Semasa sekolah SLTA di Menes Pandeglang Banten aku tidak seperti teman-teman sekelas seperti Iman, Ishak Anwar dan lain-lain yang rajin berangkat ke sekolah. Apabila ditanya tentang malas ke sekolah aku selalu mengelak, padahal tidak beralasan. Teman-teman sekolah waktu itu menganggap alasan yang kubuat terlalu subjektif dan mengada-ada. Kemalasan itu telah membuat aku kurang begitu mengenal lebih jauh terhadap teman-teman sekelas, baik laki-laki atau perempuan. Meski senang bergaul, tanpa memandang siapa pun, tapi hanya segelintir teman yang dapat kukenal dan kesemuanya laki-laki. Tak seorang pun dari teman wanita di kelas yang kukenal.
Umumnya mereka, selain sekolah, juga sambil menimba ilmu di pesantren yang tersebar di daerah Menes, termasuk pesantren yang diselenggarakan pihak sekolah. Sedikit murid-murid sekolah itu yang tidak mendapat pendidikan ganda (sekolah plus pesantren). Walaupun di antara murid-murid sekolah berasal dari daerah Menes sendiri, tapi mereka masih termasuk murid Pesantren. Kurikulum sekolah memang tidak jauh berbeda dengan sekolah-seolah Aliyah yang lain, tapi kebanyakan pelajaran agama yang diajarakan di sekolah MALNU kebanyakan berbasis kitab kuning lainnya materi yang diajarkan di pondok pesantren (Ponpes). Misalkan pelajaran bahasa Arab sewaktu kelas tiga yang diajarkan adalah kitab Alfiyah karya Ibn Malik plus kitab sharaf (seperti Nadzham Maqsud), mantik (seperti Jauhar Maknun), pelajaran tafsir hadits dengan Mukhtar al-Hadits karya Nawawi dan al-Jalalain karya imam ash-Suyuti dan al-Mahalli, peljaran fiqh seperti kitab Fathul Qarib dan lain-lain. Sekolah itu pun banyak mengangkat guru-guru yang berasal dari pendidikan pesantren. Bahkan sebagian guru ada yang sudah tua dibantu sebatang kayu tongkat dan berpakaian kain sarung, ikat pinggang yang tebal mengajar kitab Mukhtar al-Hadits guru itu bernama K.H. Ajok.
Termasuk salah satu guru di pesantren Kananga K.H. Encep Farachi L.c. mengajar bahasa Inggris di sekolah itu. Sementara K.Hj. Ratu Umi Enong Khuzaimah -istri kedua dari kepala sekolah K.H. Ma’ani serta kakak permpuan guruku K.H. Abdul Hakim, mengemban pelajaran Tafsir dan Hadits. Adapun materi pelajaran umum kebanyakan diajarkan oleh guru-guru yang usianya masih muda yang kebanyakan jenjang pendidikannya tidak sampai strata satu (S1).
Bersama teman sekelas bernama Sohib aku sering berangkat bersama dari Kananga ke Menes, karena kebetulan ia teman satu pesantren denganku. Sebenarnya banyak teman dari pesantren kanaga yang berangkat bersama dan lebih rajin dariku, namun kebanyakan mereka adik kelas seperti Abdul Rauf, Yunan, Encep Abdul Rauf (Cep Dur), Didi Rosyadi (Dedeng) dan lain-lain. Teman-teman lain seangkatan namun berbeda kelas -dari IPA misal Farida (Ida) dan Khadijah, sementara aku dari IPS.
Sebelum berangkat sekolah, malam atau pagi hari aku bertanya ke Sohib tentang mata pelajaran yang akan diajarkan di sekolah. Bahkan jika tidak sempat kutanyakan, maka aku berangkat tanpa mengetahui mata pelajaran yang akan diajarkan, karena bila tidak lupa aku tidak menulis daftar mata pelajaran sekolah.
Al-hasil, sikapku sewaktu sekolah madrasah Aliyah di Menes dapat dikatakan Ase (asal sekolah). Namun, untuk pelajaran umum seperti matematika, PPKN, sosiologi dan lain-lain aku selalu memaksakan diri untuk mengikuti pelajaran-pelajaran itu, terutama bahasa Inggris, karena selain merasa penting kurasa pelajaran itu sangat berarti penting bagi seorang awam sepertiku tentang bahasa Inggris pelajaran itu diajarkan oleh K.H. Encep Farachi. Mungkin sekali karena merasa malu bila tidak mengikuti, tapi yang jelas pelajaran yang satu itu sering kuikuti setiap hari Senin, jam ke-3 sekitar pukul 11 (bila tidak lupa). Atau berangkat sekolah karena mendapat informasi dari teman untuk mengikuti ujian mata pelajaran tertentu. Namun, ketika ujian tiba teman-teman -khususnya teman pria banyak bertanya kepadaku tentang jawaban soal ujian.
Singkatnya, selama duduk di bangku sekolah madrasah aliyah MALNU aku betul-betul pasif alias tidak aktif. Bahkan sampai hari ujian akhir nasional (UAN) aku betul-betul tidak mengetahuinya. Hal ini, jelas-jelas merupakan cerita yang sangat lucu dan semoga tidak seorang pun menirunya.
Suatu saat, di pagi hari kurasakan seperti ada dorongan untuk berangkat sekolah, padahal malam harinya tidak sedikit pun terbesit perasan bahwa pada esok hari aku harus sekolah atau tidak. Namun, setelah mandi pagi di Cilaban (nama sebuah mata air yang biasa dipakai mandi para santri Kananga) kemudian mengaji Tafsir Jalalain dan Kifayatul Akhyar bersama santri-santri lain, aku bergegas-gegas memakai seragam sekolah, memakai sepatu hitam merk Adidas dan membawa peralatan sekolah termasuk Peci hitam, karena pihak sekolah mewajibkan (mengharuskan) murid-murid memakainya ketika berada di dalam sekolah. Tiba di sekolah kulihat banyak murid-murid kelas 3 (tiga) seangkatan, termasuk kelasku (kelas B) sedang mengadakan apel pagi seperti upacara hari Senin, padahal hari itu bukan hari Senin. Kupikir baru kali ini melihat upacara sekolah, karena selama sekolah aku tidak pernah mengikuti upacara atau apakah sekolahku itu tidak pernah mengadakan upacara hari Senin, aku sendiri tidak tahu? Di depan seseorang (lupa siapa orannya) instruktur upacara sedang memberikan pidato. Aku datang dari depan gebang sekolah depan alun-alun Menes, biasanya aku masuk melewati jalan belakang sekolah. Sebelum masuk mengikuti upacara aku dimarahi terlebih dahulu oleh K.H. Zidni (bila tidak salah), karena ia menyuruhku merapikan pakaianku untuk memasukan baju sekolah dan memakai peci hitam. Setelah aku masuk di barisan paling belakang, kutanya temanku (entah Iman atau Anwar), ini upacara apa? ia diam tidak menjawab. Sangat singkat aku mengikuti upacara itu, karena aku datang terlambat agak siang. Setelah itu, aku mengikuti teman-teman sekalasku mengikuti kelas yang tidak biasanya kupakai. Sebelum masuk kelas aku merasa bingung bukan kepalang karena setelah selasai upacara ternyata teman-teman memberitahukan bahwa upacara itu merupakan pertanda dimulainya hari Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Ebtanas. Nah, kini aku merasa bingung, karena tidak sedikitpun mempunyai persiapan menganai ujian, selain mengaji kepada Abah (panggilan kepada guru ngajiku di kanaga) pagi hari tadi. Di pondok aku sama sekali tidak mendapatkan informasi bahwa hari ini adalah hari ujian, sementara Sohib tidak membicarakannya, ia beralasan tidak bertemu denganku dan ia pikir bahwa aku sudah mengetahuinya. Lantas aku duduk di barisan depan paling kanan di antara teman-temanku itu. Anwar duduk di barisan dua dari kanan dan kedua dari depan. Jadi, ia tidak terlalu jauh dariku untuk diajak bicara, karena Anwar termasuk teman dekat yang bukan dari pesantren Kananga, karena Sohib duduk di bangku belakang barisan Anwar dari depan.
Dengan perasaan yang sedikit masih bingung itu, aku melirik ke arah belakangku, dan ternyata kulihat temanku perempuan -yang belum kukenal namanya, tengah mengeluarkan peralatan seperti pinsil 2 B, penghapus dan gillete dari sebuah wadah kecil seperi tas yang sangat mini dari kain. Dalam benaku, oh iya aku tidak mempunyai itu -apalagi alat penyangga kertas jawaban. Kali ini aku tidak boleh malu-malu untuk berterus terang bahwa aku tidak mempunyai persiapan untuk itu. Keadaan sudah mendesak, sementara aku harus memakai pinsil 2 B, kupikir untuk membeli ke warung sudah tidak memungkinkan karena cukup memakan waktu.
Tanpa banyak berpikir lagi, aku meminta kepada teman yang duduknya paling dekat denganku di belakang -karena di samping agak jauh sedikit. Teman wanita itu kutanya, apakah masih punya lagi pinsil 2 B. Ia menjawabnya, oh kebetulan tidak punya. Kutanya lagi, aduh gimana ya aku tidak punya itu, tolong minta sedikit saja. Itu pincil punyamu kan panjang potong sedikit saja, tanyaku lagi sambil mengucapkan “sedikit” menunjukan batasnya seukuran satu ruas dari kuku bagian dari jari kelingking. Teman wanita itu malah sedikit tersenyum, loh kok aneh mau ujian tidak punya pinsil 2 B, katanya. Pokoknya aku menginginkan potongan pinsil 2 B kamu sedikit saja, tegasku lagi. Dengan wajah tersenyum sambil seperti berpikir, ia lalu menyebutkan, “oh enya rarasaan mah aya di erang-erang belah luhur iyeu ngan pondok pisan sok pilarian bae”. Maksudnya, sambil menunjukan di atas kepalanya, ia mengatakan, “oh iya rasa-rasanya ada di pentilasi kelas (di atas kepala kita -saya dan dia) cuma sangat pendek silahkan cari saja sendiri”. Aku lekas-lekas mencarinya, dan ternyata benar aku mendapatkannya, kemudian aku meminjam gillete untuk melancipkan pinsil itu. Pengawas kelas pun datang (namanya Fadhil) sambil membawa lembar soal dan lembar untuk jawaban.
Hari pertama ujian dimulai, waktu itu bila tidak lupa mata pelajarannya geografi. Suatu soal ujian multiple choice (pilihan ganda) yang sampai sekarang (Jum’at 14 April 2006) selalu teringat dari hari itu tentang angin ribut yang pernah terjadi di negara bagian amerika tepatnya di mana? Sepengatahuan itu, kujawab Florida. Lalu temanku wanita yang dari belakangku itu menyentuhku dengan pinsil sambil berbisik-bisik, hai soal nomor (sekian) itu apa sih (masudnya tentang angin ribut)!. Lantas kujawab, kalau aku sih menjawab Florida. Tapi, kalau kamu ragu jawabannya jangan diikuti saja dan kalau nanti jawabannya salah jangan salahkan saya, tegasku.
Selama sekolah madrasah aliyah, baru kali itu aku berbincang dengan teman sekelas wanita. Aku tidak banyak memperhatikannya, tapi yang jelas ia terlihat sangat cantik, baik dan bukan type orang pendiam. Seingatku waktu itu ia memakai kerudung putih dengan renda dipinggirnya berwarna merah.
Sepulangnya dari sekolah di jalan sejenak aku berpikir, baru kali ini aku merasakan dekat dengan teman wanita sekelas walau belum mengetahui siapa namanya dan dari mana asalnya.
Kemudian hari kedua ujian aku berangkat lagi ke sekolah. Kali ini perlatan yang tidak tersedia pada hari pertama sudah dipersiapkan, seperti pinsil 2 B. Bahkan pada malam harinya aku menghapal dan membaca-baca buku mengenai meteri apa yang kiranya akan keluar di hari ujian berikutnya sebagaimana dalam jadwal mata pelajaran yang diujikan.
Tiba pada (lupa harinya) ujian mata pelajaran bahasa Arab, hari itu juga merupakan hari yang selalu terkenang selama ini, karena pada saat itu aku dapat mengetahui namanya dengan jelas melalui kertas jawabannya yang telah dicantumkan namanya. Dina nama(panggilanya)-nya, ia memang termasuk murid paling aktif di kelas, baik di antara laki-laki maupun perempuan. Ia juga bendahara kelasku sewaktu kelas tiga madrasah aliyah.
Terdengar dari belakang, Dina seperti sedang mendiskusikan soal dengan Anwar yang duduk di sebelah kiri Dina. Namun, terdengar suara Anwar yang menyarankan, wah kalau soal seperti ini lebih baik tanyakan ke Ansor saja. Tidak lama kemudian, ia pun bertanya kepadaku, dan aku tidak ingin ambil resiko karena ketahuan pengawas. Lantas aku lebih mengangkat lembar jawabanku agar terlihat olehnya. Kupikir siapa peduli dengan jawabanku, mau diikuti atau tidak terserah. Ini soal disiplin, untung saja aku masih mau sekolah, karena itu masih dapat mengikuti ujian. Saat itu, dengan penampilan serba cuek aku sebatas hanya ingin mengenal atau bahkan berteman meski secara kebetulan -tidak sengaja. Ketika soal esai tiba, ia lantas banyak bertanya kepadaku tentang soal-soal bahasa Arab itu. Pertanyaanya bila tidak lupa, sebutkan syarat-syarat musabbah beserta contohnya? Kujawab lalu kuberitahu Dina bahwa jawabannya di antaranya adalah sibih, musabbah, musabbah bih dan alat sibih. contohnya bagaimana dan mana yang kedudukan sebagai ini dan itu? Aku lantas, memakai contoh yang biasa di pakai dalam bahasa pesantren seperti “zaidun ka al-asadi” (Zaid seperti macan). Kemudian Dina menginginkan contoh yang lain, aku tidak banyak berpikir dalam mencari contoh, “Dina ka al-Qomari” (Dina seperti Bulan). Dengan wajah yang kadangkala tersenyum, namun keadaan itu seperti kuhadapi dengan dingin, begitupun Dina. Ia terus bertanya ini, itu, bagaimana dan seterusnya. Anwar yang duduk di sebelah kiri Dina kadangkala bertanya juga padaku begitu pula Iman. Anwar berkata, Dina kamu enak banget duduk dekat Ansor bisa bertanya, sementara aku susah tidak ada yang ngasih tahu. Ketika itu, aku terlihat seperti orang yang sudah akrab dengannya. Padahal kupikir Dina terlihat termasuk murid paling aktif di kelas. Selain itu, ia juga vokal dan berani dalam bicara bila guru mempersilahkan murid bertanya. Karena itu, sempat terpikir olehku, apakah Dina sengaja berpura-pura tidak tahu karena ingin kenal denganku atau benar-benar tidak tahu. Memang selama itu, aku tidak begitu akrab dengan teman wanita, kurasa mereka hanya tahu muka saja bahwa aku sekalas dengan mereka. Sebelumnya, suatu ketika hari biasa di kelas, Dina pernah menegurku karena belum membayar uang kas sekolah.
Pada hari ujian itu aku pulang paling pertama, karena soal jawaban palajaran bahasa Arab telah kuselesaikan semua. Kemudian pengawas bernama Fadhil guru pelajaran bahasa Arab yang mengajar kitab Alfiyah itu bertanya kepada Dina, eh Dina ini siapa, apa masih kelas ini?. Aku lantas keluar tidak menghirukan percakapan itu. Lalu Sohib keluar, disusul kemudian Dina.
Hari-hari ujian Nasional berakhir sudah terlewati, tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Ketika kutanya teman ketika di Alun-alun Menes, ternyata semua teman-teman sekelas lulus semuanya. Dan sekolah akan mengadkan study tour ke daerah Jawa.
Kemudian aku membayar pendaftaran untuk mengikuti study tour tersebut sebesar bila tidak lupa Rp. 100.000.- per orangnya. Hari keberangkatan tiba, ada 2 mobil bus besar yang telah disediakan di depan Alun-alun, satu bus untuk perempuan dan satu lagi untuk Pria. Semula keberangkatkan akan dimulai ba’da dzuhur, namun mobil berangkat kira-kira jam 15.00-an sekitar pukul tiga kurang seperempat sore. Melewati jalur Jiput, mobil melaju cepat masuk daerah Anyer kemudian Cilegon, Tanggerang dan Jakarta.
Kira-kira waktu sebelum shubuh mobil istirahat sejenak di daerah Tegal. Adzan berkumandang, aku lekas-lekas mengambil air wudhu di mushalla mungil tempat peristirahatan mobil-mobil. Di pinggir mushalla terdapat kedai kopi dan rumah makan pinggir jalan. Udara terasa dingin, aku memesan secangkir kopi hitam beserta teman-teman untuk menghangatkan tubuh.
Dengan memakai baju kemeja lengan panjang kesukaanku berwarna hijau bercorakan kotak-kotak putih dan hitam, celana berwarna abu-abu seragam sekolah aku bergabung dengan teman-teman. Di dekat pintu mobil belakang sebelah luar aku dan teman-teman membentuk lingkaran kecil mengelilingi beberapa cangkir kopi dengan menghisap rokok star mild yang saat itu cukup dikatakan popular.
Sambil berbincang-bincang dengan teman aku melihat dan merasakan sekeliling lingkungan suasana daerah Tegal pada pagi hari sebelum matahari terbit. Kulihat di seberang pinggir jalan ada jalan rel kereta Api, aku ingin melihat kereta api itu melintas, tapi tk kunjung datang. Dalam susana remang-remang cuaca serta diselimuti rasa haru dan senang, kegelapan langit mulai pudar diiringi sedikit cahaya putih kebiru-biruan. Lampu-lampu masih terlihat terang.
Aku melirik ke arah pintu mobil bus yang ditumpangi teman-teman wanita, terlihat ada sesosok wanita yang bersembunyi mengintip dibalik pintu belakang bus. Ia terus memandangku, aku tidak tahu siapa wanita itu, karena banyak sekali peserta yang ikut termasuk perempuan, sedangkan jumlah kelas angkatanku terdiri dari 5 (lima) kelas. Aku terus memperhatikannya sambil mulut masih berbincang-bincang dengan teman-teman yang tengah menikmati udara pagi beserta secangkir kopi dan sekepul asap rokok. Kemudian aku bertanya kepada Sohib, siapa wanita yang manatapiku itu? Tidak tahu, Sohib menjawab. Aku terus memperhatikannya, karena bila ia keluar daari balik pintu itu ia akan terlihat jelas melalui kaca dan lampu dalam mobil. Ia pun pindah ke bangkunya tepat berada sebelah pinggir kiri mobil yang ditumpangi wanita, dan ini akan terlihat nanti karena aku duduk di pinggir sebelah kanan mobil yang bergandeng-gandengan dengan mobil yang ditumpangi wanita. Jadi, ia akan nampak kelihatan karena aku tahu arah tempat duduk wanita itu di kaca.
Matahari mulai menampakan sinarnya, aku lekas-lekas naik mobil karena sebentar lagi mobil akan berangkat. Aku duduk di bangku tiga bersama Iman dan Ishak Kemudian Iman berkata kepadaku, Sor dari tadi wanita yang di mobil sebelah itu melihatmu terus. Cuma sayang ada gorden menghalangi raut wajah si wanita itu. Ketika hari mulai terang, nampak yang duduk di bangku mobil sebelahku itu rupanya Fitri temen sekelasku, aku tanya Iman, kalau teman akrabnya Fitri itu siapa? Dina, kata Iman. Karena aku masih penasaran, kutanya kembali Iman, kalau yang duduk di sebelah kiri Fitri siapa -karena terlihat bersembunyai di bangku paling pinggir balik gorden mobil.
Ketika mesin mobil perlahan menyala, Dina terlihat nampak tersenyum sambil menawarkan sebungkus besar berisikan kacang garuda. Iman berkata, eh Fitri sama Dina mau ngasih kita kacang yuk kita ambil cepat, aku bilang ambil saja sendiri dan malah menyuruh Ishak mengambil nya. Kini, jelas siapa orang itu, tapi aku masih malu dan tidak percaya orang cantik, baik dan pintar itu akan bersikap baik kepadaku. Aku diam sambil merokok dan Dina terlihat masih memandangku sampai mobil itu berangkat.
Ketika roda mobil itu sudah berputar, aku membuka baju kemajku itu agar tidak terasa gerah. Kedua mobil sering bergandengan di tengah-tengah jalan, ketika di depan mobil lain sedang sepi. Terkadang aku melirik ke arah bangku Dina yang duduk di mobil yang ditumpangi teman wanita.
Di Jawa aku keliling dan mendatangi tempat-tempat makam para wali untuk melakukan ziarah. Pada saat pulang, mobil menuju ke arah Magelang, kemudian ke candi Borobudur. Di sana aku bersama teman-teman mengintip dalam candi, kemudian menemukan sebuah kotak kayu. Entah apa isinya, teman-teman semula akan mendobrak isi kotak kayu itu, namun tidak lama petugas datang. Teman-teman masih tidak membuka peci putihnya sehingga ada sekawanan turis lokal yang berkata kepada temanya, eh kok di candi pake peci Haji. Aku kemudian tertawa bersama teman-teman. Di sana aku ketemu Farida (teman seangkatan -kelas Ipa yang kebetulan berasal dari Bogor). Aku berjlan-jalan sebentar bersamanya sambil menayakan ini dan itu di sekeliling candi.
Setelah selesai ziarah (mengunjungi) candi Borobudur, kemudian melanjutkan pulang. Tiba di Semarang pada sore hari setelah Maghrib, di mobil kulihat orang-orang di pinggir rumah warga sedang melihat wayang kulit bersama-sama. Kemudian tiba di Kendal istirahat di pondok pesantren tahfidzul qur’an dekat masjid al-barokah pinggir persimpangan empat. Di pesantren itu, teman-teman disambut gembira oleh pimpinan pesantren yang tengah mengadakan acara kelulusan (ihtifalan) murid yang sudah tamat menghafal al-qur’an 30 zuz. Di antara para santri yang lulus itu, adalah anak dari Hj. Neng Makiyyah istri pertama K.H. Ma’ani kepala sekolah Malnu. Teman-teman di sana disediakan makan, sudah barang tentu mereka yang tengah measa lapar makan dengan lahap bahkan ishak dan iman, termasuk aku menambah lagi setelah menghabiskan satu piring penuh.
Setelah makan kemudian pergi WC untuk mencuci tangan dan muka, yang terasa gerah. Lalu keliling sekitar pesantren itu sampai pinggir jalan raya dekat sungai. Kemudian menghampiri sebuah kedai kopi dan memesan bubur kacang ijo. Banar kata teman bahwa di daerah jawa harga makanan terbilang cukup murah di bandingkan dengan harga di pandeglang. Waktu itu, harga kopi sekitar Rp. 200,- dan bubur Rp. 300,-. Aku dan teman-teman kemudian berjalan-jalan sambil menuju pesantren dan mlihat serta mendengarkan acara itu secara tidak serius. Kemudian mendenarkan lantunan shalawat dan do’a-doa dari para peserta ihtifalan yang berseragam jubah putih seperti busana Arab berkelilingdi atas panggung kurang lebih 15 x 6 meter yang terbilang cukup luas. Di antara bacaan do’a yang sempat teringat ialah do’a dari imam as-sya’ani berbunyi: ilahi lastu lil-firdausi ahla, wala aqwa ‘ala nari al-jahimi fahabli taubatan waghfir junubi fainnaka ghafirun janbil ‘adzimi. Do’a yang sering terdengar di suara masjid-masjid lain setiap sebelum maghrib dikampungku, namun dengan lirik lagu yang berbeda ala Jawa-Kendal.
Di depan rumah warga kutanya salah seorang santri memakai kain lenkap dengan peci dan baju kemeja yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan halaman rumah itu, assalamu’alaikum!, sapaku kepada santri itu. Waalaikum salam! jawab santri. Ia kemudian bertanya, Mas-mas ini dari mana ya? Kami ini dari Banten ikut rombongan mobil bus itu, kataku. Boleh tanya, kataku? Silahkan, jawab santari. Bagaimana cara santri di sini menghafal al-Qur’an hingga tamat, kataku. Santri menjawab, oh begini mas santri diharuskan setor misalkan dua atau tiga bahkan sampai lima ayat dalam setiap harinya kepada guru. Nah, ayat-ayat yang pada hari-hari sebelumnya telah dihafal tersebut terus diulang kembali bersamaan dengan ayat yang dihafal pada hari itu -hari penyetoran ayat. Nanti itu berlangung sampai jika semuanya ayat al-qur’an sudah dapat dihafal, begitu santri menjelaskan dalam pecakapan singkat itu. Tidak lama kemudian, sekitar pukul sebelas malam aku beserta rombongan pulang menuju Banten melewati jalur pantai utara (Pantura) sembari melihat pemandangan air laut daerah utara Jawa dari semarang sampai Cirebon. Setibanya di Jakarta tepatnya, dekat Gedung MPR/DPR jalanan sangat macet karena pada saat itu, para mahasiswa tengah mengadakan demonstrasi besar-besaran. Di atas jalan terlihat mhasiswa berseragam hijau seperti mahasiswa IAIN Syahid Ciputat tangah mengacung-acungkan bendera merah putih dan organisasinya. Sementara di jalanan bagian bawah jalanan penuh dijejeali dengan mahasiswa berseragam jas kuning, seperti dari universitas indonesia (UI) dan berbgai elemen mahasiswa lainnya tengah menduduki gedung MPR. Terlihat mobil sedan sedang memasuki gerbang masuk gedung MPR dan melambai-lambaikan tangan kepada mahasiswa. Kulihat, orang itu adalah Emil Salim mantan ketua KAMMI tahun 1960-an ketika Soekarno berkuasa.
Di pinggir jalan banyak tentara baret merah berjaga-jaga bersenjatakan lengkap beserta tank baja. Merka terlihat waspada memperhatikan suasana di tengah soak sorainya mahasiswa yang berdemonstrasi meneriakan yel-yel gagalkan Sidang Umum (SU) MPR, bahkan ada yang meneriakan turunkan soeharto. Namun, perjalanan mobol rombongan terus melaju meski dengan perlahan. Sementara itu, di sekitar tanggerang terlihat gedung-gedung mewah sudah dihiasi dengan pecahan kaca-kaca bekas lemparan batu dan kebakaran. Mungkin karena bekas kerusuhan, gedung-gedung itu belum dapat berfungsi. Sesampainya di Anyer rombongan beristirahat sejenak, teman-teman biasa menyebutnya tempat peristirahatan itu dengan Pemda. Di situ, aku membeli minuman dan makanan ringan, karena aku pikir perjalanan sebentar lagi sampai. Kali itu, aku beserta teman-teman meminum kelapa muda dan sprite untuk menyegarkan badan yang terasa sangat gerah.
Perjalanan pulang dilanjtkan kembali, dan setibanya di pesantren Kananga aku lantas naik kamar atas majelis pertama dan membuka oleh-oleh makanan. Kmudian oleh-oleh itu sebagian dibagikan kepada teman-teman., dan teteh Khadijah (Ijah) istri K.H. Encep farachi, karena teteh menagihku dan Sohib kue lemper Jawa.
Beberapa hari setelah itu, pada sore hari setelah mengambil rumput untuk kambing, aku melewati pesantren perempuan (santri pawon) dan seeornag (Endah) memanggilku, Acon (nama panggilanku) lihat kemari sebentar, lihat siapa nih! Karena tanggung badan mersa berat memikul sekarung rumput penuh, aku tidak menggubris sapaan Endah itu. Namun, setibanya di kandang kambing kucoba melirik arah endah yang memanggilku, dan ternyata ada Dina di atas.
Aku pikir kok Dina ada di sini -pesanren kananga, apakah ia dekat anak-anak santri pawon. Hari itu aku berbincang-bincang dengan sohib dan bertanya, eh tadi aku melihat ada teman kita sekelas dina ada di sini, sdnag main ke siapa ya. Sohib menjwab, oh baru tahu ya dia itu memang sering ke sini. Kan fitri mempunyai adik perempuan yang mesantren di sini.
Siangnya lagi aku berbincang-bincang dengan sohib dan teman-teman lain konon kata teman (lupa siapa namanya) Dina itu, memang jadi incaran guru Malnu bernama Fadhil dan sempat diguna-guna (pelet) melalui sabun mandi, karena mengetahui saingannya adalah Akih anak K.H. Ma’ani dari istri kedua Umi enong Khuzaimah.
Saat itu, sejenak aku merenung untung saja aku tidak sempat mengucapkian “i love you” kepadanya, karena memang aku sangat tertaarik, namun aku juga sedikit mawas diri ketika kutahu Dina sering main ke kananga. Ia pasti mengetahuiku bahwa aku sering menggembala kambing milik guruku. Lagi pula ada Nurhasanah yang masih menjadi isu hangat bahwa ia pacar resmiku, padahal kenyataan tidak seperti itu.
Sore hari berikutya ba’da ashar ketika aku tengah istirahat dekat kandang kambing sembari membakar rumput kering bekas makan kambing aku melihat Dina dan Fitri memandangku dari arah kejauahan sebelah atas dekat pesantren wanita. Dina terlihat menunjukku kepada Fitri seperti sedang membicarakanku. Aku diam saja, sambil membakar rumput ditemani Syarif Hidayat (Endai).
Hampir sebulan sesudah itu, terdengar kabar bahwa Dina akan menikah dengan Fakih (yang kemudian mendirikan pondok pesntren Fathul Ma’ani). Pernikahan pun terjadi kira-kira sebulan setelah mendengar kabar itu. Tidak lama kemudian Farida (Ida) bercerita kepadaku, bahwa sebenarnya Dina sangat menyukaiku dan ia ingin dekat denganku, namun sayang kata Ida menuturkan cerita Dina, aku itu terlalu sombong, jarang menyapanya. Kupikir, mungkin saja ia berpikir begitu dan aku terima ha itu bila kenyataan memang ia merasakan perlakuan sombong dariku. Tapi, kurasa aku hanya sangat pemalu waktu itu, dan buat apa memikirkan yang sudah toh kejadiannya sudah terlewati.
Pesona ‘98
November 11, 2007 oleh Najmu
main atuh.., sor, ke weblog komunitas blogger UIN
hebat sekarang mah udah punya blog hayooo majukan blog uin bandung nya
kang najmudin aku alumni mtk uin bandung main atuh ke cilegon di tunggu bersama alumni lainnya mari kita buat perkumpulan alumni and adakan bakar-bakar jagung aku salut ama pengalaman kang najmudin aku teringan ama masa laluku di pesantren miftahul falah cileunyi makan kurang dan selalu ngirit tapi alhamdulillah berkat kesabaran sekarang tinggal metiknya salam ke seluruh anak mtk uin bandung fakultas sain dan teknologoyaaaaa horeeeeeeeeeee