      BUkan urusan dendam mendendam…

      Ya iyaalah..khan bukan tokoh daerahnya…

      he he he..

      peace…men..

  5. A.Hamid mengatakan:

    Kalau memang benar Kerajaan Sunda gagah perkasa yang menyebabkan Majapahit tidak dapat menaklukinya, sila singkap sejarah Sriwijaya, bagaimanakah Kerajaan Sunda bisa ditakluki olih Kerajaan Melayu Sriwijaya pada abad ke6M.? Dan Raja Prabu Jayabupati dari Kerajaan Sunda Galuh (1030M.-1042.M.) diPakuan pernah ditakuti olih Kerajaan Melayu Sriwjaya lalu untuk mengelakkan serangan Sriwijaya yang perkasa itu Raja Sunda mengahwinkan putrinya dengan Raja Prabu Sanghyang Ageng? Sedangkan Kerajaan Sriwijaya yang perkasa itu pada akhirnya juga hancur musnah dikalahkan olih Kerajaan Majapahit ( Apakah benar Majapahit tidak mampu menakluk Sunda?).

  6. A.Hamid B Salikin mengatakan:

    (Maaf sedikit koreksi) Kalau memang benar Kerajaan Sunda gagah perkasa, yang menyebabkan Majapahit tidak dapat menaklukinya, sila singkap sejarah Sriwijaya, bagaimanakah Kerajaan Sunda bisa ditakluki oleh Kerajaan Melayu Sriwijaya pada abad ke6M.? Dan dizaman Sriwijaya, orang Melayu menjadi momok yang menakutkan bagi Kerajaan Sunda. Untuk mengelakkan serangan Sriwijaya, Kerajaan Sunda Galuh melakukan hubungan pernikahan antara Prabu Sahyang Ageng dengan putri Sriwijaya. Lihatlah, Kerajaan Sriwijaya yang perkasa itu pada akhirnya hancur musnah dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit ( Apakah benar Majapahit tidak mampu menakluk Sunda?). Pada hemat saya Majapahit sebenarnya belum pernah ada niat mahu menakluk Sunda secara besar2an atau paksa, ini mungkin disebabkan adanya pertalian darah/bangsa) dan juga mungkin strategi perang seorang pahlawan yang berwibawa lagi bijaksana, kerana untuk menakluk Nusanatara didalam negeri tidaklah boleh ada kacau. Dan perang Bubat bukanlah satu peperangan yang besar2an untuk penaklukkan , bahkan ia terjadi dengan tidak disengajakan yang dicetuskan oleh propokator dalaman yang berniat jahat. Hanya perkahwinan antara Hayam Wuruk dengan Dyah Petaloka merupakan suatu yang bertentangan dengan “sumpah Palapanya yang luhur dan murni itu” Gajah Mada, terpaksa memberi jalan keluar bahawa pengantin perempuan tidak dapat tidak dijadikan isteri boyongan. Namun lamaran juga sudah diterima dengan terbukti adanya rombongan pengantin yang menuju kedaerah Majapahit dipusanggrahan Bubat.

  7. A.Hamid B. Salikin mengatakan:

    Majapahit punyai vision/wawasan yang jauh dan lebih besar. Penaklukkan keatas Nusantara bukanlah penindasan. Ia mahu kerajaan2 diNusantara berada dibawah naungan panji2 bendera merah putih (Majapahit)yang merupakan kesatuan dan penyatuan. Majapahit lebih peka dari serangan dan penaklukkan dari negara2 besar yang lebih sarakah. Walau saya seorang Islam saya juga tahu bahawa Majapahit menganuti agama Hindu/Buddha yang mengajarkan keharmonian sesama. Dan apabila negara2 diNusantara ini (khususnya Indonesia) tetap bersatu dan tidak pecah belah seperti apa yang berlaku terhadap negara besar seperti Russia yang telah rapoh pasti saya kira Indonesia tetap disegani dimata dunia.

  8. Cakrawinata mengatakan:

    Sunda bukan kerajaan kecil, kekuatannya pun sangat besar dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Kerajaan sunda tidak pernah kalah oleh kerajaan Sriwijaya ataupun Majapahit. Kerajaan sunda memang tidak pernah berambisi untuk menjajah daerah lain, padahal sangat mampu untuk melakukannya, bahkan untuk menaklukan seluruh nusantara seperti yang konon dilakukan oleh sriwijaya dan majapahit. masyarakat sunda adalah masyarakat yang cinta damai, tidak serakah, dan lebih memegang teguh prinsip-prinsip humanisme, sampai saat ini. Saat gejolak masa transisi dari orde baru ke orde reformasi ketika daerah lain bergolak dengan berbagai kerusuhan, di jawa barat yang notabene dekat dengan pusat Indonesia, Jakarta, dan wilayah urban di sekitarnya, tidak terjadi hal itu. Pun ketika pemilihan gubernur maupun walikota dan bupati di Jawa Barat, tidak pernah terjadi silang sengketa yang menyebabkan kerusuhan, semua terselesaikan dengan damai. Pemekaran wilayah yang biasanya di ikuti dengan pro kontra yang berujung kerusuhan di daerah lain pun tidak terjadi, padahal selain pemekaran setingkat kabupaten, Jawa Barat pernah merasakan pemekaran propinsi di tengah situasi reformasi yang sangat panas yang bisa menimbulkan kerusuhan, tetapi sekali lagi di Jawa barat tidak terjadi. Pembauran etnis di Jawa barat termasuk paling tinggi di Indonesia, dengan segala pervbedaan budaya, sifat, watak dan karakteristik lainnya, sangat berpotensi untuk terjadinya singgungan antar etnis, tetapi di Jawa Barat itu tidak terjadi, masyarakat hidup secara harmonis. dan sebagainya. Itu bukti bahwa masyarakat sunda bukan masyarakat yang serakah, dan lebih cinta perdamaian. Sunda adalah tanah dimana sistem kerajaan pertama kali dibangun di Indonesia dengan kerajaan Salakanagaranya. Kerajaan sunda hanya runtuh bukan karena serangan dari kerajaan lain, tetapi melemahnya dari dalam kerajaan sunda itu sendiri. Banyaknya bangsawan dan kerajaan kecil (kerajaan sunda terdiri dari kerajaan2 kecil) mulai menganut Islam, sedangkan raja sunda enggan menjadi Islam karena ketaatannya kepada agama nenek moyang (bukan hindu, tetapi agama sunda yang monoteisme, dengan hyang tunggal sebagai tuhan, sedangkan hindu menganut paham politeisme). Tentang Gajahmada, kita memang setuju sebagai panglima perang yang pintar, tetapi bukan berarti tidak menggunakan cara-cara dan taktik perang yang licik. Raden wijaya, pendiri kerajaan majapahit pun dapat mengalahkan pasukan kubilai khan dengan menyerangnya dari belakang setelah mereka kelelahan menghancurkan kerajaan kadiri setelah berpura-pura menjadi kawan pasukan kubilai khan. Kerajaan kadiri menghancurkan kerajaan singashari karena balas dendam karena kakek jayakatwang dikalahkan ken arok yang kemudian menghancurkan kadiri lama dan mendirikan singhasari. Tidak ada strategi perang yang benar-benar murni jujur, kadang panglima perang harus menggunakan cara-cara tertentu untuk memengkan perang. Masyarakat sunda tidak pernah merasa pernah ditaklukan majapahit, tidak ada prasasti ataupun tulisan kuno yang menyatakan bahwa kerajaan sunda pernah ditaklukan majapahit selain klaim dari majapahit itu sendiri. Kerajaan sunda adalah kerajaan terlama di Indonesia, didirikan sekitar abad ke 2 (salakanagara) dan runtuh di abad ke 16 (pajajaran) berari 14 abad atau 1400 tahun. Tidak ada kerajaan lain yang selama itu di nusantara. Itu pun masih dilanjutkan dengan kesultanan Banten dan Cirebon yang menganggap sebagai pewaris kerajaan sunda. Kesultanan Cirebon bahkan berdiri sampai sekarang. Dibalik semua itu, kita tidak sepantasnya mengecilkan arti sebuah tatanan masyarakat dan budaya yang telah dibangun hingga menjadi besar. Sejarah menjadi acuan hidup, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat yang merasakannya. runtuhnya kerajaan sunda kita anggap sebagai jalan dari Allah sehingga orang sunda adalah etnis dimana komposisi islamnya paling besar di Indonesia, dan memegang teguh itu. Bahakan islam menjadi agama sekaligus budaya masyarakat Sunda. Tidak ada yang boleh mengecilkan sunda.

  9. Cakrawinata mengatakan:

    Jawa barat pernah menjadi negara pasundan di jaman transisi kemerdekaan (RIS), tetapi sekali lagi masyarakat sunda lebih memilih masuk negara Indonesia, bukti bahwa masyarakat sunda mencintai perdamaian dan persatuan di nusantara ini. Padahal Jawa barat sangat berpotensi untuk menjadi negara yang maju dengan berbagai potensi alam, sumberdaya manusia, dan fasilitas yang ada. Indonesia menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat sunda.

  10. Cakrawinata mengatakan:

    Tidak ada yang boleh mengecilkan sunda oleh siapa pun, baik oleh orang bukan sunda apalagi orang sunda sendiri, karena prinsip orang sunda pun tidak mengecilkan siapa pun. Kita memegang prinsip marilah berbangga dengan budaya kita masing-masing, karena budaya yang tercipta dibangun dalam waktu lama dengan berbagai pengalaman masyarakat, semua itu sangat besar artinya bagi identitas bangsa ini. Indonesia tidak dibangun karena kebesaran majapahit, sriwijaya, atau sunda. Tetapi dibangun oleh seluruh komunitas masyarakat di nusantara. Kerajaan kecil di papua atau pulau lainnya, tidak kalah dengan majapahit. Karena majapahit tidak lebih besar dari kerajaan itu dalam membangun Indonesia. mari kita berpikir bahwa indonesia adalah semua, sama, dan sejajar. Orang minangkabau sama dengan orang jawa walaupun jumlah etnisnya berbeda jauh. Kita adalah Indonesia. Dan seyogyanyalah kita harus saling menghormati. Dan saya bangga dengan budaya etnis saya, Sunda. Saya juga bangga dengan bangsa saya, Indonesia. PR kita adalah bagaimana membuat Indonesia maju dan disegani oleh bangsa lain. Indonesia maju berarti aceh, batak, minang, melayu, sunda, jawa, madura, bali, dayak, bugis, toraja, papua, ambon, dsb pun maju.

  11. A.Hamid mengatakan:

    Tidak ada yang boleh mengecilkan sunda oleh siapa pun, baik oleh orang bukan sunda apalagi orang sunda sendiri, karena prinsip orang sunda pun tidak mengecilkan siapa pun. Saya sangat setuju sekali, tetapi apakah benar kamu dan juga pengarang ini tidak mengecilkan orang lain dengan mengatakan :-
    Tentang Gajahmada, kita memang setuju sebagai panglima perang yang pintar, tetapi bukan berarti tidak menggunakan cara-cara dan taktik perang yang licik. Bolih saya katakan itu adalah andaian, beranggapan atau sangka buruk kamu ( juga pengarang sejarah ini ) terhadap gajah mada tentang perang bubat kerana tidak ada saksi yang sah yang tahu dudok perkara sebenar yang dapat diyakini tentang kejadian tersebut, ia tidak begitu dari versi sejarah jawa. Sedang sejarah perang bubat pun masih ada yang meragukan kewujudannya.
    Tidak ada strategi perang yang benar-benar murni jujur, Saya sangat setuju sekali, saya mengatakan sumpah palapahnya yang luhur dan murni itu bukan strategi perang yang benar-benar murni jujur, kadang panglima perang harus menggunakan cara-cara tertentu untuk memengkan perang. Saya sangat setuju sekali, strategi atau taktik perang ada yang bolih dikatakan licik dan ada yang tidak.
    Raden wijaya, pendiri kerajaan majapahit pun dapat mengalahkan pasukan kubilai khan dengan menyerangnya dari belakang setelah mereka kelelahan menghancurkan kerajaan kadiri setelah berpura-pura menjadi kawan pasukan kubilai khan. Saya kira kalau pun memang benar, konon demikian, saya rasa itu bukan licik, itu adalah strategi dan muslihat perang. Salman al farisi juga menggunakan strategi atau muslihat perang dengan menggali lubang yang mendapat kepujian dari Rasululloh sehingga dapat mengalahkan kaum musyrikin yang begitu banyak jumlahnya tanpa atau dengan sedikit sekali menggunakan pedang yaitu lawan satu dengan satu.
    Dan saya kira bukan prinsip orang sunda saja bahkan prinsip orang jawa atau bangsa melayu dari nusantara ini juga demikian rupa tidak suka mengecilkan orang lain. Bukan hanya kerajaan sunda saja bahkan kerajaan Majapahit atau Sriwijaya dari orang jawa dan melayu juga bukan masyarakat serakah. Bukan masyarakat sunda atau orang sunda saja bahkan prinsip orang jawa atau bangsa melayu pun sangat cinta kedamaian. Tidak bolih membalas dendam bukan hanya ajaran kerajaan sunda pajajaran atau masyarakat sunda saja bahkan juga ajaran kerajaan majapahit dari masyarakat jawa dan ajaran kerajaan sriwijaya dari masyarakat melayu.Tetapi sejarah tetap sejarah. Terdapat banyak sebab2 tertentu yang harus terjadi peperangan dan penaklukkan.

  12. Cakra Alam mengatakan:

    Kerajaan sunda adalah kerajaan terlama di Indonesia, didirikan sekitar abad ke 2 (salakanagara) :- namun Orang Jawa lebih terlama mendiami pulau Jawa dan lebih tua dari dari orang Sunda bahkan lebih tua dari kerajaan Sunda ( Salaknagara ) yang berdiri pada abad ke2 msh. itu, (Sila singkap The first Java man / From Java man to Javanese) terdapat peninggalan tengkorak purba di sungai Solo Jawa Timur dan di sungai Sangiran Jawa Tengah sekitar 1.7 tahun dahulu, jauh sebelum satu masehi. Bangsa Arab menamakan seluroh Nusantara ini dengan panggilan Al-Jawi ya itu Orang Jawa atau keturunan Jawa. Mengikut sejarah Islam bangsa Arab adalah bangsa yang paling tertua dimuka bumi ini, sudah lebih mengenal orang Jawa. Kerajaan Salaknagara yang didukung olih orang Sunda terjadi berdiri, itu pun kerana ada raja dari negeri India ( yg bernama Dewawarman ) yang lari kerana kalah perang di negerinya lalu singgah di Jawa Barat dan kemudian mengahwini putri Aki Tirem penguasa yang berstatus sebagai penghulu di Jawa Barat, kerana belum ada yang dinobatkan sebagai raja di pulau Jawa ketika itu.
    Menurut Bennard vekkle (sejahrawan terkenal ) Kebudayaan dan kesenian orang Sunda banyak mengambil dari kebudayaan dan kesenian orang Jawa. Menurut Wiwipedia dari free encyclopedia juga demikian bahawa kebudayaan sunda banyak meminjam atau mengambil dari kebudayaan orang jawa. Dan menurut Roger L Dixon, pada abad 20 ini, banyak penglibatan orang sunda dalam pelbagai hal dan peristiwa ,namun secara ukuran (statistic) pada abad ini sejarah orang sunda pada hakikatnya merupakan sejarah orang jawa. Jadi buat apa mencari kelemahan orang lain sedang pada diri kita sendiri banyak kelemahan.

  13. Naga Sakti mengatakan:

    Kerajaan Sunda pernah ditakluki olih Kerajaan Sriwijaya.
    Kerajaan Sriwijaya :-(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
    1. Di abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipina.[18] Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.[1]
    2. Periode Pemerintahan
    Kerajaan Sriwijaya berkuasa dari abad ke-7 hingga awal abad ke-13 M, dan mencapai zaman keemasan di era pemerintahan Balaputra Dewa (833-856 M). Kemunduran kerajaan ini berkaitan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Sumatera, dan munculnya kekuatan Singosari dan Majapahit di Pulau Jawa.
    3. Wilayah Kekuasaan
    Dalam sejarahnya, kerajaan Sriwijaya menguasai bagian barat Nusantara. Salah satu faktor yang menyebabkan Sriwijaya bisa menguasai seluruh bagian barat Nusantara adalah runtuhnya kerajaan Fu-nan di Indocina. Sebelumnya, Fu-nan adalah satu-satunya pemegang kendali di wilayah perairan Selat Malaka. Faktor lainnya adalah kekuatan armada laut Sriwijaya yang mampu menguasai jalur lalu lintas perdagangan antara India dan Cina. Dengan kekuatan armada yang besar, Sriwijaya kemudian melakukan ekspansi wilayah hingga ke pulau Jawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa, kekuasaan Sriwijaya sampai ke Brunei di pulau Borneo.
    4. Dari prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK Van der Meulen di Pulau Bangka pada bulan Desember 1892 M, diperoleh petunjuk mengenai Kerajaan Sriwijaya yang sedang berusaha menaklukkan Bumi Jawa. Meskipun tidak dijelaskan wilayah mana yang dimaksud dengan Bhumi Jawa dalam prasasti itu, beberapa arkeolog meyakini, yang dimaksud Bhumi Jawa itu adalah Kerajaan Tarumanegara di Pantai Utara Jawa Barat.
    5. Kerajaan Malayu Dharmasraya :-(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
    (Dialihkan dari Kerajaan Melayu)
    Kerajaan Malayu adalah nama sebuah kerajaan yang pernah ada di Pulau Sumatra. Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas dua periode, yaitu Kerajaan Malayu Tua pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga Tamwa, dan Kerajaan Malayu Muda pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya.Berdasarkan letak ibu kotanya, Kerajaan Malayu Tua atau Malayu Kuno sering pula disebut dengan nama Kerajaan Malayu Jambi, sedangkan Kerajaan Malayu Muda sering pula disebut dengan nama Kerajaan Dharmasraya.
    6. Daerah Kekuasaan Dharmasraya
    Istilah San-fo-tsi pada zaman Dinasti Sung sekitar tahun 990–an identik dengan Kerajaan Sriwijaya. Namun, ketika Sriwijaya mengalami kehancuran pada tahun 1025, istilah San-fo-tsi masih tetap dipakai dalam naskah-naskah kronik Cina untuk menyebut Pulau Sumatra secara umum.
    Dalam naskah berjudul Chu-fan-chi karya Chau Ju-kua tahun 1225 disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan, yaitu Pong-fong, Tong-ya-nong, Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Ki-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an, Ji-lo-ting, Tsien-mai, Pa-ta (Batak ?, Patani ?), Tan-ma-ling, Kia-lo-hi (Kamboja), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-to (Sunda), Kien-pi, Lan-mu-li, dan Si-lan (Sailan ?). Dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Srilangka (Si-lan), Kamboja (Kia-lo-hi), sampai Sunda (Sin-to).
    Sumber :
    1.Slamet Muljana, Sriwijaya, Yogyakarta: LkiS
    2.D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha
    Nasional.
    3.Ensiklopedi Nasional Indonesia
    4.Tim Universitas Riau, Sejarah Riau, Yogyakarta: Adicita
    Karya Nusa
    5.Rakaryan Sukarjaputra, Kompas: 29 Juni 2001
    6.Wikipedia Kredit foto : http://www.budpar.go.id

  14. hidayat mengatakan:

    Sebenarnya bukan Majapahit tdk mampu menaklukkan Sunda. Namun memang Raja Majapahit (Hayam Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda. Secara etika, jelas Hayam Wuruk tdk akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Nama “Hayam” bukanlah kosakata bahasa Jawa, namu kosakata Bahasa Sunda. Silakan cek sendiri di literatur2 tentang adanya keturunan darah Sunda dalam dirinya..

    • dildaar80 mengatakan:

      kata Hayam dapat Hidayat temukan dalam bahasa Jawa jaman Hayam Wuruk yaitu bhs Kawi yg dipengaruhi sangat banyak oleh bhs Sansekerta..

  15. hidayat mengatakan:

    Maaf ini hanya masukan saja.
    Gajah Mada memang betul mengabdikan diri ke Majapahit. Akan tetapi menurut penelitian kami, termasuk mengutip manuskrip kuno dari Leiden Belanda, Surabaya, Kuala Lumpur, Kalbar, Sumsel, asalnya bukan dari suku Jawa atau Sunda.
    Singkat saja ya, (1) Gajah Mada jarang menggunakan bahasa bertingkat tapi melayu kuno (pada masa itu perbedaan bahasa Jawa, Sunda dan Melayu cukup sedikit) namun setelah Majapahit runtuh, barulah masing-masing negara (kerajaan) perlu punya identitas dengan membedakan logat penutur dan materi bahasanya, salah satunya melalui karya sastra lisan, tulisan dan media siar komunikatif lainnya.
    Kiprahnya sebagai bekel, karena Gajah Mada seorang bahari dengan wawasan luas tentang navigasi kelautan. Sehingga hapal mengenai kota-kota kuno dan cara menjangkaunya (sehingga mengerti ke jalan eks Kesultanan Sulu-Philipina, kajian dari sejarah besar Brunei Darussalam).
    (2) Gajah Mada menyelamatkan Raja Majapahit ke-2 karena memiliki darah Melayu (dari rahim Dara Pethak dan Raden Wijaya), karena Gajah Mada di beberapa hikayat Melayu ada menyebut dari Melayu Paloh (sambas, Kalbar), ada juga dari bekas kerajaan Sriwijaya (Sumsel).
    (3) Semua staf Gajah Mada orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar ada saya pegang)
    (4) di Kerajaan Melayu Tanjungpura yang menjadi bawahan Singasari, khususnya ada cerita Ocang (menikah dengan Dara Punio) dan itu dianggap menjadi ayah Gajah Mada. Di Desa Beringin, Kecamatan Tumbang Titi, masyarakat Dayak Pesaguan menganggap itu makam Gajah Mada setelah purna tugas di Majapahit. Walaupun negarakertagama mengatakan Gajah Mada sudah gering saat Hayam Wuruk berkunjung. Itu dianggap salah dan catatan mennipu, karena Hayam Wuruk minta Gajah Mada jadi patih lagi setelah dipecat karena Perang Bubat, Gajah Mada tidak mau. Kenapa sejarawan orang Jawa yang saya hargai kesukuannya yang besar dan unik dalam kesantunan itu, menganggap Gajah Mada mau lagi dipinta jadi panglima. Dalam penelitian kami, tertolak jika Gajah Mada mau lagi. “Lidah dah dibuang kenapa pula dijilat leka”.
    (5) Gajah Mada meninggal sebagai pertapa Buddha bukan Hindu yang menjadi agama Raja Majapahit.
    (6) Gajah Mada menolak kasta dan bahasa bertingkat tapi mendukung bahasa santun via kiasan maupun budi bahasa.
    (7) Gajah Mada menolak status Parahyangan atas tanah Jawa bagian Barat (maksudnya, raja-raja di Jateng-Jatim, tak akan pernah berperang dengan kerajaan di Jawa bagian barat karena dianggap itu tanah para dewa atau tanah yang ditinggikan), Karena anak-pinak dinasti-dinasti sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah jawa bagian barat tersebut. Karena Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya dari turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurukan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), Kalingga dan barulah di masa SAnjaya hanya mau memerintah di Jateng dan berdirilah Mataram Kuno). Alasannya di tanah tersebut sering terjadi perang saudara. Sedangkan kekuasaan di Jawa bagian barat diserahkan anaknya dan saudara mudanya. Mungkin inilah orang Jawa menganggap lebih tua daripada suku Sunda di zaman modern ini. Di Atlas Sejarah Nusantara kami punya kronikal dari tahun saka sudah kami buat jadi tahun masehi, dengan bantuan perhitungan candra (bulan) bukan hanya surya.
    (8) Wajar kalau Gajah Mada ingin Sunda takluk, bukan sebagai saudara Majapahit karena Raden Wijaya menurut babat Tanah Jawi dari Pajajaran (bukan klaim naskah sunda ya.
    (9) Dayak Pesaguan mengklaim Gajah Mada dari anak Ocang (Panglima Singasari yang menikah dengan perempuan Dayak setempat, Dara Punio. Lalu balik ke Jawa lagi untuk mengambil garam buat acara menuba, rupanya sudah berganti Majapahit). Di Tumbang Titi masyarakat Dayak sudah bunyinkan gong dan gamelan berhari-hari terpaksa menuba ikan terdahulu. Ocang yang datang lagi ke Tanjungpura-Kalbar terlambat, marah maka garam satu kapal ditumpahkan. Sampai saat sekarang padang pasir di tengah rimba kalimantan di Desa Beringin, dianggap karena garam yang ditumpahkan Ocang. (banyak gelar dari pengawal Ocang dan Kejawa-jawaan karena Ocang memang orang Jawa), sampai saat ini masih dipakai.
    (10) kalau versi Melayu Paloh-Sambas, Gajah Mada berasal dari sana karena ada hikayat Gajah Mede. Orang Melayu Paloh SAmbas walau berbatasan dengan SArawak (Malaysia Timur), maka menyebut e seperti e milik orang Betawi, bukan e seperti milik orang Melayu Pontianak-ibukota Provinsi Kalbar atau Riau-Malaysia).
    (11) Kenapa Gajah Mada dianggap lahir dari tanah jajahan Singasari di Sumatera, karena semua staf Gajah Mada orang Sumtera (mereka berperang di sana-sini Raja Jawa nyaman saja terima upeti). Kajian naskah kunonya ada.
    (12)Mahesa Anabrang yang menurunkan Adityawarman (Kerajaan Pagaruyung-Minangkabau yang musnah oleh Belanda semasa Perang Paderi 1837), merupakan ayah dari beberapa stafnya Gajah Mada. Istri Mahesa Anabrang, Dara Jingga disebut Bundo Kanduang orang orang Minangkabau. Mahesa Anabrang balik dari ekspedisi Pamalayu (diutus menaklukkan kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya oleh Raja Kertanegara dalam kerja kurun 1275-1292) waktu balik eh Singasari sudah runtuh, maka militernya disuruh mengabdi ke Raden Wijaya (Majapahit). Mahesa Anabrang tewas di tangan Lembu Sora yang memberontak Majapahit. Akhirnya Adityawarman, anaknya yang tak diberi tahu ihwal kematiannya ayahnya di Jawa, marah. Maka militer Majapahit dibantai di Padang Sibusuk (tempat dan prasastinya masih ada, boleh Bapak terjemahkan kalau bisa bacanya he he guraulah bang ni), dan sejak saat itu orang Minang tak mau dikawini orang Jawa (pada masa itu saja 1300-an). Karena banyak anak kyai yang menikah dengan perempuan Miang di era kolonial dan republik ini. Prasasti ekspedisi Pamalayu Singasari masih ada, dan batunya di museumlah. Masak saya bawa ke Kalbar he he
    (13) Dah dulu ya, kenapa saya tahu banyak. Karena saya melanjutkan penelitian Prof Mohammad Yamin (suku Minang) tentang Majapahit dan Gajah Mada sejak tauhn 1945, kala itu untuk menyusun konsep nusantara jelang sidang BPUPKI 18 Agustus 1945. Jangan olok Moh Yamin ya, dia pahlawan nasional negeri kita men.
    (14) Selain saya masih mahasiswa hukum di Universitas Tanjungpura Pontianak, juga sudah empat tahun jadi wartawan harian Equator, koran terbesar kedua di Kalbar setelah Pontianak POst (keduanya group Jawa POst). Kajian sejarah saya pernah di sajikan di Kuala Lumpur, Kuching (Malaysia Timur), Labuan (Malay) dan Brunei. Di Jawa tak tau tak ada ngundang, lagian di Jawa dah banyak orang sejarah he hee..

  16. Misteri mengatakan:

    1) Nama tidak selalunya, dan tidak semestinya identik dengan Bangsa nya. Namun nama menjadi identik dengan peranan dan kewibawaannya. Di zaman dahulu kala banyak orang dari masyarakat kita menamakan mengikut apa yang terdapat disekelilingnya, keindahan dan kehaibatannya seperti nama2 dedaunan, nama bunga2an, nama2 tuhan atau dewa2, nama binatang2 dan sebagainyanya. Di zaman Hindu pula banyak masyarakat di Nusanatara ini (khusus nya dipulau Jawa ) kebiasaannya memakai nama2 yang ada kait mengait dengan ugamanya, Hindu (bukan bangsanya) dengan sesuatu tujuan atau pengharapan. Begitu juga di zaman agama Buddah dan seterusnya di zaman agama Islam.
    Dari segi kosakata bahasa terdapat banyak juga bahasa Sunda dan bahasa Melayu yang mengambil dari bahasa Jawa yang tidak dipertikaikan contohnya gamelan Sunda dan gamelan Malaysia. Gamelan itu dari kosakata bahasa Jawa. Dan seperti contoh Nusantara. Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna nusa (pulau) dan antara (lain).Istilah ini pertama kali tertulis pada beberapa pustaka dari literatur berbahasa Jawa Pertengahan (dari periode Jawa Timur, i.e. Kediri sampai Majapahit). Selanjutnya muncul konsep yang diperbaharui, yang dikemukakan oleh Ernest Douwes Dekker di awal abad ke-20 dan masih dipakai hingga sekarang untuk menyatakan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia.Malaysia ikut menggunakan istilah ini dipakai sebagai padanan Kepulauan Melayu (Malay Archipelago) dan memiliki muatan nasionalistik.
    Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyan Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya bergelar Jaka Susuruh dari Pajajaran dianggap lemah kebenarannya, 1)terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki. 2) Dan jika Raja Majapahit benar2 punyai darah keturunan Sunda, dan raja2 diJawa tengah dan Timur sejak Mataram Kuno hingga Singasari memang menghargai tanah Jawa bagian barat yg di anggap tanah para dewa yang ditinggikan karena anak-pinak dinasti2 Wangsa Sanjaya yang didirikan Sanjaya sebenarnya turunan Salakanegara (sekitar 150 M) dan Ajisaka (sekitar 78 M) yang kemudian menurunkan Taruma Negara (pecah jadi Kerajaan Sunda dan Ker Galuh), pasti Kerajaan2 besar yang ada di Jawa Tengah dan Timur tidak berdiam diri dan berpelok tuboh. Setidak2nya membangunkan semula martabat kerajaan Sunda dengan pelbagai hal dan cara dan harus sungkem (berbakti) sebagaimana anak berbakti dengan orang tuanya, tidak berlaku halnya malahan Majapahit bangga dengan penaklukkan Sunda. 3) Di Singapura ini, bapa saya asal Jawa Tengah Kebumen pernah menceritakan dari buyut2 bapa saya dan juga kebanyakkan berita yang sama saya dapat dari semua kawan2 yang orang tuanya asal Jawa Tengah seperti Kendal, kebumen, Jogja dan sebagainya sama mengatakan bahawa orang Sunda itu asalnya orang Jawa yang menyebabkan Jawa lebih tua dari Sunda dari cerita sandi mengikut cerita lisan dari para leluhur kami, (bukan anggapan orang Jawa di modern ini ya). (maaf, cerita ini tidak dapat kami bentangkan sebagaimana telah diamanahkan kesemua orang2 tua kami orang2 dari Jawa Tengah) Jadi bagaimanakah pulau yang bernama pulau Jawa yang mayoritas penduduknya orang Jawa dijadikan penduduk kedua dari hal sejarah dan kebesarannya berbanding minoriti orang Sunda yang hanya ada di bahagian barat itu yang kemudiannya menjadi besar dengan lahirnya Salaknagara. Jadi kebangkitan Kerajaan2 di Jawa Tengah dan Timur tidak lain hanya untuk mengambil alih atau mengambil balik hak dan martabatnya. Demikian juga terhadap Sriwijaya yang pernah dikatakan pernah menakluk bumi Jawa bagian barat. Dengan kebangkitan kerajaan2 besar diJawa Tengah dan Timur dengan sendirinya menyebabkan melemahnya kerajaan Sunda dan disamping Majapahit dapat mengalahkan kerajaan Sriwijaya untuk menebus maruahnya. Menurut sejarahwan terkenal Bennard Vekkle, Jawa Barat merupakan yang terkebelakang dipulau Jawa hingga abad 11. Kerajaan2 besar bangkit di Jawa Tengah dan Timur, sedikit sekali yang berubah diantara suku Sunda.Orang Sunda memiliki raja di zaman Airlangga kira2 tahun 1020m. Raja2 Sunda semakin berada dibawah kekuasaan kerajaan2 Jawa yang besar dan akhirnya tertakluk oleh kerajaan2 besar jawa.
    2)Dari hal Gajah Mada, seperti yang anda katakan jika Raja Majapahit (Hayam Wuruk) adalah keturunan Raja Sunda ( yg dianggap lemah kebenarannya itu) Secara etika, jelas Hayam Wuruk tidak akan menghancurkan leluhurnya sendiri. Begitu juga dgn Gajah Mada. Jika Gajah Mada berasal orang Melayu Paloh bekas dari Kerajaan Sriwijaya (SumSel), atau orang Bali dan sebagainya(kecuali dari orang Jawa) kesemuanya ini tidak masuk akal dengan sebab ucapan dari Sumpah Palapanya yang bermaksud mengalahkan dan menaklukkan nusantara. Cuba semak dengan teliti ucapannya yang berbahasa Jawa itu““Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa” artinya :“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”. Arti dari ucapan beliau “apabila sudah kalah Nusantara” itu jelas bermakna berperang, menundukkan untuk ditaklukki. Dan berperang itu pasti ada pertumpahan darah yang menyebabkan banyak jiwa terkorban, kemusnahan harta benda dan lain2nya. Jadi gajah mada bolih dikatakan orang yang tidak siuman atau orang gila karena memerang dan menghancurkan tempat dimana Ia berasal dan memerangi leluhurnya. Namun jika tidak sampai terjadi peperangan, ini bermakna kerajaan2 lain di Nusantara ini dapat ditundukkan dengan arti kata lainnya mereka siap akur untuk menjadi negara2 bawahan Kerajaan Majapahit di sebabkan kebesaran dan kekuatan kerajaan MajaPahit itu sendiri bersama rajanya (Hayam Wuruk), Maha patihnya (Gajah Mada) dan kekuatan panglima2 lainnya, dan kekuatan keekonomiannya dan bala tenteranya disamping Gaja Mada sebagai orang yang memainkan peran besar terhadap kejayaan Majapahit.
    (3) Semua staf Gajah Mada yang dikatakan orang Melayu dan navigasi pelayaran menggunakan pelaut dan pemimpin Melayu (cerita di Dayak Pesaguan yang bersingguan dengan Melayu Tanjungpura-Kalbar pada pendapat saya memang sudah wajarlah demikian, pasti Gajah mada akan menggunakan orang2 jajahannya, setidak2nya orang yang sudah siap mahu berkhidmat bersatu dengan kerajaan Majapahit selain dari orang Jawa itu sendiri yang majoritas penduduk terbesar Indonesia.
    4) Maaf, bukan saya ta’sub dengan Kehaibatan Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit, setakat mengagumi saja. Gajah Mada juga menghilangkan diri entah kemana dan Kerajaan Majapahit juga runtuh akhirnya dengan kehadiran Islam dipulau Jawa yang diperjuangkan oleh Wali Songo dan dengan berdirinya Kerajaan Demak.

  17. joko dolog mengatakan:

    Untuk A.Hamid B. Salikin perlu diketahui raja-raja majapahit dan keturunannya adalah keturunan seorang BAJINGAN, GARONG, PERAMPOK yakni Ken Arok, Dia nyuri istri orang ken dedes dari tunggul ametung, maka sifat-sifat raja jawa ga jauh berbeda dengan bapak moyangnya Ken Arok, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, mengikuti syahwat kekuasaan, kerajaan Majapahit ga jauh berbeda dengan Belanda, yang satu imperialis berambut pirang, satu lagi imperialis berambut hitam.
    Perlu diketahui majapahit dua kali nyerang PAJAJARAN tapi kalah, akhirnya pake cara2 bubat, itu bukann ksatria bung itu cara2 banci. kalau kamu mengannggap itu suatu kejeniusan strategi, maka saya maklum itu cara-cara keturunan Ken Arok dalam mencapai tujuan, benar-benar suatu kebudayaan keturunan seorang Gali

  18. A.Hamid B Salikin mengatakan:

    Untuk Joko Dolog – Alhamdulillah, terima kasih atas pandangannya tetapi itu mungkin anggapan kamu atau sejarah versi kamu saya kira. Dan maaf saya tidak akan melayani orang yang penasaran hingga hilang akal. Sekian , terima kasih.

  19. Adi Mulyadi mengatakan:

    Tanda tanda orang Sunda salah satunya seperti Pasukan Batalion Siliwangi waktu awal di dirikannya kerena mereka dididik dalam tradisi asli masarakat sunda. Hirup sauyunan tara pahiri hiri silih pikanyaah teu ingngis belapati Mereka ramah, sabar, ikhlas buat mendirikan negri tercinta ini INDONESIA, tentu tidak akan ada negri ini tanpa keberadaannya. Ini adalah hasil spirit yang telah menjadi adat masarakat Sunda warisan dari leluhur Raja raja Sunda yang Adil Bijaksana anu ngadidik jati diri Sunda lebih dari 1400 tahun (200M – 1600M). Walaupun kepemimpinan dari Sunda sekarang ini kurang tampil di pemerintahan Nasianal karena orang Sunda teu haweuk (serakah) padahal Kalau mau mereka bisa dan mampu dan pasti akan lebih adil. Orang Sunda pun tak pernah mengklaim kondisi ini. Bila melihat ke kenyataan sejarah sebenarnya kalau mau bicara jujur pendiri kerajaan Majapahit adalah ORANG SUNDA juga bisa jadi asalnya gubernur dari pakuan untuk wilayah timur jawa dimana beliau yang membabat hutan dan menemukan buah maja yang pahit itulah mulanya Kerajaan Majapahit, Karena yang namanya Jawa itu awalnya adalah sebutan untuk Kerajaan yang pertama ada dan itu adanya hanya di Jawa barat waktu itu namanya Tarumanegara, dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa wajar bila kerajaan Sunda memperluas wilayah (bukan menjajah tetapi memperluas kanyaahsayang sesama agama/Hindu) ketimur Jawa dari serangan asing, dan mengirimkan utusannya. bukti lainnya banyak kosa kata bahasa Jawa keraton yang sama dengan bahasa Sunda Halus itulah sisa sisanya Dimuat pula dalam naskah lain Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, (artinya)
    “Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan (Jawa Barat).
    Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa : Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kublay Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.
    Jadi jelas bahwa Tak mungkin Majapahit akan menyerang Kerajaan Pajajaran secara langsung kerena mereka adalah keluarga besar Pajajaran juga (segan ) Walaupun terjadinya perang Bubat itu adalalah tindakan serampangan yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada yang kurang jelas asal usulnya dan secara serampangan menyerang iringan pengantin (gak lucu gitu) tanpa persetujuan Raja Hayam Wuruk. Itu pula salah satu yang menyebabkan kemunduran Maja Pahit disamping datangnya Islam. Wallahu alam,

  20. wong jawi mengatakan:

    Kenapa pulau jawa tidak dinamakan pulau sunda sebab orang jawa sudah lebih dahulu mendiami dan bertamaddun..

    Adanya nama “JAWA” sebelum adanya kerajaan salaknagara dan tarumanagara..

    Dalam catatan dari negri Cina disebut Kerajaan Jawa To Mo Ho (Tarumanegara) dan itu satu satunya kerajaan tertua di Jawa berarti nama jawa sudah lebih dahulu dikenal bukan kerajaannya…

    Hasil kajian dari kebanyakkan sejarahwan menetapkan bahawa Wilayah INDONESIA adalah peninggalan Kerajaan Majapahit sebuah kerajaan JAWA…yang berada daerah Jawa Timur…

    Sememangnya raja majapahit adalah dari putra mahkota sunda dari pajajaran namun tidak mampu menukar wilayah kerajaan majapahit atau nama majapahit sebagai kebesaran kerajaan sunda atau kerana segan dengan orang jawa…wallohu wa’lam…

  21. Ian Gomper mengatakan:

    Sudahlah kalau kita berdebat kusir seperti ini tidak akan habis habisnya. Masing masing ingin mempertahankan pendapatnya, baik memang…dari perbedaan pendapat akan muncul pemikiran brilian…tapi seperti penulis pertama katakan kita harus hindari etnosentris. Sejarah dapat berubah seiring ditemukannya fakta fakta baru seperti penemuan prasasti dsb. Bagi saya Kutai, Tarumanegara, Melayu (Jambi),Sriwijaya,Mataram Kuno, Singosari,Majapahit,Goa Makassar dsb telah mengambil perannya masing masing dalam sejarah Nusantara dan sebenarnya telah saling bersaudara akibat perkawinan antar mereka sebut saja Sanjaya Mataram Kuno masih keturunan Sunda, yang akhirnya keturunannya mendirikan kerajaan kerajaan di Jawa Timur, Syailandra (Sriwijaya) menurunkan Raja-Raja Mataram Kuno lalu Adityawarman (Pagaruyung) masih keturunan Rd. Wijaya, Parameswara (Sriwijaya) mendirikan Kerajaan Malaka dan menurunkan Raja Raja Melayu di Semenanjung Malaysia, Raja Raja Goa juga menurunkan Raja Raja Melayu di Semenanjung. Nusantara terpisah karena penajajahan Belanda dan Inggris. Nusantara adalah wilayah kepulauan dengan ragam etnis terbesar di dunia, mudah tersulut konflik. Alangkah bijak jika kita tidak merasa lebih dominan terhadap etnis lain, karena we are connected with blood, Sayang memang beberapa wilayah Nusantara tidak bisa bergabung ke dalam wilayah Indonesia karena politik bagi bagi kue bangsa bangsa yang letaknya ribuan kilometer dari Nusantara. Kesimpulannya kita jangan merasa lebih dominan dari etnis lain semua adalah setara. Ini adalah peninggalan orde baru yang salah kaprah dalam memandang kebangsaan kita.

  22. najmu mengatakan:

    salam sejahtera
    terima kasih atas saran dan kritiknya semoga semuanya dapat bersahabat

  23. fakhruddin mengatakan:

    ia saya setuju, saya keturunan orang nusantara…hidup..bangsa malay

  24. fakhruddin mengatakan:

    pada intinya…bangsa kita sudah kacau n bermacam..penyakit..tak tau susur galurnya..tapi..kalo kami orang melayu..riau..persis sama gayanya seperti di malaysia..yang terdiri dari suku pribumi nusantara.utk sedikit tau aja..saya orang siak…melayu kerajaan siak..kalau di susur galuri/silsilah adalah keturunan raja melaka- sriwijaya( siak pada fase selanjutnya dinasti ini menikah dengan keturunan para syarif(arab) yang tidak lain dalah keturunan langsung nabi muhammad saw yang jelas susur gaurnya hingga ke nabi adm bapak para manusia).sriwijaya ini memiliki kekerabatan sangat banyak.karena sampai sekarang letak sriwijaya tidak di ketahui secara ilmiah.karena masa empire sangat lama(700 tahun).kami orang melayu menyebut jawa itu adalah kakak beradik.dan itu tak bisa di pungkiri.mataram kuno adalah dinasti sailendra.bahkan sebagian dari ahli antara dinasti sailandra dengan sanjaya masih satu struktur silsilah.kita bangsa melayu nusantara jangan merasa ada gap gap segala.malu tk tau sejarah.yang jelas bahasa melayu kuno, jawa kuno maupun sunda kuno itu memliki akar bahasa yg sama…..munculnya beda bahasa karena dipengaruhi berbagai macam zaman, agama, lidah para penutur, letak, alam.contoh: besi….wesi. satai…..sate.(sate itu dalam bahasa melayu adalah daging yang di satai/cabik-cabik dengan halus dan di tusuk).bahasa jawa cenderung masih banyak menggunakan bahasa lama(sansekerta)..di tambah bahasa asli nusantara.bahasa melayu lebih banyak dip pengaruhi oleh bahasa arab..contoh besar penggunaan nama.toh..bahasa sunda..itu cenderung ke bahasa jawa/melayu kuno cuman…kalo mau bicara itu nanti bisa kalah sama profesor..hehehehe.n bagaimana..teman-teman..tau ga..silisilah para penyebar agama islam di nusantara. secara garis besar mereka adalah keturunan para anbiya.. kalo di malaysia jelas sekali susur galur.siapa silsilah malik ibrahim…yach masih berhubungan dengan saudara kita di kelantan sana..nik aziz nik mat n seluruh bumi nusantara ini.kami di siak…masih saudara dengan raja banten, cirebon, makasar, mindanau,patani…yang jelas dari silsilah keturunan jamaluddin al kubra..heheh.aku..saye sendiri…keturunan dari berbagai macam suku..ibuku..dari bugis(bone)yang sudah bercampur keturunan orang di kerajaan terengganu malaysia..melayu minang kabau..darah palembang juga ada…kami di satukan atas nama melayu islam…kalau sholat ia berarti ia saudaraku kalo tidak yach berarti bukannnnnnnn

  25. asli jawa mengatakan:

    dalam konteks kehidupan bermasyarakat sekarang seharusnya masalah-masalah lama gak usahlah diungkit2 apalagi dibawa kepermukaan seolah2 disatu sisi suku yg satu lebih baik dari yg lain.apalagi yg saya dengar budayawan sunda menginginkan jabar berubah nama menjadi provinsi pasundan dan melepas nama jawa didepannya.mohon maaf klo saya liat konteks ini bukan berdasar sejarah tapi dari keinginan sejarawan2 sunda yg ingin mengangkat kebudayaan sunda itu sendiri karena kita tau selama ini suku jawa merupakan suku mayoritas dihampir seluruh indonesia bahkan untuk jabar jawa bersaing dengan suku asli sunda..apalagi ketika orde lama dan orde baru berkuasa jawa benar2 menguasai indonesia.dan ketika setiap presiden kita berasal dari jawa.mgkn dari sini sejarawan sunda maaf,berfikir kenapa kita harus tunduk atas jawa karna dalam pemikiran mereka penduduk mereka byk kenapa tidak dapat memimpin negeri ini,,,,yg saya herankan lagi kasus ini pun harus diungkit ke sejarah perang bubat..padahal masyarakat jawa khususnya jatim tak pernah memikirkan terjadinya perang ini karena mereka menganggap sejarah biarlah jadi sejarah,,karna jika sejarah diungkit sama saja dengan berfikir mundur dan cenderung merasa jati diri kita sebagai warga negara luntur..yg ada hanya mengungkit2 sejarah yg sdh berlalu dan tak akan membawa keuntungan selain harga diri itu sendiri..saya selaku masyarakat jawa yg lama dikalimantan menghimbau semua pihak udahlah,,masalah apakah perang bubat itu menjatuhkan jati diri orang sunda atau pengangkatan sejarah ini ada unsur politisnya,mengenai kepemimipinan jawa di NKRI..jangan merusak kekerabatan kita sebagai penghuni pulau jawa khususnya dan warga negara indonesia umumnya..

  26. Al Muhallil mengatakan:

    Buku Dimont lainnya (The Indestructible Jews) sudah diterjemahkan dan diterbitkan denngan judul: “Dilema Yaudi, atau Suratan Nasib?”

    Terdapat di Gramedia Matraman dan PondokIndah Mall, Jakarta.

  27. encep mengatakan:

    mau sumbang saran..menurut leluhur saya karuhun tengtang ubud di bali sama nga dengan cerita orang bali… bahwa ubud itu berasal dari obad=obat, menurut cerita lisan dikatakan bahwa ketika orang bali terserang penyakit, datang lag seorang pandita sunda yang bernama mandikria yang ahli obat-obatan untuk menggobati warga kampung tersebut…dan kampun tersebut berbnama obad,..tambahan pandita tersebut dari kerajaan kendan Cicalengka….bahkan untuk ukuran sekarang pun banyak orang bali yang datang ke bekas kendan,untuk ziarah…

  28. Duel dikawah Bromo mengatakan:

    Rupanya perlu diluruskan disini bahwa kisah PERANG BUBAT itu 100% fiksi. Sebenarnya tidak pernah ada perang di lapangan desa Bubat. Tidak pernah ada rencana raja Hayamwuruk mempersunting putri Sunda. Tidak pernah ada kunjungan tamu dari kerajaan Galuh/Sunda ke Majapahit. Tidak pernah ada raja Galuh/Sunda terbunuh di Majapahit dan tidak pernah ada dimakamkan raja padjadjaran Lingga Buana, permaisurinya, putrinya dyah pitaloka secara terhormat diMajapahit.
    Perang Bubat hanya sebuah kisah fiksi yang ditulis oleh para pujangga Bali pada abad 17 (3 abad setelah era Hayamwuruk) kerna Bali dalam taklukkan Jawa dan dalam Kidung Sunda/Sundayana dan Pararaton itu bertujuan membendung pengaruh Mataram (Sultan Agung) yang saat itu sedang meluaskan kekuasaannya.. Dengan ditulisnya kisah tsb diharapkan pada saat itu muncul penentang kuat dari Sunda. naskah kidung sundayana adalah skenario ciptaan Belanda dalam usahanya menjajah nusantara, karena berbagai macam cara licik di lakukan oleh Belanda untuk menjajah nusantara khususnya Tanah Jawa.

  29. SILAMPUNG RATU BAKA/BOKO SAILENDRA mengatakan:

    Leluhur AKI TIREM berasal dr sumatera bagian selatan (lampung) yaitu DATU PAHWANG MARGA.. Leluhur AJISAKA berasal dr tanah lampung.. Tulisan asli sunda kuno adalah sama dgn tulisan kaganga lampung..

  30. dildaar80 mengatakan:

    Sorry…

    Sepertinya sy agak cape dan sedih sy search di google tentang Sunda dan Jawa pasti pembahasannya tidak jauh dari Bubat dst…

    Wah gimana ya?

    Apakah solusinya pulau jawa dipecah menjadi 2 atau 3 negara terus nanti pd perang lagi..?

  31. dildaar80 mengatakan:

    Sriwijaya bersama sekutunya, Wurawari pernah menyerbu Jawa tengah dan timur..pd abad 9-10 Masehi menghancurkan Keraton Darmawangsa dari wangsa Isyana dan kerajaannya bahkan orang2 Darmawangsa diburu sampai ke pedalaman..

    Bahkan pd masa kerajaan Medang dst (abad 8-9) pernah beberapa kali pasukan dari Sumatra menyerbu Jawa dan menang..

    Prajurit2 Jawa (Singasari dan Majapahit) pernah dibantai di Padang Sibusuk, Sumatra. Nama padang sibusuk karena banyaknya prajurit jawa yg mati. Mereka disambut secara bersahabat tapi diracun hingga lemah terus dibabat habis. (Lihat Tambo Minangkabau dan Hikayat Pasai)

    Kisah tragis putri Majapahit dan Pangeran Pasai yang gagal menikah (lihat Hikayat Pasai).

    Tapi ya tadi itu hal seperti ini jarang diekspos orang jawa kepada orang sumatra…agar orang Sumatra merasa bersalah terus kpd orang Jawa dan biar nanti ‘tidak macam-macam’

    Kenapa persoalan Bubat pasti disinggung terus…?

    Karena sangat tragis kali yah?

  32. dildaar80 mengatakan:

    Menyangka Lembu Tal itu adalah perempuan karena nama ‘Lembu’ dimuka namanya adalah sangat keliru karena di naskah-naskah kuno banyak tokoh-tokoh Majapahit bernama awal ‘Lembu’ ternyata laki-laki contoh Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Amiluhur dan seterusnya.

    Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.

    Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari.

    Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.

    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

    Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.

    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

    Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.

    Berbeda dengan Negarakertagama dan Prasasti Balawi yg ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya yg menyebut memang Wijaya pribumi Jawa Timur. (gelar raden pas tahun itu belum ada/belum menjadi sebutan)

    Kalau Sanjaya dan Wijaya itu orang Sunda kenapa tdk dicandikan di daerah Sunda tetapi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur?
    Ada dua kemungkinan besar:
    1. Iya keduanya ada darah Sunda tetapi tidak sudi dicandikan di Jabar yg tidak menghormati mereka bahkan memusuhi. Bukti, ayah Raden Wijaya diracun justru oleh keluarga yg ingin tahtanya. Begitu pula permusuhan thd Sanjaya dlm cerita2 Parahiyangan.
    2. Memang mereka tidak berdarah Sunda.

  33. manusia jawa mengatakan:

    Akhirnya pada mengaku ( dildaar80 ).. bahwa pasukan Sriwijaya bersama sekutunya Wurawari pernah menyerbu Jawa tengah dan timur..pd abad 9-10 Masehi menghancurkan Keraton Darmawangsa dari wangsa Isyana dan kerajaannya bahkan orang2 Darmawangsa diburu sampai ke pedalaman..
    Bahkan pd masa kerajaan Medang dst (abad 8-9) pernah beberapa kali pasukan dari Sumatra menyerbu Jawa dan menang.. Bukankah sudah dibilangi bukan org2 jawa yg mendahului peperangan.. itulah tata susilah orang2 jawa, tidak rakus SABAR DAN NERIMO.. Sriwijaya yg rakus mahu menebarkan sayap hingga ke Pulau Jawa.. akhirnya hancur musnah.. dan pd abad kemudiannya 1350 – 1389 Majapahitlah yg dpt menaklukki dan mempersatukan Nusantara.. kelihatan bekas2 hingga skrg.. tidak iye… itulah yg dicemburui sebagian orang2 skrg.. lalu yg kaburi adalah hasad dengki…

  34. dildaar80 mengatakan:

    Persatuan baik dng paksaan maupun sukarela itu adalah rahmat dan anugrah tersembunyi…

    Kita memang jarang menyadari bahkan bersyukur dng anugrah semacam ini.

  35. dale mengatakan:

    Sejarah adalah masa lalu untuk dijadikan bahan pelajaran bagi kita bersikap di masa sekarang. Persatuan saat sekarang adalah lebih penting. Kita tidak boleh menyalahkan pihak lain berdasarkan kejadian masa lalu menurut versi (yang kita yakini) meskipun belum tentu benar.
    Jangankan sejarah kerajaan Majapahit, Padjadjaran atau Sriwijaya yang sudah begitu lama, sejarah beberapa puluh tahun kebelakang saja seperti supersemar dan sebagainya banyak hal yang tidak jelas yang membuat kita terpecah belah.
    Jadi Stop saja sikap mencemooh dan merasa benar sendiri
    yang penting saat ini kita saling menghargai dan tunjukkan prestasi serta ketulusan hati kita kepada Indonesia dan bangga terhadap siapapun yang mengharumkan bangsa (tidak memandang suku serta golongan) ….

  36. putra sumsel mengatakan:

    eh silampung ratu baka / sailendra . sebelumnya saya minta ma’ap kepada saudara2 orang sunda dan jawa saya tidak bermaksud mencampuri tentang sunda dan jawa. tapi kami dari sumatra selatan sangat tersinggung dengan pernyataan komentator silampung ratu baka/ dinasti selendra.
    silampung ratu baka dinasti selendra dari mana? dari hongkong.
    dengar baik baik kamu orang lampung. seriwijaya/ dinasti selendra itu berada di sumsel dan berasal dari sumsel itulah tepatnya di wilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah bukan dilampung /sekala berak.
    seluruh lampung itu berdasarkan seluruh prasasti sriwijaya dilampung dihancurkan dan dikutuk oleh kerajaan seriwijaya/ dinasti selendra, yakni orang orang dari rumpun pasemah seperti prasasti palas pasemah prasasti batu bedil gunung meraksa pulau panggung, prasasti ulu belu, perasasti bungkuk, prasasti bawang lampung barat.
    silampung ratu baka/ dinasti selendra dari mana. tentang situs prabu baka di jawa itu sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan lampung. situs itu terkait dengan bala putra dewa dan dinasti selendra dan seriwijaya. dan dalam prasastinya th 792M yaitu abhayagiri vihara menyebutkan nama tejah purnapane panam karana/ rakai panangkaran. situs ini kemudian dijadikan benteng pertahanan balaputra dewa sebelum kepalembang dalam berperang dengan saudara perempuannya yang bernama pramowardhani yang mereka ini adalah keluarga dinasti selendra.
    dan bahasa prasasti dinasti selendra dijawa itu berbahasa sanskerta dan bahasa melayu kuno yang sama persis dengan bahasa rumpun pasemah.dalam prasasti sejomerto tertulis seperti bini yang berarti istri adalah bahasa asli rumpun pasemah, bahsa lampungnya kajong, bapanda dalam bahasa pasemah bapangda artinya ayahanda bahasa lampungnya ayah= aki dalam prasasti ejaan nya adalah selendra bukan sai indra/ saibatin tidak ada hubungannya sedikitpun prabu baka dari dinasti selendra jawa dengan lampung.
    kemudian datang datang semua orang lampung mengatakan silampung ratu baka dinasti sailendra= saiindra=saibatin. selendra itu berasal dari gunung mehendra/ raje mendare pagaralam sumsel dari keteurunan serimawli warmadewa atung bungsu putra mahkota kerajaan kushans di india yang wilayahnya mencakup india, pakistan, afghanistan dan wilayah ciana. yang raja rajanya keturunan iskandar zulkarnain/ Alexander thegrat. yang datang ke nuantara pada thun 179M. dengan membawa 7 armada kapal angkatan perang kerajaan, beliau inilah yang menamakan pulau Sumatera = semua tera/ semua timbang. bersama 2 orang penasehat dari philipina yang bernama arya tabing dan yang berasal dari persia/ iran yang bernama Qumayyullah/ gumay dalam rangka mencari panglima perangnya yg bernama seri nuruddin yang telah meninggal dan dikuburkan di muara lematang lahat sumsel. mereka semua ini kuburannya berada di pagar alam sumsel semua di wilayah rumpun suku bangsa pasemah (wilayah gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ lubuk linggau/ musi ulu/ musi banyu asin/empat lawang, muaraenim, ogan, semendo, kaur, rejang, manak, padang guci, / bengkulu sumsel) yang menurunkan dinasti kerajaan di gunung dempu, kerajaan kantoli dinasti selendra, dapuntahyang serijaya naga/ seriwijaya, seriwijaya di dharmasraya, dan aditya warman/ arya damar di pagarruyung
    kalaupun istilah silampung ratu baka ada disebut pada masa zaman kerajaan maja pahit bersama sijawa ratu maja pahit, si sunda ratu pajajaran dan silampung ratu sekala bekha ( sekala berak ) bukan prabu baka dari dinasti selendra prabu baka tahun 792M. 700 TAHUN selisihnya dengan istilah silampung ratu sekala bakha/ sekala berak karena itu disebut pada masa majapahit dan pajajaran.

    • dildaar80 mengatakan:

      Mau nanya: pernyataan anda: selendra itu berasal dari gunung mehendra/ raje mendare pagaralam sumsel dari keteurunan serimawli warmadewa atung bungsu putra mahkota kerajaan kushans di india yang wilayahnya mencakup india, pakistan, afghanistan dan wilayah ciana. yang raja rajanya keturunan iskandar zulkarnain/ Alexander thegrat. yang datang ke nuantara pada thun 179M.

      Pertanyaan saya: Apakah Alexander the Great mempunyai anak cucu yang hidup sampai remaja? Mohon buktikan dari catatan sejarah.

      Anda menulis: “…bersama 2 orang penasehat dari philipina yang bernama arya tabing dan yang berasal dari persia/ iran yang bernama Qumayyullah/ gumay dalam rangka mencari panglima perangnya yg bernama seri nuruddin yang telah meninggal dan dikuburkan di muara lematang lahat sumsel.”

      Itu menurut anda terjadi tahun 179 Masehi. (sebelum Nabi Muhammad saw dan agama Islam lahir)

      Pertanyaan saya: Apakah di masa itu nama Qumayullah (ada kata Allah) sudah akrab atau sudah dipakai oleh orang Iran. begitu juga nama Nuruddin.

  37. putra sumsel mengatakan:

    kitab negara kertagama adalah pitnah besar empu prapanca, gajahmada dan suku jawa terhadap sunda, madura, lumajang, nusantara dan asia tenggara.

    jangan lagi dikatakan jayanegara itu kala gemet. sebab tidak ada prasasti majapahit menyebut kalagemet. kala gemet adalah pelecehan dan pitnah kitab para raton dan negara kerta gama.
    tidak pernah majapahit menyerang dan menghancurkan seriwijaya dipalembang tahun 1377, tidak ada prasasti nya di palembang. kalau memang benar majapahit menghancurkan seriwijaya dipalembang pasti ada prasastinya dipalembang. kenyataannya satupun tidak ada prasasti majapahit di palembang.
    tidak pernah palembang membayar upeti kepada majapahit.
    hubungan majapahit dengan palembang itu setara bukan sebagai taklukkan.
    yang membayar upeti kejawa adalah pendiri kesultanan palembang darussalam sebagai keturunan trenggono dan bentuk penolakan terhadap jaka tinggkir.yang lari kepalembang dan beranak pinak dengan orang- orang palembang.orang jawa pendiri kesultanan palembang darussalam itupun bukan kepada majapahit membayar upeti
    pendiri kesultanan palembang darussalam membayar upeti kepada kesultanan mataram islam. itupun tidak lama. pendiri kesultanan palembang darusalam ini adalah orang jawa keturunan raden patah. bukan orang palembang. mana ada orang palembang/ sumsel mau bayar upeti ke jawa/ mataram islam

    KITAB NEGARA KERTAGAMA ADALAH PITNAH BESAR YANG DILAKUKAN OLEH EMPU PRAPANCA, GAJAHMADA, SUKU JAWA TERHADAP SUNDA, MADURA, LUMAJANG, NUANTARA, ASIA TENGGARA

    PERBEDAAN SERIWIJAYA DENGAN MAJA PAHIT
    Kedua kerajaan ini di kabarkan konon katanya adalah kerajaan besar yang menguasai nusantara.
    Cuman pertannyaan muncul apa benar ? kalau benar apa buktinya?
    Tentu untuk membuktikannya adalah dengan bukti sejarah/ pakta sejarah otentik dan catatan2 asing yang sezaman dengan seriwijaya atau maja pahit yang netral yang tidak ada kepentingan. Kalau catatan belanda semuanya bohong tidak ada yang benar catatan belanda itu karena belanda jelas ada kepentingan untuk memecah belah dan menguasai nusantara. Dan belanda tidak tau zaman majapahit apalagi zaman seriwijaya, mana mungkin orang belanda bisa bercerita tentang majapahit apalagi seriwijaya.
    Sebagai bukti kalau belanda tukang pembohong. Orang belanda menulis sejarah islam pertama disebarkan dinusantara oleh orang gujarat Pada abad 13. Kenyataannya islam disebarkan pertama dinusantara langsung dari pusatnya yakitu mekkah dan madinah pada masa nabi Muhammad SAW. Bahkan Muawiyah pernah datang ke nusantara. Kerajaan islam pertama adalah samudra pasai padahal jauh sebelum samudra pasai sudah ada kerajaan islam perlak yang diserang oleh seriwijaya yang dalam peperangan itu sultan perlak gugur sebagai syuhada. Patahillah adalah syarip hidayatullah adalah sunan gunung jati padahal mereka adalah lain patahillah bukanlah syarif hidayatullah atau sunan gunung jati. Raja nusantara pertama yang beragama islam adalah marah siluh padahal raja islam pertama nusantara adalah seri indrawarman raja seriwijaya. Seriwijaya adalah seratus persen kerajaan budah. Padahal sesungguhnya kerajaan seriwijaya itu adalah kerajan budah, islam, hindu. Yang ketiganya salaing berebut pengaruh dan kekuasaan. Semua sejarah yang ditulis orang belanda tidak ada yang benar
    Kembali ke tantang seriwijaya dan majapahit yang katanya sama sama besar tetapi jika kita perhatikan dan teliti dan kaji lagi dengan koreksi kritis ada perbedaan yang mencolok antara seriwijaya dan maja pahit.
    Perbedaan itu antara lain
    1. Kalau majapahit lebih dulu menceritakan sumpah palapa gajah mada yang menguasai nusantara. Sumpah palapa itu sebenarnya baru rencana gajahmada untuk menyatukan nusantara. Berdasarkan rencana gajahmada itu langsung dimasukkan semua kewilayah majapahit dan peta wilayah majapahit sama persis dengan indonesia sekarang bahkan malaysia dimasukkan kewilayah majapahit. Padahal belum tentu berhasil cita cita gajah mada itu jangan2 gagal total
    2. Sedangkan seriwijaya lebih dulu berdasarkn prasasti dan catatan asing kalau wilayah itu telah dikuasai oleh seriwijaya. Dan peta wilayah seriwijaya hanya sebagian sumatra, jawa barat, sebagian kecil kalimantan barat dan malaysia.
    3. Kalau seriwijaya banyak sekali yang menklaim bahkan semua mengklaim.
    4. Kalau maja pahit satupun tidak ada yang mengklaim. Selain dari jawa timur bahkan madura saja enggan mengklaim majapahit. Padahal berdasarkan sejarah majapahit itu bisa tegak karena madura. Sunda juga malas mengklaim majapahit padahal ayah raden wijaya adalah orng sunda.
    Berdasarkan 4 poin ini mari sama-sama kita teliti lagi dengan koreksi kritis tentang kebesaran seriwijaya dan majapahit atau jangan- jangan bohong semua keduanya.

    1. Rencana gajah mada yang terkenal dengan sumpah palapanya yang tidak akan bersenang senang jikalau nusantara belum menjadi wilayah majapahit. Kemudian sertamerta peta wilayah majapahit adalah indonesia sekarang dan malaysia. Sekarang koreksi kritisnya. Tidak ada prasasti majapahit diwilayah itu atau tanda tangan gajah mada diwilayah wilyah yang disebutkan oleh gajah mada dalam sumpah palapanya itu kalau wilayah itu telah di serang atau ditaklukkan oleh gajah mada / majapahit kecuali hanya di bali bagian selatan saja. Itupun adityawarman yang menyerang dan menghabisi orang orang bali itu. Yang pada awalnya aditya warman menyerang bali bagian utara dan gajah mada menyerang bali bagian selatan. Aditya warman lebih dulu kembali kemaja pahit dengan membawa kepala raja bali sedangkan gajahmada gak tuntas tuntas menghadapi perlawanan bali. Bahkan kocar kacir gajah mada. Kemudian aditya warman kembali menyerang bali dan menghabisi raja bali gajahmada bukanlah panglima perang lapangan gajahmada ini lebih cendrung jendral konseptor/ ahli strategi. Sedangkan panglima perang maja pahit adalah aditya warman aditya warmanlah jendral lapangan ahli perang dilapangan. Entah apa jadinya majapahit kalau tidak ada adityawarman. Kemudian adalagi jasa panglima majapahit yaitu laksamana nala. Sebenarnya armada laut majapahit laksamana nala ini yang berperan bukan gajah mada.
    Sepertinya gajahmada ini orang penakut buktinya untuk menaklukkan pajajaran di negri sunda gajah mada membawa pasukkan 15.000 untuk menghadapi rombongan calon penganten yang hanya berjumlah 300 orang sungguh sangat memalukan dan menjijikkan.
    Dan buktinyata pajajaran tidak pernah takluk kepada majapahit. Pajajaran masih eksis .
    Kapan gajahmada menyerang palembang tidak ada prasastinya dipalembang tidak pernah majapahit menyerang palembang. Palembang masuk kewilayah majapahit atas jasa aditya warman/ arya dillah bukan dengan pertumpahan darah tetapi dengan diplomasi hubugan kekeluargaan. Begitu juga dengan dharmasraya atau sumatra barat tidak pernah gajah mada ke situ tetapi jasa adityawarman yang menjadikan sumatra barat menjadi wilayah majapahit. Tidak pernah pasukkan majapahit menghancurkan sumatra barat. Bahkan pasukan maja pahit dibantai habis oleh aditya warman disumatra barat ketika aditya warman mendirikan kerajaan pagarruyung. Dan majapahit mana berani menyerang adityawarman.
    Begitu juga malaysia tidak ada satupun prasasti majapahit dimalaysia kalau malaysia menjadi wilayah maja pahit/ diserang dandihancurkan dan oleh majapahit atu gajah mada.
    Bahkan dilampung saja tidak ada prasasti majapahit kalau lampung di taklukkan majapahit.
    Bahkan dalam catatan naskah jawa dikatakan sijawa raja majapahit sisunda raja pajajaran silampung ratu balaw. Artinya ketiga kerajaan ini ada rajanya masing masing dan bukan wilayah majapahit.
    Dan ditulis dalam sejarah majapahit menyerang pemberontakan palembang. Sebenarnya yang melakukan pembrontakan itu bukan orang palembang tetapi bajak laut cina. Karena palembang telah menjadi sarang bajaklaut cina di asia. Dan yang menumpasnya adalah laksamana cengho dengan membawa seluruh angkatan laut cina yang sangat besar yang terkenal dengan kisah pelayaran laksamana cengho. Sepertinya gajah mada itu tukang pembuwal. Besak mulut saje. Sumpah palapa itu sepertinya gagal.
    Dan dalam catatan luar tidak ada yang mengatakan majapahit itu sebesar yang di buat di peta wilayah majapahit itu.
    Dan dalam akhir hayat gajahmada sepertinya dia hidupnya tersisih dan terasing dan merana dikucilkan orang tidak ada istri, tidak ada keturunan, tidak ada sanak saudara, tidak ada teman. dan itulah sumpah palapa gajahmada yang tidak akan bersenang senang selama hidupnya sebelum wilayah nusantara dipersatukan dan untuk menebus rasa bersalahnya itu gajahmada memenuhi sumpahnya gajah mada mati dengan sangat memalukan dengan minum racun.
    Sekarang kita bandingkan dengan seriwijaya. Yang wilayahnya di gambarkan dipeta sebagian sumatra sebagian kecil kalimantan barat, jawa barat, dan malaysia. Dan ditulis dalam sejarah yang dimaksud bumi jawa yang di taklukkan seriwijaya itu adalah tarumanegara atau jelasnya adalah jawa barat. Tetapi prasasti kekuasaan kerajaan seriwijaya dan dinasti selendranya ada dimana mana. Jelas seluruh jawa adalah wilayah kerajaan seriwijaya dengan penguasa dinasti selendranya. Seluruh prasastinya ada. Jelas yang dimaksud bumi jawa oleh dapunta itu adalah jawa bukan jawa barat. Jaman dulu jawa barat itu adalah tanah sunda / bumi parahyangan/ galuh. Sedangkan yang ditulis oleh dapunta adalah bumi jawa. Bahkan sebenarnya tanah sunda itu mengakui kedaulatan seriwijaya karena dapunta menikah dengan putri raja sunda. Sedangkan yang dihancurkan oleh dapunta adalah kerajaan kaling jawa tengah perasastinya terdapat di kabupaten batang jawa tengah. Kemudian keturunan raja galuh yang bernama sanjaya menyingkir ke jawa tengah karena mendapat desakan dari seriwijaya mendirikan kerajaan mataram hindu kemudian itupun dikuasai oleh dinasti selendra dan sebenarnya sanjaya pun adalah masih keturunan yang berasal dari galuh yang masih keturunan dinasti selendra/ raja raja seriwijaya. Dan gelar gelar raja mataram hindu itu adalah rakai dan mengakui kedaulatan seriwijaya. Dan kerajaan mataram hindu itu dihancurkan oleh seriwijaya. Dan patih kerajan mataram hindu mpu sendok menyingkir ke jawa timur dengan mendirikan kerajaan medang. Jelas sudah musuh bebuyutan jawa adalah seriwijaya prasasti prasasti seriwijaya/ dapunta/ dinasti selendra yang berada dijawa itu berbahasa melayu rumpun pasemah sumatra selatan. Kemudian raja jawa timur ini yang bernama teguh darmawangsa nekat menyerang seriwijaya yang berakibat patal dengan serangan balik seriwijaya yang memusnahkan seluruh jawa timur. Satu satunya yang selamat adalah air langga yakni menantu darmawangsa, yang berasal dari bali. Sebenarnya itu sengaja dibiarkan oleh seriwijaya karena airlangga adalah keturunan seriwijaya juga karena seriwijaya juga menyerang bali dan mendirikan kerajaan bali dan prasastinya ada di bali artinya seluruh jawa dan bali adalah wilayah kerajaan seriwijaya ada prasastinya dan ada catatan dari luar tentang hal itu, kenapa dipeta wilayah seriwijaya hanya jawa barat saja yang dimasukkan.
    Kemudian dalam peta seriwijaya dimasukkan hanya sebagian kecil kalimantan barat. Padahal prasasti di kalimantan selatan menjelaskan kalau seriwijaya menguasai kalimantan selatan dengan kedatangan pasukaan seriwijaya di banjar yang berasimilasi dengan dayak . sedangkan majapahit kapan menyerang kalimantan tidak ada prasasti dikalimantan kalau majapahit pernah menyerang kalimantan.
    Begitu juga dengan sulawesi kapan gajah mada menyerang dan menaklukkan sulawesi di sulawesi satupun tidak ada prasasti kalau majapahit menyerang dan menaklukkan sulawesi. Apalagi maluku dan papua mana ada prasasti majapahit disitu kalau wilayah itu dihancurkan dan ditaklukkan gajahmada/ majapahit. Satu satunya sumber tentang kebesaran wilayah majapahit hanyalah kitab negara kertagama yang mencatat rencana gajahmada yang bersumpah dihadapan maha rani majapahit tribuwana tunggadewi, yang terkenal dengan sumpah palapa. Itu baru rencana. Dan bila melihat akhir kehidupan gajah mada yang merana karena menanggung malu itu sepertinya rencana gajahmada itu gagal total.
    Kitab negara kerta gama dan pararaton itu adalah karangan orang gila orang gak waras orang setres mpu prapanca itu adalah guru sepiritual kerajaan yang dipecat oleh hayam wuruk dan dibuang ke desa terpencil. Kitab itu untuk menjilat untuk mengambil hati hayam wuruk dasar tua bangka keparat mpu prapanca ini yang mengarang kitab semau mau jidat dia saja hal hal yang membesarkan dirinya sendiri ditulis dan hal hal yang mengagung agungkan majapahit tanpa ada bukti sedangkan kisah kisah sejarah perang bubat pemberontakan ranggalawe sedikitpun tidak di sebut sebut. Mpu penjilat ini memasukkan semua wilayah yang disebut oleh gajah mada dalam rencana gajah mada itu kedalam majapahit, Padahal itu baru rencana gajah mada dan rencana itu gagal total. Jangankan menguasai nusantara menguasai jawa timur saja maja pahit tidak bisa. Maja pahit itu dibagi dua sebelah timur adalah kerajaan lumajang dengan rajanya arya wira raja sebagaimana sumpah raden wijaya yang akan membagi dua maja pahit dengan arya wira raja jika berhasil menggulingkan jaya katwang. Karean atas pertolongan dan jasa arya wira raja. Dan sampai majapahit lenyap di bumi, lumajang tetap merdeka. Apa lagi sulawesi, kalimantan, sumatra, maluku, papuas sedikitpun tidak ada hubungannya dengan maja pahit.
    Dassar besar omong saja sigajah mada ini. Kalau sumatra itu adalah wilayah aditya warman/ arya damar. Dan semua orang maja pahit dibantai habis oleh adityawarman bagaimana bisa dikatakan kalau sumatra adalah wilayah majapahit orang orang maja pahit dicincang oleh adityawarman. Bahkan 10 kali lebih besar pagarruyung daripada majapahit. Maja pahit hanyalah seujung kuku pagarruyung , hanya sebagian jawa timur, bali, lombok saja wilayah majapahit itu. Itupun keluarga adityawarman yang menaklukkannya dan menguasainya bukan gajah mada.
    Gajahmada adalah si besarmulut dan penakut dan pengecut dan licik, sedangkan mpu prapanca sipengarang kitab dongeng negara kertagama adalah sipenjilat dan orang setres.karena dipecat dari jabatannya sebagai resi kerajaan.
    Kalau dikatakan majapahit yang menyerang dan menghancurkan seriwijaya itu adlah salah besar ketara betul orng itu bodoh gakpunya otak di zaman maja pahit sudah tidak adalagi kerajaan seriwijaya bodoh. Yang ada dharmasraya dan pagarruyung yang raja rajanya adalah keturunan seriwijaya/ berasal dari seriwijaya. Dan seriwijaya sudah bukan dipalembang lagi pusatnya.

    2. Perbedaan yang mendasar antara seriwijaya dan maja pahit adalah seriwijaya di setiap wilayah kekuasaannya selalu ada prasastinya kalau wilayah itu telh diserang dan ditaklukkan oleh seriwijaya. Dan hampir semua wilayah taklukkan seriwijaya itu di peroleh dengan jalan peperangan hanya sunda saja dengan jalan damai yak ni pernikahan dapunta dengan putri sunda. Sedangkan majapahit gagal memperistri putri sunda akibat ulah gajah mada. Dan pajajaran tidak pernah mengakui kedaulatan majapahit atas tanah sunda. Dan pajajaran masih tetap exis berbarengan dengan majapahit. Sedangkan seriwijaya yang memperistri putri tarumanegara menakibatkan hilangnya kerajaan tarumanegara. Trumanegara tidak pernah ada lagi setelah pernikahan dapunta dengan putri sunda itu. Sedangkan wilayah majapahit sebagian besar diperoleh dengan jalan diplomasi sepertinya hanya bali dan p umbawa saja yang diperoleh dengan jalan peperangan.
    3. Perbedaan ketiga yang mendasar antara seriwijaya dan maja pahit adalah seriwijaya banyak sekalai yang mengklaim bahkan hampir semua wilayah yang ditaklukkan seriwijaya mengklaim seriwijaya. Ini adalah sebagai bukti kalau wilayah itu benar benar menjadi wilayah kerajaan seriwijaya. Semakin banyak yang mengklaim seriwijaya maka semakin luas pula wilayah seriwjaya itu sesungguhnya. Padahal sudah jelas seriwijaya itu terletak dan berasal dari wilayah/ kerajaan yang berada di antara kerajaan melayu ( jambi sekarang) dan kerajaan tulang bawang ( lampung sekarang.) jadi antara kerajaan melayu dan kerajaan tulang bawang/ antara jambi dan lampung itu lah seriwijaya yang sesungguhnya. Tetapi masih banyak yang mengklaimnya membuktikan kalau wilayah itu benar benar wilayah seriwijaya.
    4. Majapahit satupun tidak ada yang mengklaim. Sunda saja tidak mau padahal ayah raden wijaya (raja pertama maja pahit) adalah orang sunda. Kenapa sunda tidak mau mengakui majapahit karena sunda bukan wilayah majapahit sampai maja pahit lenyap sunda tetap ada. Jangankan sunda madura saja tidakmau mengakui maja pahit dan madura sampai majapahit runtuh tetap merdeka bukan wilayah majapahit. Jangankan madura lumajang saja bukan wilayah majapahit apa lagi sulawesi kalimantan sumatra, maluku, papua. Dan bali beserta lombok yang menaklukkan dan menguasainya adalah keluarga aditya warman. Mana gajah mada besar mulut aja. Gajahmada pernah duakali menyerang pajajaran kedua duanya gagal hampir semua pasukkan gajahmada dibantai lari terbirit birit gajah mada. Sebenarnya gajah mada menghadang rombongan penganten diyah pitaloka putri seri baduga yang bejumlah 300 orang sedangkan gajah mada membawa 15.000. bayangkan apa tidak gila dan kalap gajah mada ini. Sebenarnya gajh mada ini adalah dendam dengan pajajaran yang telah meluluh lantahkan pasukkannya dulu.
    Adityawarman datang kepajajaran untuk minta ma’af atas nama majapahit. Aditya warman ini adalah anak dari dara jingga dengan abyabrahman dan aditya warman adik cakra dara cakra dara adalah ayah hayamwuruk jadi aditya warman adalah pak cik nya hayam wuruk. Wajar aditya warman mewakili hayamwuruk selaku keponakannya untuk minta ma’af kepada pajajaran. Dara jingga adalah kakak dara peta k, dara petak adalah istri radenwijaya dan ibu jaya negara. Dara petak dan dara jingga adalah putri kerajaan dharmasraya yang berasal dari keturunan raja raja seriwijaya.
    Ya sumatra ditaklukkan aditya warman/ arya damar/ arya dillah dan nenek moyangnya di dharmasraya dan seriwijaya. Tapi kemudian aditya warman tidak pernah tunduk kepada maja pahit dan mendirikan kerajaan pagarruyung. Jadi sumatra bukanlah wilayah majapahit tetapi wilayah aditya warman dan pagarruyung.
    Jangan pernah lagi jawa mengatakan semua nusantara adalah majapahit semua nusantara ditaklukkan oleh gajah mada sebelum ada prasastinya yang membuktikan kalau wilayah itu telah di taklukan oleh gajah mada atau telah menjadi wilayah maja pahit.
    Jangan dikira kitab negara kertagama itu benar isinya kitab itu adalah kitab penjilat.
    Jangan dikira gajahmada itu berhasil mewujudkan hayalannya dalam ucapan sumpah palapa itu.
    Dan kitab negara kertagama itu karangan siorang gila yang bernama mpu prapanca itu adalah karang- karangan mpu prapanca saja
    Ya sekarang orang jawa bisa banga karena jumalah penduduk terbesar di indonesia. Tetapi jangan lupa jawa secara willayah adalah minoritas, hanya 3 propensi ( jawa tengah, jogja, jawa timur) jawa barat bukan lagi suku jawa tetapi sunda, banten, betawi. Dan madura bukan lagi suku jawa tetapi suku madura. Bandingkan dengan 33 propensi di indonesia. Dan indonesia terbentuk karena persamaan nasib dan harkat martabat Sebagai bangsa yang dijajah oleh belanda, sebagai masyarakat kelas 3/ bumi putra/ kelas paling bawah sebagai bangsa yang tertindas. Atas persamaan nasib itulah indonesia bersatu dan merdeka.
    Indonesia ini bukan jawa, rakyat dari sabang sampai meroke mempunyai hak kewajiban yang sama atas indonesia. Kamu orang suku jawa jangan pernah bepikir presiden harus suku jawa buang jauh- jauh pikiran itu sebab kalau tidak bubar indonesia.
    Timor leste/ timor timur mereka sebenarnya bukan menbenci indonesia, mereka tau kalau mereka adalah bangsa indonesia dan mereka sebenarnya sangat mencintai indonesia. Tetapi orang2 timor leste sebenarnya sangat membeci dan muak dengan suku jawa. Begitu juga papua, maluku/ RMS, sulawesi/ permesta, aceh/ GAM, PRRI, mereka semua sangat mencintai indonesia. Tetapi merka semua sangat membenci dan sangat muak dengan suku jawa. Begitu juga malaysia dan singapura tau mereka darimana asal mereka mereka sangat menghormati indonesia terlebih palembang, minang kabaw, bugis, aceh. Tetapi mereka sangat muak dan jijik dengan suku jawa. Semua orang benci dengan jawa bukan karena iri atau benci dengan orangnya, tetapi semua orang benci dengan suku jawa karena sipatnya yang sangat licik, culas rakus, gila kekuasaan, merasa paling berkuasa, tukang pitnah, tukang adu domba, tukang berzina dengan istri majikan seperti ken arok, tukang MELET perempuan, tukang santet, tukang dukunin orang, itulah sipat watak dan kelakuan suku jawa.

    Menulis sejarah jangan lagi asal tulis saja semau mau pengarang saja. Sekarang orang cerdas semua dan berpikiran kritis semua. Dan akan di buktikan orang betul. Gak akan orang enggiih- enggih aja, Nanti dulu teliti dulu buktikan dulu
    Kitab negara kerta gama Majapahit menguasai asia tenggara adalah suatu fitnah yang terbesar terhadap nusantara dan asia tenggara yang dilakukan oleh mpu prapanca dan gajahmada dan suku jawa.

    Kartu Jawa Kartu Majapahit Yang Pegang Adalah Orang- Orang Yang Menjadi Cikal Bakal Seriwijaya Yaitu Propensi Sumatera Selatan Dan Bengkulu. Apa Mau Dibuka???????????????
    Bukti sejarah yang paling kuat adalah prasasti dibatu dan istana. Kedua dunya tidak ada dinusantara prasasti majapahit kecuali dibali dan lombok saja. Itupun bergandeng dengan aditya warman dan saudara- saudaranya.
    adapun tentang kitab negara kertagama itu adalah buku karangan mpu prapanca. Mengarang buku siapa saja bisa dan mengarang buku bisa sambil tidur sambil mimpi dan sambil menghayal dan semau mau pengarang. Dan bisa hanya berada didalam kamar saja kalau mengarang buku entah benar entah tidak
    sedangkan prasasti di batu tidak bisa asal tulis saja kalau tempat itu belum ditaklukkan . Bunuh orang kalau asal tulis saja, asal ancam, saja, asal kutuk saja tempat orang kalau belum wilayah itu benar- benar telah ditaklukkan.. dan membuat prasasti dibatu tidak bisa sambil tidur, sambil mimpi, sambil menghayal.
    Mana prasasti gajah mada yang menegaskan kalau wilayah wilayah husantara telah ditaklukkan oleh gajah mada gak ada, cuman di Bali dan lombok saja, itu juga aditya warman yang menaklukkan dan menguasainya.
    Gajah mada mati dalam keadaan hina, tidak ada istri, tidak ada keturunan, tidak ada kawan tidak ada pengikut, tidak ada saudara. Itulah akibat orang besar omong hingga akhirnya makan sumpah nya sendiri.
    Mungkin setelah peristiwa bubat kesabaran hayam wuruk habis sehingga gajah mada diusir oleh hayam wuruk. Karena satupun tidak ada yang terbukti sumpah palapa itu ditambah pula dengan peristiwa bubat yang sangat memalukan majapahit.
    Dan untuk mengingatkan hayamwuruk akan jasa gajah mada yang telah menyelamatkan jaya negara dan menumpas pembrontakan rakuti walaupun sumpah palapa itu gagal ditulislah negara kerta gama oleh seorang empu penjilat situa bangka keparat yang bernama prapanca.
    Kalian suku jawa menggung agungkan ken arok, wikramawardana, jakatingkir dan melecehkan tunggul ametung, bre wirabumi, arya penangsang.
    Kalian tau tidak siapa kenarok, wikramawrdan, jaka tingkir
    Ken arok adalah manusia paling bejat didunia, manusia iblis,licik, culas, tak tau balas budi, gila kekuasaan gila pangkat, tukang berzina dengan istri majikan, pembunuh majikan/ suami kendedes, pembunuh kebo ireng dengan pitnah keji, pembunuh mpu gandring gurunya sendiri yang membuatkan keris mpu gandring, tukang pitnah, itu nenek moyang kamu orang suku jawa yang kalian agung agungkan .
    Berhati- hatilah dengan orang jawa yang menjadi pembantu, tukang kebun, sopir, selip sedikit bisa berzina istri dengan pembantu/ pelayan , sopir, tukang kebun orang jawa. Belajarlah dari sejarah ken arok dan kendedes. Sebenarnya raja2 singao sari dan maja pahit itu darah tunggul ametung lebih kental daripada darah kenarok. Kerta negara adalah anak rangga wuni. Ranggawuni adalah anak anusapati, anusa pati adalah anak tunngul ametung. Gayatri adalah anak kerta negara berarti keturunan gayatri adalah keturunan tunggul ametung. Sedangkan raden wijaya ayahnya adalah orang sunda tidak ada sedikitpun hubungan dengan ken arok. Garis keturunan kenarok dari pihak ibu raden wijaya yaitu dyah lembutal. Dyah lembutal anak singamurti singamurti adalah ank mahisa wong ateleng. Mahisa wong ateleng adalah anak ken arok.
    Raden wijaya menikah dengan dara petak putri dharmasraya yang keturunan raja raja seriwijaya. Mempunyai putra bernama jaya negara ( raja kedua maja pahit)
    Kakak dara petak yang bernama darajingga kawin dengan abya brahman berputra cakra dara, arya damar/ aditya warman, arya sentong, cakra dara kawin dengan ratu tribuwana tungga dewi, jadi arya damar/ aditya warman, arya sentong adalah adik ratu/ maha rani tribuwana tungga dewi sekaligus menjadi ipar tribuwana tungg dewi.cakra dara dan tribuwana tunggadewi berputra yang bernama hayam wuruk. Hayam wuruk berputri kusumawardani. Kemudian cakra dara kawin lagi dan berputra yang bernama raden sotor. Raden sotor berputra bernama prameswara yang menjadi raja malaka.
    Hayam wuruk kawin lagi berputra brewirabumi. Jadi brewirabumi, kusumawardani, prameswara adalah bersaudara, kakek mereka sama yaitu cakra dara. Cakra dara anak darajingga, darajingga anak raja dharmas raya. Dharmasraya berasal dari raja raja seriwijaya. Seriwijaya berasal dari rumpun suku bangsa pasemah/ besemah( wilayah gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musirawas/ lubuk linggau, musi ulu, musi banyu asin, kubu rawas, empat lawang, muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, manak, padang guci/ wilayah propensi sumatera selatan dan Bengkulu).
    Kalau kusumawardani dan wirabumi saudara satu ayah. Kusuma wardani dan wirabumi saudara satu kakek dengan prameswara.
    Brewirabumi dan prameswara tidak mempermasalahkan kusuma wardani. Tetapi yang membuwat brewirabumi dan prameswara naik darah ngapain wikramawardana yang menjadi raja maja pahit.
    Kalau kusumawardani adlah putri hayam wuruk dan cucu cakra dara sama dengan brewirabumi dan prameswara cucu cakra dara. Tapi wikramawardana siapa??? Damarwulan. Gak ada hubungannya sedikitpun dengan majapahit.
    Cakra dara kakek kusumawardani, berewirabumi, prameswara tidak menjadi raja majapahit. Tau diri cakradara. Tetap istrinya yang menjadi maha rani tribuwana tunggadewi. Lah wikramawardana datang datang jadi raja maja pahit sungguh taktau diri taktau malau. WAJAR BRE WIRABUMI DAN PRAMESWARA NAIK DARAH DAN BERSATU MEMERANGI WIKRAMAWARDANA.
    Dan bila melihat garis leluhur prameswara dari cakra dara, darajingga, dharmasraya, seriwijaya, wajar prameswara mengaku keturunan palembang yang berasal dari raja- raja seriwijaya. Ketika prameswara lari ke tumasik/ singapura disana berkuasa gubernur kerajaan siyam yang mana tumasik adalah wilayah kerajaan siyam mana ada tumasik masuk wilayah majapahit palak bapak gajah mada dan mpu prapanca saja gila memasukkan tumasik wilayah majapahit.. Kemudian gubernur kerajaan siyam yang berkuasa di tumasik itu dibunuh oleh prameswara kemudian lari ke malaysia dan mendirikan kerajaan malaka. Adapaun kemudian prmeswara beragama islam karena leluhurnya dari seriwijaya memang sudah banyak yang beragama islam. Arya damar, seri indra warman ( raja kedua seriwijaya) beragama islam. Dan seriwijaya itu sebenarnya adalah kerajaan budah, islam, hindu, yang ketiganya berebut pengaruh dan kekuasaan.
    Sekarang jaka tingkir yang bagi orang jawa diagung- agungkan dan orang jawa melecehkan arya penangsang. Jaka tingkir itu adalah manusia sombong, licik, culas, gila kekuaaan, gila pangkat, taktau malu, taktau diri. Siapa jaka tingkir? Tidak ada sedikitpun mempunyai hubungan darah dengan demak/ raden patah. Jaka tingkir hanyalah menantu terenggono.
    Sedangkan arya penangsang adalah cucu raden patah anak sedainglepen. Setelah wapat pati unus seharusnya yang menjadi raja demak adalah adiknya yang kedua / sedoing lepen/ ayah arya penangsag karena pati unus tidak mempunyai keturunan. Tapi sedoing lepen dibunuh prawoto anak trenggono. Sehingga ayah prawoto/ adik sedoing lepen yang menjadi raja yaitu ternggono. Wajar arya penangsang membunuh prawoto orang yang telah membunuh ayahnya. Arya penangsang tidak membunuh trenggono/ adik ayahnya/ pamannya. Setelah wapat ternggono maka lebih berhak arya penagsang daripada putri trenggono. Wajar arya penangsang yang menjadi raja demak tetapi kenapa jaka tingkir ikut campur. Kenapa jaka tingkir yang ingin menjadi raja/ sultan. Putri ternggono saja/ istri jaka tingkir saja tidak mau menjadi ratu/ sultanah dia tau arya penangsang jauh lebih berhak daripada dia. Lalu kenapa jaka tingkir yang menjadi raja/ sultan, dasar tak tau diri tak tau malau jaka tingkir ini. Wajar arya penangsang naik darah dengan jaka tingkir.
    Kata orang jawa arya penangsang mati kena kerisnya sendiri padahal arya penagsang selamat pergi ke sumatra selatan kedaerah komering dan ogan ilir dan prabu mulih dan keturunanya banyak di prabumulih dan ogan ilir sumatra selatan.
    Pada saat seminar nasional tentang peradaban rumpun suku bangsa pasemah sebagai pendahulu serwijaya yang diadakan di kota pagar alam sumatera selatan raja bali dan seri sultan HBX datang.
    Untung saja sultan jawa ini dan raja bali ini tidak membantah. Seandainya membantah bisa kehilangan muka raja jawa dan raja bali ini. Bisa diungkit semua bagaimana bali dan jawa itu bagaimana hubungannya dengan rumpun pasemah, apa isi prasasti sojomerto batang jawa tengah apa ada bahasa jawa disitu yang menuliskan nama dapunta selendra tulen prasasti itu berbahasa melayu rumpun pasemah . unutung sultan jawa ini baik malah mengadakan silaturahmi dengan tokoh- tokoh rumpun pasemah baik yang berada disumsel dan bengkulu, Malah seri sultan HBX mengatakan kalau dia dan keluarganya berasal dari rumpun pasemah dan datang kepagar alam- sumsel adalah pulang kampung. Adapun tentang asal usul seriwijaya perlu penelitian lagi. Sedangkan raja bali sepertinya sedih dan kecewa karena jejak hindu budah pada masyarakat rumpun pasemah sebagai asal usul dapunta selendra lenyap sama sekali dan telah menjadi masyarakat islam semua. Sedangkan bukti- bukti tentang rumpun pasemah sebagai asal usul seriwijaya dan dapunta selendra sudah sangat jelas kalau masih ingin diteliti lagi tambah bagus. Tapi teliti lagi juga semua seluruh sejarah di Indonesia termsuk teliti lagi juga maja pahit yang katanya menguasai nusantara sedangkan tidak ada bukti kebesaran majapahit, baik itu prasasti gajah mada/ maja pahit ditempat tempat yang disebut dalam hayalan gajah mada dan ditulis mpu prapanca dalam kitab negara kerta gama, istana maja pahit tidak ada, Satu satunya rujukan majapahit hanya kitab dongeng Negara kerta gama saja, yang menulis rencana dan hayalan gajah mada.
    Kalau ada prasastinya mana?????????????????
    Kartu jawa dan majapahit yang pegang orang-orang yang menjadi cikal bakall seriwijaya yaitu orang- orang sumatera selatan dan bengkulu. Apa mau dibuka??????????????????????????????????

    Kamu orang orang suku jawa tidak usah banya tingkah semua kerajaan dijawa itu berasal dari sunda semua . gak ada kerajaan dan raja dijawa apa lagi dijawa timur. Baru ada setelah empu sendok lari kejawa timur baru ada kerajaan dijawatimur itupun dimusnahkan oleh kerajaan seriwijaya. kalau mataram hindu itu berasal dari sunda dari galuh tanah sunda. siapa sanjaya itu?? anak sana raja galuh tanah sunda.
    Gak ada kerjaan gak ada raja dijawa. Semua berasal dari sunda dan seriwijaya semua. Dari arah barat kerajaan2 dijawa itu dari banten, sunda, jawa tengah terakhir jawa timur dan sekarang yang paling akhir jogja dan solo. Kamu suku jawa gak usah gaya. Selendra dijawa itu adalah orng orang seriwijaya yang menikah dengan orang- orang sunda itulah yang menjadi raja- raja dijawa itu paham kalian suku jawa ( jawa tengah, jogja, jawatimur) dinasti selendra berasal dari jawa dari mana dari hongkong. Gak ada kerajaan gak ada raja dijawa itu dulu. Semua berasal dari sunda dan seriwijaya. Kerajaan kaling itu lenyap dihancurkan seriwijaya.
    Kartu jawa dan majapahit yang pegang orang-orang yang menjadi cikal bakall seriwijaya yaitu orang- orang sumatera selatan dan bengkulu. Apa mau dibuka??????????????????????????????????
    putra sumsel | 12 Januari 2014 pada 20.00

    0

    0

    Rate This

    KITAB NEGARA KERTA GAMA ADALAH PITNAH BESAR YANG DILAKUKAN OLEH EMPU PRAPANCA, GAJAH MADA, SUKU JAWA. TERHADAP SUNDA, MADURA, LUMAJANG, NUSANTARA DAN ASIA TENGGARA..

    DIBAWAH INI ADALAH BUKTI KALAU BALI ADALAH WILAYAH SERIWIJAYA.
    Shri Kesari Warmadewa adalah Wangsa Warmadewa yang pernah berkuasa di Pulau Bali, Indonesia dari Tahun 882 M s/d 914 M.
    Dalem Shri Kesari pendiri Dinasti Warmadewa di Bali. Raja dinasti Warmadewa pertama di Bali adalah Shri Kesari Warmadewa [ yang bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha] yang dikenal juga dengan Dalem Selonding, datang ke Bali pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, beliau berasal dari Sriwijaya(Sumatra) di mana sebelumnya pendahulu beliau dari Sriwijaya telah menaklukkan Tarumanegara( tahun 686) dan Kerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah/Semarang sekarang. Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan raja berwangsa Syailendra( dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali.

    Di dalam sebuah kitab kuna yang bernama “Raja Purana”, tersebutlah seorang raja di Bali yang bernama Shri Wira Dalem Kesari dan keberadaan beliau dapat juga diketahui pada prasati ( piagam ) yang ada di Pura Belanjong di Desa Sanur, Denpasar, Bali. Di pura itu terdapat sebuah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuna, sebagian mempergunakan bahasa Bali kuna dan sebagian lagi mempergunakan bahasa Sansekerta. Tulisan-tulisan itu menyebutkan nama seorang raja bernama “Kesari Warmadewa”, beristana di Singhadwala. Tersebut juga di dalam tulisan bilangan tahun Isaka dengan mempergunakan “Candra Sengkala” yang berbunyi : “Kecara Wahni Murti”. Kecara berarti angka 9, Wahni berarti angka 3 dan Murti berarti angka 8. Jadi Candra Sekala itu menunjukan bilangan tahun Isaka 839 ( 917 M ). Ada pula beberapa ahli sejarah yang membaca bahwa Candra Sengkala itu berbunyi “Sara Wahni Murti”, sehingga menunjukkan bilangan tahun Isaka 835 ( 913 M ). Pendapat yang belakangan ini dibenarkan oleh kebanyakan para ahli sejarah.
    Dengan terdapatnya piagam tersebut, dapatlah dipastikan bahwa Shri Wira Dalem Kesari tiada lain adalah Shri Kesari Warmadewa yang terletak di lingkungan Desa Besakih. Beliau memerintah di Bali kira-kira dari tahun 882 M s/d 914 M, seperti tersebut di dalam prasasti-prasasti yang kini masih tersimpan di Desa Sukawana, Bebetin, Terunyan, Bangli (di Pura Kehen), Gobleg dan Angsari. Memperhatikan gelar beliau yang mempergunakan sebutan Warmadewa, para ahli sejarah menyimpulkan bahwa beliau adalah keturunan raja-raja Syailendra di Kerajaan Sriwijaya (Palembang), yang datang ke Bali untuk mengembangkan Agama Budha Mahayana. Sebagaimana diketahui Kerajaan Sriwijaya adalah menjadi pusat Agama Budha Mahayana di Asia Tenggara kala itu.
    Beliau mendirikan istana di lingkungan desa Besakih, yang bernama Singhadwala atau Singhamandawa, Baginda amat tekun beribadat, memuja dewa-dewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau terdapat di situ bernama “Pemerajan Selonding”. Ada peninggalan beliau sebuah benda besar yang terbuat dari perunggu, yang merupakan “lonceng”, yang didatangkan dari Kamboja. Lonceng itu digunakan untuk memberikan isyarat agar para Biksu-Biksu Budha dapat serentak melakukan kewajibannya beribadat di biaranya masing-masing. Benda itu kini disimpan di Desa Pejeng, Gianyar pada sebuah pura yang bernama “Pura Penataran Sasih”
    Pada zaman pemerintahaan beliau penduduk Pulau Bali merasa aman, damai, dan makmur. Kebudayaan berkembang dengan pesat. Beliau memperbesar dan memperluas Pura Penataran Besakih, yang ketika itu bentuknya masih amat sederhana. Keindahan dan kemegahan Pura Besakih hingga sekarang tetap dikagumi oleh dunia.
    Shri Kesari Warmadewa merupakan tokoh sejarah, ini bisa dibuktikan dari beberapa prasasti yang beliau tinggalkan seperti Prasasti Blanjong di Sanur, Prasasti Panempahan di Tampaksiring dan Prasasti Malatgede yang ketiga-tiganya ditulis pada bagian paro bulan gelap Phalguna 835 S atau bulan Februari 913. Shri Kesari Warmadewa menyatakan dirinya raja Adhipati yang berarti dia merupakan penguasa di Bali mewakili kekuasaan kerajaan lain yaitu Sriwijaya. Kemungkinan beliau adalah keturunan dari Balaputradewa, hal ini berdasarkan kesamaan cara penulisan prasasti , kesamaan dalam menganut agama Budha Mahayana dan kesamaan nama dinasti Warmadewa.
    Raja-raja Dinasti Warmadewa Di Bali
    1. 882M – 914M Shri Kesari Warmadewa
    2. 915M – 942M Shri Ugrasena
    • Setelah pemerintahan Sri Kesari Warmadewa berakhir, tersebutlah seorang raja bernama Sri Ugrasena memerintah di Bali. Walaupun Baginda raja tidak memepergunakan gelar Warmadewa sebagai gelar keturunan, dapatlah dipastikan, bahwa baginda adalah putra Sri Kesari Warmadewa. Hal itu tersebut di dalam prasasti-prasasti (aantara lain Prasasti Srokadan) yang dibuat pada waktu beliau memerintah yakni dari tahun 915 s/d 942, dengan pusat pemerintahan masih tetap di Singha-Mandawa yang terletak di sekitar desa Besakih. Prasasti-Prasasti itu kini disimpan di Desa Babahan, Sembiran, Pengotan, Batunya (dekat Danau Beratan), Dausa, Serai (Kintamani), dan Desa Gobleg.
    3. 943M – 961M Shri Tabanendra Warmadewa
    • Baginda raja Sri Tabanendra Warmadewa yang berkuasa di Bali adalah raja yang ke tiga dari keturunan Sri Kesari Warmadewa. Baginda adalah putra Sri Ugrasena, yang mewarisi kerajaan Singhamandawa. Istri Baginda berasal dari Jawa, adalah seorang putri dari Baginda Raja Mpu Sendok yang menguasai Jawa Timur. Di dalam prasasti yang kini tersimpan di Desa Manikliyu (Kintamani), selain menyebut nama Baginda Sri Tabanendra Warmadewa, dicantumkan pula nama Baginda Putri. Beliau memerintah dari tahun 943 s/d 961.
    4. 961M – 975M Shri Candrabhaya Singha Warmadewa
    5. 975M – 983M Shri Janasadhu Warmadewa
    6. 983M – 989M Shri Maharaja Sriwijaya Mahadewi
    7. 989M – 1011M Shri Udayana Warmadewa (Dharmodayana Warmadewa)- Gunaprya Dharmapatni
    • Shri Udayana Warmadewa, menurunkan tiga putra:
    o 1. Airlangga
    o 2. Marakata
    o 3. Anak Wungsu
    8. 1011M – 1022M Shri Adnyadewi / Dharmawangsa Wardhana
    9. 1022M – 1025M Shri Dharmawangsa Wardhana Marakatapangkaja
    10. 1049M – 1077M Anak Wungsu
    11. 1079M – 1088M Shri Walaprabu
    12. 1088M – 1098M Shri Sakalendukirana
    13. 1115M – 1119M Shri Suradhipa
    Sumber
    • Buku “Riwayat Pulau Bali Dari Djaman Ke Djaman”, Disusun oleh: I Made Subaga, Gianyar – Bali
    • Sejarah Bali. Nyoka, Penerbit & Toko Buku Ria, Denpasar, 1990.
    • Ardana, I Gusti Gede,[1988], Udayana, Peranannya dalam Sejarah Bali pada Abad X, Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
    • Munoz, Paul Michel[2009], Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia, Penerbit Mitra Abadi, Yogyakarta

    KENAPA WILAYAH SERIWIJAYA HANYA JAWA BARAT SAJA????
    BAHASA SERIWIJAYA ( MELAYU RUMPUN PASEMAH) BANYAK YANG TERSISA DI BALI
    SEPERTI ade= ada, juge= juga, au= ya, marge= marga dan semua bahasa bali berujung e.
    Balas
    putra sumsel pada 12 Januari 2014 pada 12:35 berkata:
    Komentar Anda menunggu moderasi

    • pada saat peristiwa pralaya yang mana kerajaan jawa timur beserta raja dan seluruh keturunannya dan pembesar2nya dibantai habis oleh seriwijaya. hanya air langga seorang yang dibiarkan hidup oleh seriwijaya yang menjadi menantu darmawangsa. karena air langga berasal dari darah seriwijaya. yang kemudian air langga menikah dengan putri seriwijaya pula. yang keturunannya menjadi raja2 kahuripan, jenggala, panjalu,dan menjadi kerajaan kediri, yang salah satu keturunan darah kediri adalah tunggul ametung, keturunan tunggul ametung adalah raja raja singa sari dan raja2 maja pahit. paham kamu suku jawa. kamu suku jawa mau kwalat durhaka dengan orang2 sumatra.
    Reply

    putra sumsel on January 11, 2014 at 9:39 pm said:
    Your comment is awaiting moderation.
    pada saat adityawarman dan gajahmada menaklukkan bali aditya warman tidak mau menyerang bali selatan karena raja rajanya adlah keturunan langsung seriwijaya. gajah mada yang sangat bersemangat menyarang bali selatan.
    aditya warman membunuh raja bali utara yang masih wilayah bali selatan. gajah mada kalah oleh orang bali keturunan seriwijaya. gajah mada mundur stelah aditya warman datang aditya warman langsung menyerang bali tanpa sepengetahuan gajah mada. karena sama2 berdarah seriwijaya dengan aditya warman raja bali itu mengakui aditya warman dan diajak kemaja pahit oleh aditya warman. pada saat dibali itu gajah mada sudah kehilangan muka. dan benih2 permusuhan aditya warman denagan gajah mada semakin meruncing.
    karena aditya warman mencurigai kematian jaya negara raja maja pahit kedua yang merupakan sepupu aditya warman ( anak bibi aditya warman) adalah konspirasi gajah mada dan tribuwana tunggadewi. atas ini pula adityawarman kemudian melawan majapahit.
    yang membunuh jaya negara adalah ratanca atas perintah gajah mada. buktinya gajah mada langsung membunuh ratanca tanpa diadili terlebih dahulu untuk menghilangkan jejak.
    paham kamu suku jawa

    kartu jawa yang pegang orang2 yang menjadi cikal bakal seriwijaya yaitu sumsel dan bengkulu apa mau dibuka?????????????????
    Balas
    putra sumsel pada 12 Januari 2014 pada 12:56 berkata:
    Komentar Anda menunggu moderasi

    MUDAH MENGHANCURKAN SUKU JAWA ITU. DAN ITU TELAH DIBUKTIKAN OLEH SERIWIJAYA
    Balas
    putra sumsel berkata:
    Komentar Anda menunggu moderasi
    12 Januari 2014 pada 17:48

    Ya sekarang orang jawa bisa banga karena jumalah penduduk terbesar di indonesia. Tetapi jangan lupa jawa secara willayah adalah minoritas, hanya 3 propensi ( jawa tengah, jogja, jawa timur) jawa barat bukan lagi suku jawa tetapi sunda, banten, betawi. Dan madura bukan lagi suku jawa tetapi suku madura. Bandingkan dengan 33 propensi di indonesia. Dan indonesia terbentuk karena persamaan nasib dan harkat martabat Sebagai bangsa yang dijajah oleh belanda, sebagai masyarakat kelas 3/ bumi putra/ kelas paling bawah sebagai bangsa yang tertindas. Atas persamaan nasib itulah indonesia bersatu dan merdeka.
    Indonesia ini bukan jawa, rakyat dari sabang sampai meroke mempunyai hak kewajiban yang sama atas indonesia. Kamu orang suku jawa jangan pernah bepikir presiden harus suku jawa buang jauh- jauh pikiran itu sebab kalau tidak bubar indonesia.
    Timor leste/ timor timur mereka sebenarnya bukan menbenci indonesia, mereka tau kalau mereka adalah bangsa indonesia dan mereka sebenarnya sangat mencintai indonesia. Tetapi orang2 timor leste sebenarnya sangat membeci dan muak dengan suku jawa. Begitu juga papua, maluku/ RMS, sulawesi/ permesta, aceh/ GAM, PRRI, mereka semua sangat mencintai indonesia. Tetapi merka semua sangat membenci dan sangat muak dengan suku jawa. Begitu juga malaysia dan singapura tau mereka darimana asal mereka mereka sangat menghormati indonesia terlebih palembang, minang kabaw, bugis, aceh. Tetapi mereka sangat muak dan jijik dengan suku jawa. Semua orang benci dengan jawa bukan karena iri atau benci dengan orangnya, tetapi semua orang benci dengan suku jawa karena sipatnya yang sangat licik, culas rakus, gila kekuasaan, merasa paling berkuasa, tukang pitnah, tukang adu domba, tukang berzina dengan istri majikan seperti ken arok, tukang MELET perempuan, tukang santet, tukang dukunin orang, itulah sipat watak dan kelakuan suku jawa.

    Menulis sejarah jangan lagi asal tulis saja semau mau pengarang saja. Sekarang orang cerdas semua dan berpikiran kritis semua. Dan akan di buktikan orang betul. Gak akan orang enggiih- enggih aja, Nanti dulu teliti dulu buktikan dulu
    Kitab negara kerta gama Majapahit menguasai asia tenggara adalah suatu fitnah yang terbesar terhadap nusantara dan asia tenggara yang dilakukan oleh mpu prapanca dan gajahmada dan suku jawa.
    Balas
    putra sumsel berkata:
    Komentar Anda menunggu moderasi
    12 Januari 2014 pada 18:24

    DENGAR KAMU SUKU JAWA ASAL TULISLAH KAMU KALAU KAMU BOHONG KALAU KAMU FITNAH SAJA KALAU TERNYATA MAJAPAHIT ITU TIDAK TERBUKTI TERKUTUK KAMU SUKU JAWA DUNIA AKHERAT MATI HINA LAKNATULLAH.
    KAMU LIHAT DIINDONESIA INI ORANG YANG PALING MISKIN, PALING HINA, PALING SENGSARA ADALAH SUKU JAWA, YANG PALING BANYAK ORANG GILA ADALAH SUKU JAWA.. DIINDONESIA TIDK ADA ORNAG YANG MATI HANYA BEREBUT UANG SEDEKAH ORANG SEPULUH RIBU DUAPAULUH RIBU. TAPI DIJAWA HAL ITU BIASA.
    BAHKAN MATI HANYA BEREBUT GUNUNGAN NASI TUMPENG SAJA BIASA. ITU AKIBAT ELIT POLITIKUS SUKU JAWA YANG MENANGGUNG LAKNATNYA KALIAN SUKU JAWA ITULAH.
    Balas
    putra sumsel | 12 Januari 2014 pada 20.23

    0

    0

    Rate This

    KALAU ORANG JAWA MENYEBAR DIMANA MANA BUKAN KARENA MAJAPAHIT TELAH MENAKLUKANNYA. SEPERTI DIMALAYSIA BANYAK SUKU JAWA BUKAN BERARTI MALAYSIA ITU DITAKLUKKAN OLEH MAJAPAHIT GAK ADA PRASASTI MAJAPAHIT DIMALAYSIA. BEGITU JUGA ORANG JAWA BANYAK DIPAPUA PHILIPINA, ALAIRAN SILAT KALI MAJA PAHIT PHILIPINA ITU BUKAN BERARTI PHILIPINA ITU TELAH DITAKLUKAN MAJAPAHIT OLEH GAJAH MADA SEBAB TIDAK ADA PRASASTI GAJAH MADA ATAU MAJAPAHIT DIPHILIPINA. ALIRAN SILAT KALI MAJAPAHIT ITU ADALAH SILAT YANG BERASAL DARI JAWA YANG DIBAWA KEPHILIPINA BUKAN PADA ZAMAN MAJAPAHIT. SEPERTI ALIRAN2 SILAT LAIN DIMANAPUN TEMPATNYA TETAP MEMBAWA ASALNYA DARIMANA SEPERTI WUSHU DISELURUH DUNIA TETAP WUSHU,BEGITU JUGA TAKWONDO, KUNTAU KUNGFU WINGCUN. ADA DIMANA MANA BUKAN BERARTI TEMPAT ITU TELAH DITAKLUKAN OLEH CINA/ KOREA.
    BEGITUJUGA ORANG JAWA ADA DISURINAME. BUKAN BERARTI SURINAME TELAH DITAKLUKKAN MAJAPAHIT/ GAJAH MADA.. ORANG JAWA DISITU ADALAH BUDAK YANG DIPAKSA OLEH BELANDA. SAMPAI SEKARANG URINAME ITU MASIH JAJAHAN BELANDA.
    MUNGKIN SAMPAI KIAMAT SURINAM ITU TIDAK AKAN MERDEKA. KARENA SEDIKITPUN TIDAK ADA KEKUATANNYA SURINAE. APALAGI ORANG JAWA DISITU. GAK USAH BANGGA KAMU SUKU JAWA ADA DISURINAME.
    Reply
    putra sumsel
    5:39 pm on January 13, 2014
    Your comment is awaiting moderation.

    kini kitab negara kerta gama itu telah diakui oleh unesco PBB. sebagai warisan dunia. jikalau benar kitab negara kerta gama itu untuk apa????
    hanya merupakan kebanngaan sejarah masa lalu suku jawa saja. sebab indonesia bukan negara jawa, bukan pula majapahit.
    tetapi jiaka kitab negara kertagama itu pitnah dan tidak terbukti alias bohong maka DEMI ALLAH TANGGUNGLAH AKIBATNYA OLEH KALIAN SUKU JAWA KENA LAKNAT DIDUNIA DAN AKHERAT TERKUTUK DAN HINA DIDUNIA DAN AKHERAT. KARENA TELAH MENYEBAR PITNAH TERHADAP SELURUH NUSANTARA.
    SEBAIK BAIKNYA MENYIMPAN BANGKAI BAU BUSUKNYA AKAN TERCIUM JUGA.
    KOTORAN TETAP KOTORAN WALAU DI BUNGKUS DENGAN SUTRA
    TIDAK ADA YANG ABADI DIDUNIA INI.
    SUATU SAAT JAWA HANCUR LEBUR LULUH LANTAH. KAMU TUNGGU SAJA MASANYA

  38. putra sumsel mengatakan:

    betul setuju oleh sebab itu kita saling hormati saja tidak usah merasa paling unggul merendahkan orang lain. kita semua akan hancur . sumpal dulu sabdopalon darmo gondal gandul itu jangan lagi asal bicara permadi.

  39. jaka tingkir mengatakan:

    Saya juga setuju, kalau kita mahu lebih saling hormat menghormati, penulis Sunda Dulu Dan Kini juga tak usahlah mengungkit2 masalah Bubat.. karenanya semua berpunca dari penulis ini…seolah2 Sunda lebih kuat dari Jawa dan suku lainnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: