dengan mata telanjang
kutemukan kehidupan
dalam renungan
bayangan hingga ingatan
kutanya sebuah kejadian
masa lalu yang tak sempat kulihat
tapi cukup merasakan
antara pahit dan manis
tertawa dan bersedih
perjuangan tiada pamrih
kutatap benda-benda
sebuah awan melingkup di atas jemari kekalbuan
menciut termakan sinar kehidupan
membasahi perut
tatkala sinar belum saatnya terhentak
panasnya terik matahari
sebuah pohon rindang redup
langit biru
air tak berubah dari semula
tapi kuyakin semua akan sirna
roda waktu kian berputar
merubah rona kehidupan
menggilas semua yang ada
hingga tersilap sebuah keterbatasan
ingin kutertidur di atas pohon mahoni yang menjulang
agar terasa dinginnya udara matahari kala redup
sesosok manusia datang dengan sedarhana
berdiri di atas tiang
menghampiri sinar
dibalik anyaman tirai gubuk bambu
Perkampungan yang Hilang
November 21, 2007 oleh Najmu
btw, aku kebetulan juga gemar membaca puisi loh.
Tapi ada yang tidak aku mengerti dalam puisi ini. Semula kupikir ini puisi aliran romanticism. Tetapi ternyata ‘perkampungan’ yang dimaksud tidak berkolokasi dengan alam. Jadi, apakah ini realisme sosialis? Mungkin juga bukan, sebab ada anomali simbol: barangkali formalisme.
Anyway, baris terakhir, “dibalik”, sebenarnya adalah preposisi. Jadi dipisah ya.
(ha ha ha. Kritikus mabok lagi mampir nih)
PS: alamat blogku dah pindah Din, sekarang di fanzam.blogspot.com, yang di link kamu itu masih yang lama.