Selain tulisan buku agenda harian berwarna putih yang diadakan panitia KKN (Kuliah Kerja Nyata) UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2003-2004, buku itu penuh tulisan tentang serentetan tugas dan kegiatan yang terkadang kebenarannya masih disangsikan karena dapat dimanipulasi peserta KKN dan harapan peserta akan nilai baik dari pembimbingnya. Namun, catatan agenda harian yang tersimpan dalam buku kenangan pribadi tak akan ternilai jumlahnya serta tak dapat dimanipulasi karena tulisannya berangkat dari pengalaman pribadi.
Selepas “minggu tekun” (waktu libur setelah ujian akhir semester/UAS) semester tujuh, aku membayar uang registrasi kuliah, lalu mendaftarkan diri untuk mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) sebagai salah satu syarat untuk mengikuti wisuda dan juga merupakan pelaksanaan tri darma perguruan tinggi.
Dalam penempatan tempat peserta KKN, semulanya aku mengharap kebagian jatah di daerah perkampungan agar bisa memandang kondisi desa di beberapa kabupaten provinsi Jawa Barat yang indah dan berbaur dengan masyarakat. Memang semasa pendaftaran KKN, aku mendaftar agak akhir dari pada teman-teman mahasiswa lain. Karena itu, di kaca pengumuman Al-Jamiah namaku terpampang di kelompok 30 (tiga puluh) yang berlokasi di kelurahan Situ Saeur kecamatan Bojong Loa Kidul kotamadya Bandung, lebih tepatnya lagi kantor kelurahan wilayah itu berdampingan dengan terminal Leuwi Panjang Bandung, sebelah kiri Cibaduyut dari rute perjalanan ke arah Bogor-Jakarta.
Setelah pengumuman itu aku mencari kawan-kawan kelompok 30 (tiga puluh) yang terdiri dari 15 (lima belas) orang. Tanpa sepengatahuanku, ternyata mereka sudah mengadakan perkumpulan dan membagi-bagikan fasilitas KKN, seperti buku bullpoint dan lain lain. Aku mencari teman-teman kelompok 30 di sudut-sudut kampus dan masjid kampus yang menjadi tempat kelompok mahasiswa lainnya berkumpul. Aku berhasil menemukan salah satu teman dari kelompok 30 (tiga puluh) bernama Anis Mariyam Nur Farida (Meri) dari jurusan PBI fakultas Tarbiyah. Saat itu, Meri didampingi adiknya yang masih duduk dibangku SMA kelas 3 (tiga) yang semula kuanggap temannya. Ternyata, Meri juga sedang mencari teman lain dari kelompok 30 (tiga puluh) setelah terlihat Ia menyebut kelompok itu. Lalu, aku bercakap-cakap dengannya dan Ia memberikan nomor-nomor telepon seluler/HP kelompok 30 (tiga puluh) yang sudah terpampang di sebelah kaca pengumuman.
Besoknyaaku datang dan menghubunginya lagi, Ia menjawab aku disuruh menemui teman-teman di depan gedung BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) untuk berkumpul bersama mereka. Di saat bertemu mereka aku merencanakan kumpul kembali di masjid kampus IAIN. Di masjid itu mereka membagi-bagikan tugas, di antaranya ketua, sekertaris, bendahara dan lain-lain. Sedangkan aku mendapatkan tugas pemembuatan spanduk, stempel logo kelompok dan lain-lain.
Tanggal 23 Januari 2004 pembimbing kelompok 30 (tiga puluh) Dra, Jaja Azizah memberikan pengarahan kepada para mahasiswa yang menjadi anak asuhnya yang terdiri dari kelompok 29 dan 30 di ruang W 16 tepatnya fakultas Tarbiyah lantai tiga. Meski kedatangan ibu pembimbing itu agak terlambat, tapi Ia sempat meberikan saran-saran di antaranya tentang agama, status sosial, letak lokasi, penyuluhan untuk persiapkan KKN, pendidikan masyarakat, fasilitas-fasilitas di masyarakat, dan sebagainya.
Tanggal 26 januari 2004 aku menerima uang dari Vidyawati alias Pipit mahasiswi Jurusan Fisika untuk pembuatan spanduk, stempel, dan isi stempel sebanyak Rp. 75.000,-. Tak lama setelah itu, aku memesan semua itu kepada tukang pembuat stempel dan spanduk secepatnya antara Ujung Berung dan Cibiru Bandung.
Pagi hari ketika sedang tidur aku dihubungi Meri melalui SMS-nya bahwa teman-teman sudah menunggu di bawah tiang bendera. Maka, aku mempersiapkan semuanya awal tugasku dan menunggu pemberangkatan peserta KKN di bawah tiang bendera depan kampus bersama teman-teman lain yang terlihat sudah berkumpul dengan kelompok peserta lain. Tak lama kemudian mobil-mobil pengangkut peserta KKN berdatangan dan kelompokku tidak mau ambil pusing mencari mobil karena lokasi KKN boleh dikatakan tak jauh dari kampus.
Antara sedih dan gembira waktu itu aku duduk di bawah tiang bendera karena melihat teman-teman yang lain terutama teman sekelas akan berpisah meski pun hanya sebulan untuk melaksanakan KKN di lokasi masing-masing lokasi yang telah ditetapkan panitia. Aku membeli kodak film untuk dokumentasi di toko Alun Foto dan bertemu dengan seorang gadis asal Cirebon yang pernah aku nyatakan cinta bernama Hidayati. Ia pun tersenyum dan aku tak tahu apa arti senyumannya itu. Padahal, semalam aku menghubunginya via SMS dan Ia tak menjawab. Di pinggir mobil aku melihat teman sekelasku Neng Heni Komalsari sedang berbincang dengan Toha. Namun, ketika aku berjalan di depan keduanya, Neng malah membalikan muka seperti tak mau melihatku. Aku memadang ke sebelah kanan depan kampus terlihat Indah Herianti dari jurusan Akhwal al-Syakhsiyah memakai kaos putih tersenyum memandangku. Kini, peserta KKN mulai meninggalkan kampus menuju lokasi KKN di masing-msing daerah. Sebgian memakai mobil bus seperti yang menuju Subang, Tasik dan daerah-daerah lain, sebagian lagi menaiki mobil angkutan umum, bahkan ada pula yang memakai mobil pribadi.
Sementara kelompoku baru mencari mobil angkutan di pinggir jalan untuk membawa teman-teman ke tempat lokasi KKN yang tidak jauh dibandingkan kelompok lain yang ditempatkan di luar kota Bandung.
Satu per satu mobil pengankut peserta KKN diberangkatkan. Hatiku berkata, semoga di antara mereka ada temanku yang terlihat di mobil-mobil itu. Namun, hanya Indah yang terlihat duduk di pinggir kaca mobil menuju jalan raya hendak melaju cepat. Aku tidak melihat Neng atau teman akrabku berngkat. Pandanganku melirik ke berbagai arah lokasi pemberangkatan agar dapat melihat teman-teman akrabku. Perasaan sedih pun muncul karena menurut teman-teman dan kakak kelas bahwa di tempat KKN sering terjadi cinta lokasi (Cilok). Paling tidak aku tidak akan melakukan dan memanfatkan hal itu dalam waktu yang singkat itu.
Terlihat mereka banyak membawa fasilitas peralatan seperti peralatan dapur, peralatan tidur dan peralatan rumah tangga yang sifatnya skunder. Bahkan, sebagian membawa peralatan seperti televisi guitar, radio dan sebagainya. Beruntung mereka tidak membawa kulkas, kambing, lemari kayu dan perlatan mewah lainnya, karena orang lain akan menyangka ada acara “ngabesan” pernikahan.
Setelah berada di lokasi KKN aku bertemu kelompok 29 yang pembimbingnya sama (Ibu Jaja Azizah). Tak lama setelah datang, kelompok 29 dan 30 mengadakan pertemuan dengan petugas dinas kelurahan.
Perasaan sedikit kesal karena pak Lurah terlambat datang menghadiri pertemuan itu. Aku dan teman bernama Haris Marendra pergi ke terminal Leuwi Panjang untuk istirahat dan menyantap makanan, meminum segelas kopi susu sambil mengisap sebatang rokok. Di terminal, aku berkeliling dan berbincang-bincang dengan penunggu karcis masuk. Sambil mengisi waktu, aku nonton film televisi yang berada di terminal. Merasa jenuh di terminal, jam 02-an aku mengajak Haris pulang ke kelurahan untuk mengikuti pertemuan yang belum selesai.
Pertemuan itu dalam rangka serah terima peserta KKN antara pihak universitas yang diwakili pembimbing KKN dan pihak kelurahan mengenai kegiatan yang akan berlangsung dalam rangka membantu tugas masyarakat di sekitar tempat itu. Seorang ibu ketua PKK datang dengan wajah setengah baya dan terlihat masih cantik sambil memakai topi dan merokok. Ia memberikan penjelasan tentang PKK yang dilaksanakan di tempat itu. Tak lama kemudian pihak kelurahan menganjurkan agar peserta KKN bekerja sama dengan pihak Karang Taruna yang berada di daerah Situ Saeur.
Kala itu kota Bandung diguyuri hujan, tapi teman-teman sempat bermain ke jalan mencari makanan setelah shalat ashar agar dapat menghangatkan tubuh. Sebagian di antara mereka terlihat membeli krupuk udang satu kantong plastik ukuran besar dan sebagian membeli makanan bakso. Sementara aku berjalan-jalan mencari makanan ringan agar membuat perut kenyang. Bersama tiga orang teman laki-laki, aku memasuki warung nasi Ampera yang sebelumnya disangka akan memeberikan harga murah, tapi begitu makan selesai ongkos makan satu piring nasi, telor dan sambal seharga Rp. 450. Teman yang mengajak ke tempat itu pun heran karena merasa harga makanan yang tinggi untuk ukuran saat itu. Tak lama kemudian aku meminta segelas air teh manis, lalu keluar dengan tertawa bersama teman untuk menutupi penyesalan akhir acara makan-makan.
Setelah itu, aku dan teman-teman memikirkan mengenai tempat tidur karena tempat di kantor kelurahan kondisinya kurang layak terutama untuk tidur perempuan. Selain tempat kurang kondusif cuaca di Bandung saat itu sangat dingin, sementara kain tikar pun sangat terbatas. Sore harinya teman-teman dari kelompok 29 dan 30 mengadakan perundingan untuk membahas mengenai tempat tidur (posko-sekretariat) kaena pada saat siang hari pertama peserta KKN tidak berhasil mencari tempat hunian untuk sebulan KKN. Salah satu peserta KKN yang secara kebetulan tempat tinggalnya di Kopo Bandung bernama Siti Rodiah (Diah) mengusulkan agar teman-teman perempuan menginap di rumahnya karena tempat Diah berdekatan dengan lokasi KKN, namun harus memayar tarif ongkos mobil seharga Rp. 1000. Sementara itu, peserta laki-laki menginap di kentor kelurahan. Sebagaian ada yang pulang ke tempat kost masing-masing, sementara aku ikut dengan teman yang tempat tinggalnya di Perbas jalan Mohamad Toha, arah menuju Banjaran.
Sangat mengesankan, KKN yang biasa terjadi di perkampungan, kini berada di tengah-tengah keramaian kota.
Meski pun tubuh dibasahi hujan, aku memasang dua helai kain spanduk di sekitar kelurahan Situ Saeur yaitu di depan kantor kelurahan dan di gerbang masuk jalan menuju kelurahan yang berada di samping terminal. Sementara spanduk satunya lagi digunakan teman-teman untuk tidur di lantai kelurahan. Spanduk yang tersedia dari dua kelompok itu hanya ada tiga buah spanduk, aku sendiri membuatnya hanya dua buah spanduk yang berwarna hijau.
Hampir semalam penuh pada malam petama KKN aku tidak tidur menunggu kantor kelurahan. Seperti petugas satpam kelurahan, aku tidur di luar kantor di atas meja yang sengaja kugeser ke luar dari dalam kantor.
Setelah shalat shubuh di masjid Rt 08 perutku mulas dan terasa ingin buang air besar dan mandi. Air di kamar mandi masjid waktu itu sangat terbatas dan hanya di pakai untuk melakukan wudhu, sedangkan di kelurahan air sangat kosong. Terpaksa aku mengajak teman ke WC terminal meski pun harus membayar uang seribu rupiah.
Setelah keluar dari WC terlihat teman-teman berpenampilan “amburadul” dengan tampang sedikit kacau, rambut gondrong, memakai berjaket hitam-hitam, handuk di pundak dan membawa sabun serta peralatan mandi lainnya ibarat freeman-freeman terminal antri menunggu giliran mandi. Aku tertawa menghibur mereka dan mengajak meneguk meminum kopi hitam di pagi yang amat dingin.
Kondisi itu memunculkan gagasan di antara mereka untuk menyewa sebuah rumah yang dapat digunakan sebulan dan harga yang terjangkau meski keadaannya tidak semewah villa. Dengan begitu, kelompok 29 dan kelompok 30 dapat menghuni dan membayar tempat itu bersama-sama nanti. Namun, kesulitan mendapatkan tempat sewa karena warga setempat hanya mau menerima tawaran kontrak selama satu tahun. Sebagian warga memberikan fasilitas sebuah madrasah yang sering digunakan anak-anak TPA-TKA untuk mengaji pada siang hari. Peserta KKN dapat mengisi tempat itu pada malam hari saja, itu pun hanya satu kamar, sementara peserta KKN berjumlah tiga puluh orang dari dua kelompok.
Seminggu kondisi teman-teman KKN seperti anak-anak terlantar di sudut perkotaan pinggir terminal. Aku sudah mulai merasakan tak betah tinggal di kantor kelurahan. Setiap hari teman-teman mengadakan musyawarah untuk mengadakan peginapan sementara. Sebagian mengusulkan untuk melakukan pindah lokasi KKN dengan mengajukan permohonan izin ke pihak panitia di kampus, sebagian malah ingin bertahan tinggal di tempat itu. Namun, ada juga mempunyai ide ekstrem dengan mengusulkan agar peserta KKN mengadakan demonstrasi ke kampus untuk menggagalkan KKN di seluruh lokasi yang diadakan pihak panitia di kampus. Bahkan, menurutnya, KKN sudah tidak layak dilakukan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Berbagai pandangan yang terkadang kontoversi pun mulai memanas di antara teman-teman.
Memang, terlihat dari 30 orang peserta KKN yang terdiri dari dua kelompok, sebagian memiliki daya pikir dan ide yang cemerlang. Tapi, dalam keadaan terdesak mereka harus mengambil keputusan yang lebih baik, tepat, rilex dan bijak. Sejenak aku terdiam sambil mengisap rokok agar pikiran tidak tegang. Terlihat mereka membutuhkan kendali dalam keadaan chaos seperti itu. Hal ini, perlu diadakan pengambilan tindakan dan mengambil alih kebijakan yang ada. Di antara beberapa pandangan yang ada, aku berkata bahwa kemungkinan pindah lokasi bisa saja terjadi bila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh. Tapi, dengan menghitung angka biaya pengeluaran perpindahan, maka untuk kepentingan selanjutnya apakah tidak memakan waktu dan biaya cukup besar dari pada mencari tempat di sekitar lokasi? Selanjutnya, aku membentuk tim pencari tempat untuk posko.
Namun, sepertinya sebagian teman-teman mempunyai rencana lain dengan sengaja melakukan tindakan kurang baik di kelurahan seperti main domino bila ada kepala kelurahan. Bahkan, acara lokakarya kedua yang akan dilakkan seminggu setelah lokakarya pertama pada hari kedatangan akan digantikan dengan acara perpisahan dengan pihak kelurahan.
Apa pun keputusan teman-teman jika memang yang terbaik akan dapat diterima, apalagi sebelumnya aku termasuk yang paling keras untuk mengadakan perpindahan lokasi dan meminta kepada pihak Al-Jami’ah untuk pindah ke Tasikmalaya, tapi selelah berbincang-bincang dengan salah seorang teman asal Lembang (Siti Rohimah), Ia mempunyai saudara yang menjabat kepala desa di tempat itu serta mengizinkan dan menyediakan tempat untuk peserta KKN tinggal di sana.
Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan permasalahan pun meredam seperti tiada bekas seiringan dengan lokakarya kedua yang semula akan menjadi acara perpisahan, namun pembimbing membicarakan tentang kurban Idul Adha, sementara para undangan telah pada datang.
Sore harinya aku tidak mau lagi terpengaruhi masalahan-masalah yang kian melebar dan memutuskan untuk pulang ke tempat kost tanpa. Saat menuju tempat kost, di dalam mobil bus Damri, di dekat pintu aku kaget dan gembira ketika ditanya seorang teman sekelas bernama Firdaus yang bersama satu orang lelaki dan dua orang wanita teman kelompok KKN sedang membawa komputer dari arah Pasir Koja. Dengan cuaca hujan yang sangat lebat aku berbincang-bincang di dalam mobil, lalu Daus begitu biasa disapa turun tanpa memakai payung di sekitar Gedebage hendak menuju lokasi KKN-nya, aku mengucapkan selamat dan hati-hati di jalan.
Sampai di tempat kost aku mandi dan mulai menyirami tubuh bekas tersiram air hujan karana khawatir jatuh sakit. Tak lama di tempat kost, aku mengajak teman KKN bernama Siddiq Tahqiqi mahasiswa Akidah Filsafat (AF) Ushuludin untuk pergi bersama ke tempat KKN.
Akhirnya, aku mulai terserang peyakit influenza dan menjalar ke sakit gigi lalu pusing kepala. Sejenak aku beristirahat, namun ketika mata terbuka ternyata matahari sudah terlihat dan bersinar melewati celah-celah jendela kaca kamar yang sunyi dan tertutup di antara rumah warga, siangnya aku berangkat ke tempat KKN.
Suatu saat di lokasi KKN teman-teman terlihat ceria walau pun keadaannya sangat memprihatinkan tanpa memiliki tempat penginapan yang dapat memberikan kebebasan dalam menjalankan tugas. Mereka bersenda gurau sesama teman, ada yang berbincang-bincang seperti halnya sepasang kekasih, ada yang sedang mengasuh anak dan berbagai kelakuan mereka dalam mengisi kegiatan. Ketika berkumpul aku berkata jangan membawa pacar selama KKN atau melakukan pacaran selama KKN karena dapat menganggu kegiatan dan dapat menimbulkan konflik percintaan, kecuali seusai KKN silahkan saja, bahkan untuk ke jenjang pernikahan pun. Padahal perkataanku itu hanya lah humor semata, tapi teman-teman tak membantah dan mau mendengarkan perkataan itu.
Bahkan, pada malam hari setelah teman-teman terlelap tidur sambil duduk di atas kursi depan pinggir pintu kelurahan, aku teringat seorang gadis yang saat itu KKN di Tasikmalaya. Begitu juga dengan keadaan teman-teman yang lain. Siang hari aku pulang ke tempat kost untuk berangkat ke Tasikmalaya. Di Tasik aku menemui temanku Rifa’i yang KKN di kecamatan Pager Ageung setelah mengadakan kontak sebelumnya lewat telephone.
Dalam waktu kapan pun dan suasana apa pun, hatiku terasa diselimuti kerinduan. Terima kasih teman-teman yang telah memberikan inspirasi yang sangat besar, sebuah pengalaman dan kenangan yang menakjubkan sehingga hidup terasa indah. Rasanya tidak cukup hanya cinta saja.
Hai wanita, jangan engkau selalu menyalahkan pria dalam persahabatan dengan dalih bahwa wanita hanya menunggu saja dan lelaki harus lebih agresif. Apakah wanita tidak boleh agresif? Jangan jadikan kecantikan dan kelemahanmu sebagai alasan untuk menipu dan menutupi dirimu. Emansipasi katanya, tapi nyatanya siapa sebenanya yang harus memulai bila tiap sikapku engkau anggap kesalahan? (Apakah) emansipasi kini sudah di ambang kehancuran(?).
11- Februari-2004 pukul 02:26
Berangkat ke Tasikmalaya pada jam 09 malam dua hari sebelum Hari Raya Idul Adha dengan menumpangi mobil bus Budiman di Cileunyi melalui rute Jakarta-Tasikmalaya. Dalam mobil pikiranku berkata bahwa aku harus mengambil resiko tidur di masjid atau di tempat apa saja yang aman apabila tidak bertemu teman malam hari. Aku mencari tempat (posko) KKN Rifa’i kelompok No. 110. Di Pamoyanan sekitar jam 01:30-an aku berhenti, lalu berjalan kaki karena tukang ojeg memaksaku menumpangi motornya, padahal aku ingin berjalan kaki. Tukang ojeg menakut-nakutiku bahwa katanya perjalanan ke Pager Ageung sangat jauh dan angker. Aku tidak cepat mempercayainya, tapi pada akhirnya mengalah juga karena aku sadar aku berada di tempat yang sangat jauh. Motor berhenti di depan kelurahan Pager Ageung dan aku bertanya kepada warga mengenai tempat KKN di sekitar itu. Lalu, mereka menunjukan ke sebuah tempat seperti kios dengan pintu tralis. Pintu trails itu ku ketuk dengan keras, “bring” begitu bunyinya di dalam cuaca malam hari di Tasikmalaya yang dingin dan sepi. Tiba-tiba seseorang menghampiri pintu hendak membukanya. Kemudian aku masuk ke dalam tempat KKN itu dan melihat Rifa’i sedang terlelap tidur. Ia dibangunkan temannya Tanjil yang ternyata suami teman kelasku bernama Nurhayati.
Aku berbicang-bincang dengan Rifa’i seputar KKN sampai teman-teman yang lain bangun hendak berbelanja ke pasar pada pagi buta untuk santapan sahur, sebagaimana temanku menuturkan. Setelah berbincang-bincang, aku tidur bersama Rifa’i di tengah ruangan, lalu pindah ke kamar bersama Tanjil untuk melepaskan lelah di malam kelap dengan mata yang berbinar-binar kekantukan.
Pagi hari aku hendak pergi ke desa Jamanis menemui temanku Rijal Fahmi, tapi ternyata di Jamanis ada Neng yang kalau ketemu denganku selalu bersifat acuh. Aku menghubungi teman-teman lainnya yang berada di Tasikmalaya, namun pesawat selulerku tidak mampu menangkap signal dengan baik sehingga tak tersambung dengan mereka, sementara temanku enggan mengantarku ke tempat teman-teman lainnya dengan berbagai alasan.
Di Tasikmalaya aku menghubungi Ir. Apep Yuman dan dr. Suharyanto, tapi ternyata dr Suharyanto sudah pindah kerja ke RSU (Rumah Sakit Umum) Ciamis. Setelah Maghrib aku berangkat ke tempat kediaman Apep Yuman di Dawagung. Setibanya di Dawagung, Apep belum pulang dari kerja. Dengan rasa malu terpaksa aku singgah dulu ke rumah pak Azizy tetangga Apep yang juga saudaranya. Tak lama kemudian, Apep datang dan berbincang-bincang dengannya. Ternyata, Apep menyuruhku menginap dan mengisi ceramah pada malam takbir di masjid. Aku mencari alasan bahwa aku sedang KKN dan harus kembali ke Pager Ageung menemui temanku. Kemudian aku pamitan pulang kepada keluarga pak Azizy dan Apep untuk berangkat ke Bandung.
Di tengah perjalanan suara takbir berkumandang di pelosok-pelosok desa. Saat itu, hati seakan menangis, setiap kenangan yang terlewati membuat air mata berlinang membasahi pipi. Dengan mobil yang kutumpangi menuju arah Bandung, terlihat awan malam di atas langit menyelimuti Tasikmalaya. Aku memandang rumput-rumput di pinggir jalan dengan kepala merunduk dan terkadang memandang ke langit pingir kaca mobil dengan tangisan hati yang tertahankan. Aku diam seperti orang yang sedang santai, tapi ketika ditanya seseorang penumpang yang turun di daerah perbatasan Tasikmalaya-Garut suaraku terputus-putus menjelaskan bahwa sekarang sudah jam 23:00-an. Aku malu tapi dibiarkan begitu saja ketika penumpang itu melirik ke wajahku.
Setibanya di kamar kost, orang di sekitar kampus banyak memandangku, mungkin karena pada hari lebaran masih ada orang di kampus, tapi aku tidak menghiraukan. Aku membeli persedian makanan untuk di kamar kost.
Di kamar aku merasa lelah. Setelah memasak mie rebus aku tertidur sampai terbangunkan alarm pagi hari. Seusai malaksanakan shalat hari raya aku pergi ke tempat KKN di Situ Saeur. Ternyata, teman-teman sudah mendapatkan tempat untuk posko.
Di posko aku mendengar kabar bahwa ada kasus perselingkuhan di kelompok KKN tetangga, yaitu di Cibaduyut antara anggota KKN dengan warga setempat. Kasus itu telah menyebabkan proposal KKN yang telah teman-teman buat menjadi tersendat, tapi aku mengusahakan kepada kepala kelurahan untuk mendapatkan izin pengajuan proposal. Agar kasus itu tak menjalar ke lokasi KKN-ku, maka aku ingin membuktikan sendiri melalui survei tempat secara langsung. Ternyata, mereka sudah pindah lokasi, dan konon, kepindahan mereka diusir warga. Survei tempat itu berlangsung hingga waktu maghrib tiba.
Sebenarnya, tidak memakai stempel atau tanda tangan pihak kelurahan pun proposal itu dapat berjalan resmi. Cukup nama pembimbing dan ketua kelompok, tapi untuk legitimasi kegiatan, proposal itu perlu dibubuhi stempel kelurahan agar terlihat lebih resmi. Namun, karena sikap pihak kelurahan tidak memberikan izin penandatanganan proposal dengan alasan bahwa khawtir dapat disalah-gunakan. Selain itu, mereka mengetahui bahwa di kelompok KKN daerah tetangga ada kasus perselingkuhan. Aku memberikan ide untuk tidak banyak menyebarkan proposal, dan bekerja secara mandiri karena banyak garapan yang tak perlu biaya banyak. Hanya membantu program masyarakat yang telah ada tanpa banyak menyodorkan gagasan-gagasan atau kegiatan yang tak sanggup melanjutkannya nanti.
Masyarakat di perkotaan memiliki corak kehidupan yang lebih maju di banding masyarakat pedesaan. Di antara mereka banyak yang ketua Rt/Rw-nya berstatus sosial tinggi dan rata-rata memiliki gelar kesarjanaan, bahkan bergelar doktor dan bekerja di berbagai departemen pemerintahan seperti departemen agama (Depag).
Kemudian aku pergi ke kost-an untuk menemui temanku Saepudin yang sedang sakit, setelah itu pergi ke depan kampus. Di depan kampus bertemu dua teman asal Bogor dan Majalengka yang menjadi sepasang kekasih, lalu keduanya mengajakku ke Subang.
Berangkat ke Subang sekitar jam 13.00-an. Di dalam mobil aku membeli 50 buah tahu Sumedang untuk teman-teman KKN di Subang. Jalan berkelok-kelok melewati jurang terjal dengan semak belukar yang rindam (Sunda: lamping). Tiba di Tanjung-siang Subang sekitar waktu Isya. Kondisi yang sunyi dan cuaca udara dingin terasa indah menikmati udara kota Subang. Malam itu aku berkenalan dengan kelompok KKN Subang. Kebetulan tiga orang peserta di antaranya sudah kukenal karena berasal dan Bogor, bahkan konon kelompok itu kelompok Bogor.
Pagi hari keliling di sekitar posko KKN Subang untuk menikmati kesejukan kota yang penuh keindahan nan asri. Tidak ragu lagi aku membeli sebatang rokok kretek yang dapat menghangatkan tubuh agar tetap rilex. Dari depan muncul Asep Saipul Bahri yang biasa dikenal (SB) dan teman-temannya. SB yang semula terlihat karena melihatku di kota Subang tersenyum dan mengajak berbincang-bincang, bermain serta mengajak ke tempat lokasi KKN-nya. Dengan melihat pedesaan yang indah, aku pikir pasti ada sebuah sungai yang airnya masih bersih dan mengajak mencari sebuah sungai di sekitar tempat itu. SB mengatakan sungai bersih masih ada, namun ketika mendengar pembicaraan mereka tentang aksi yang akan dilaksanakan hari itu, aku mengubah rencanaku untuk pergi ke sungai dan masuk ke tempat KKN mereka untuk mandi di kamar belakang. Setelah mandi mereka sangat ramah dan malahan mereka mengajak makan bersama seperi keluarga. Teman-teman wanita di antara mereka memasak makanan karena mereka menganggapku sebagai tamu.
Pada malam pertama kedatanganku di Subang, aku memang langsung berbaur dengan mereka dan diajak terlibat langsung dalam diskusi tentang aksi demonstrasi yang akan dilakukan di kantor Bupati Subang. Konon, Bupati Subang itu sarjana alumni IAIN Fakultas Ushuludin yang sangat kritis dalam memperjuangkan warga Subang (bernama panggilan Eef).
Aku selalu memperhatikan gerak-gerik teman-teman mahasiswa KKN Subang. Walau pun bukan peserta KKN Subang, sekali-kali aku melakukan tindakan yang kiranya tidak bersebarangan dengan kendali mereka, seperti memberikan saran secara hati-hati, karena terlihat di antara peserta KKN Subang banyak yang aktif di berbagai elemen organisasi ekstra maupun intra kampus yang akan mampu mengatasi masalahnya sendiri dalam KKN.
Sesuai rencana, pagi itu aku berangkat dengan para demonstran dari element mahasiswa KKN Subang dengan berkonvoi sepeda motor menuju kantor Bupati dan DPRD kota Subang untuk menagih janji mencairkan dana bagi masyarakat melalui peserta KKN di Subang. Derasnya hujan tak membuat para demonstran yang mengendarai motor melambatkan kendaraannya, seorang teman yang menjadi penunjuk jalan menyuruh untuk bersinggah di kantor sekretariat Partai Marhaenisme Demokrasi Kebangsan (PMDK). Konon Eef hanya takut pada salah seorang pengurus partai tersebut bernama panggilan Daseng. Namun, ketika di sana mereka hanya dapat memberi semangat tanpa memberi uang sepeser pun untuk menambah biaya bensin, kata para demonstran. Kalau boleh aku katakana, apa yang dilakuakan PMDK hanya sebatas memberi kail untuk memancing ikan besar. PMDK memang agak sedikit keras dalam melancarkan ide-idenya, sehingga teman-teman KKN subang disuruh melakukan aksi di depan rumah Bupati yang konon sedang tugas di luar kota.
Aku mengikuti perkembangan demonstrasi yang dilancarakan para mahasiswa KKN Subang pada hari kedua. Hari itu sungguh mengesankan karena pada hari itu seluruh kelompok KKN Subang datang secara serentak untuk mengadakan aksi. Meski Subang diguyur hujan, mereka tak menyerah begitu saja, bahkan semangat tinggi mereka terus bergelora. Di kantor DPRD Subang, aku membantu mereka melakukan diplomasi dengan pemerintahan daerah kota Subang. Aku menemui kantor asisten pribadi (ASPI) Bupati Subang, tapi tiba-tiba anggota partai PMDK datang dengan mobil sedan berwarna hitam. Anggota partai itu ikut membayarkan makanan untuk para pengunjuk rasa di warung ibu-ibu pojok gedung DPRD. Aku langsung menuju ke bangunan dekat jalan utama. Di lantai dua bertemu seorang wainita cantik yang ternyata Ia adalah asisten pribadi ASPI Bupati (Eef). Katanya, Eef sedang ada di Jakarta menemui Megawati dalam acara rapat partai di kantor pusat utama PDI Perjuangan. Aku membantu menagih janji dari pemerintah yang saat itu adalah agenda untuk pertemuan dengan mahasiswa KKN. Aku bertanya, kenapa bupati hanya mementingkan partai dibandingkan kepentingan masyarakat, padahal kegiatan KKN untuk kepentingan sosial masyarakat?
Aksi itu tidak begitu sempurna untuk menggapai target sasaran (tuntutan) yang diajukan. Bukan mereka tidak mengerti cara-cara melakukan aksi massa dan mengemas isu yang akan dilontarkan ke DPRD. Tapi, kelompok KKN Subang malah terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil lagi yang antara lain: Pertama, kelompok mahasiswa acuh-tak acuh (apatis) tak menghiraukan permasaahan yang muncul. Kedua, kelompok mahasiswa lebih mementingkan pribadi padahal mereka tahu apa yang hendak dilakukan tanpa terlalu melihat dampak politik di Subang. Ketiga, meski jumlah mahasiswa banyak, tapi kelompok mahasiswa ibarat bergerak sendiri-sendiri seperti tak mementingkan masaa sehingga tindakannya tidak massif. Keempat, di satu sisi kelompok mahasiswa lebih cenderung mengambil sikap pragmatis dari pada harus mengorbankan kariernya terutama di bidang politik kedaerahan. Kelima, kelompok mahasiswa yang ikut-ikutan saja pada yang lain sehingga banyak bermain. Keenam, kelompok mahasiswa banyak melakukan spekaulasi. Ketujuh, kelompok mahasiswa melakukan alternatif-alternatif lain yang sukar untuk membuat keputusan, sehingga terkadang tidak membuahkan hasil. Keseluruhan kelompok mahasiswa KKN itu dapat menimbulkan sikap individualistik tinggi yang seharusnya membantu masyarakat sosial.
Sepulang dari DPRD aku langsung menuju Departemen Kesehatan, Rumah Sakit dan Diknas Pemda Subang untuk mengambil buku-buku pelajaran sebagaimana permintaan dalam proposal teman-teman KKN Subang.
Sore hari aku pulang ke posko teman dan ternyata di jalan ada dua orang gadis cantik yang keren-keren bersepeda motor. Aku menghampiri kedua gadis itu dan mendahului motornya. Tiba setelah motor kedua gadis dapat didahului, tanpa sepengetahuanku ternyata polisi sedang mengamankan jalanan dan mengadakan razia motor. Spontan aku kaget dan memikirkan cara lain untuk lolos dari ancaman polisi.
Polisi sudah memberikan aba-aba berhenti, aku segera mengambil posisi di pinggir mobil truk yang berada di depan polisi dan langsung tancap gas sekencang-kencangnya untuk menghindari pengawasan polisi. Sampai perkebunan teh Subang motor itu baru bisa perlahan, polisi sudah tak terlihat dan kedua gadis itu kandas hilang dari penglihatan karena ancaman polisi razia.
Di perkebunan teh Subang, hujan sangat lebat, aku menyarankan agar temanku berteduh di bawah “saung” yang banyak pedagang-pedagang makanan dan kopi menjajakan dagangannya. Aku dan seorang teman memesan kopi agar dapat menghangatkan tubuh dari dinginnya kota Subang.
Hari mulai gelap aku pulang ke tempat lokasi KKN bersama seorang teman yang hampir kandas di tahan polisi. Namun, temanku mengajak main ke posko KKN lainnya di Subang, aku pun mengikutinya. Di sana mereka menyuguhkan makanan kacang rebus, mie rebus, kopi rebus dan makanan rebus lainnya. Setelah shalat Ashar, meski hari sudah hampir Maghrib, seorang peserta KKN melewat di depanku. Kurasa wajah orang itu pernah kulihat, namun Ia menuduk terus sehingga aku tidak melihat jelas wajahnya. Tapi, ketika seseorang menanyakan kelompok asalku dan kujawab dari kelompok tiga puluh, Ia lantas keluar menemuiku. Kini, aku ingat ternyata Ia adalah mahasiswi Akidah Filsafat (Akfil) fakultas Ushuludin bernama Mariam yang semula masuk kelompokku dan pernah berbincang-bincang di masjid membagi tugas, tapi menghilang pindah ke kelompok mana sehingga digantikan Siddiq Tahqiqi. Ia memang tidak banyak komentar tentang alasan kepindahanya, tapi Ia sempat minta maaf melalui Shiddiq. Siddiq menambahkan bahwa kepindahnnya itu dikarenakan pacarnya memang terdapat di KKN Subang.
Setelah Isya aku pamitan pulang kepada teman-teman KKN Subang, lalu pulang ke Bandung. Aku menumpangi mobil jurusan Tasik-Bekasi dan turun di perempatan Sumedang. Di sana aku menunggu bus menuju Bandung dari arah Cirebon. Aku tidak langsung ke posko, tapi pulang dulu ke tempat kost.
Pagi-pagi posko, tapi meri mengajak pergi bersama. Kaerna hari mau hujan Ia minta untuk pergi lebih dahulu dan aku bilang, silahkan! Di perjalanan ternyata dalam mobil sudah ada Meri, tak lama Wahyudi datang memasuki mobil yang tidak secara sengaja berada dalam satu mobil yang sama. Ketika turun dari mobil hujan sangat lebat. Untung Meri membawa payung, sedangkan Wahyudi lari sangat cepat. Saat itu, aku sedang sakit panas di gandeng Meri memakai payung. Aku minta maaf kepada Meri karena melakukannya dengan alasan sakit panas. Tidak apa-apa kok!, ujar Meri. Meri adalah orang pertama yang kukenal di kelompok KKN, sebagaimana Ia mengakuinya. Tiba di posko aku mendapatkan kabar bahwa teman yang KKN di Lembang ingin bertemu, dan aku menjawab nanti akan datang jika sakit sudah reda.
Siang hari ketua kelompok KKN mengadakan rapat sederhana. Dalam rapat sederhana itu, ada dua orang teman laki-laki yang sedang bercanda. Lama-kelamaan guyonan itu mengarah menjadi sebuah kemarahan. Salah satunya teman itu melempar sesuatu kepada teman lainnya seperti anak kecil. Aku memisahkan keduanya dengan memberi saran kepada mereka agar jangan meneruskan masalah di antara meraka.
Hampir sebulan KKN aku kurang tidur dan banyak bergadang. Terkadang rasa kantuk berkurang, sehingga tak jarang aku tidur kelewat siang. Aku habiskan malam demi malam dengan teman-teman dan menjalankan tugas di sebuah rumah yang dihuni dua kelompok KKN sebanyak 30 orang. Di tempat posko KKN, cuma ada empat kamar kecil dan satu tempat mandi dengan alat pompa air yang sudah rusak. Kamar wanita tersedia agak luas, namun itu cukup bila teman-teman wanita sedang berkumpul, karena itu tidak seluruh wanita dapat menginap karena tak kebagian tempat. Sementara pria tidur di tempat mana saja asal dapat tikar. Aku sudah terbiasa tidur di ruangan tengah dengan karpet biru yang lama tak tercuci dan terasa bau sengat kotoran, terlebih karpet itu bekas makan-makan atau abu rokok yang menempel. Terkadang aku tidur di ruangan kamar atas yang berlantaikan papan dan tikar koran. Aku kebagian jatah piket hari selasa untuk masak-masak dan bersih-bersih. Namun, kebanyakan aku mengururs air untuk minum teman-teman seperti mengambil air gallon. Rasa malu hilang ketika tidak ada perasaan suka apalagi diiringi perasaan cinta, yang ada hanya sebatas perasaan kekeluargaan. Karena itu teman-teman memanggilku anak pertama di antara 30 orang sedangkan yang terpanggil sebagai bungsu adalah Diah karena orangnya kecil dan agak manja, terkadang suka menangis bila tersinggung. Diah orangnya lucu dan rajin, ketika aku tertidur di ruangan tengah dengan selimut kain sarung dan celana pendek, seperti teman-teman yang lain memanggilku memanggil, “Acoy bangun!”. Ia sering menyuruhku memompakan air untuk mandi atau cuci piring dan masak karena hari piketku berbarengan dengannya. Siangnya mengajar privat bahasa Arab di madrasah Aliyah Al-Hidayah. Untuk berangkat ke sana harus membayar ongkos mobil Rp. 500.
Malam hari ketika duduk di atas tembok lantai berteraskan papan, di antara genteng-genteng rumah warga aku merenenung sambil melihat pemandangan kota Bandung yang terhias lampu-lampu malam, terlihat di sebelah Utara Daya awan mendung seperti hendak hujan.
Tatkala suara lantunan tilawatil qur’an yang keluar dari lorong masjid berkumandang, kukenal itu suara H. Muammar yang terpasang di masjid sebelah dengan merdu. Aku teringat kenangan masa kecil yang menggugah hati. Tiada lagi terasa kenyataan pahit menghampiriku karena rindu dan masa lalu teringat manis di banding dengan keadaan sekarang. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain selain menelan pil pahit dalam-dalam.
Bandung, Situ saeur, Bojongloa kidul
Senin 23 Februari 2004 pukul 04:32 fm
Karena sakit aku minta izin pulang ke kost-an. Di tempat kost aku bertemu seorang teman asal Bogor yang KKN di Lembang dan ikut ke sana selama dua hari dengan cuaca sangat dingin.
Setelah mengikuti pengajian di Rt 09 dengan warga dan para pelajar di sana, aku bersama teman-teman pulang ke posko. Di televisi aku melihat kabar tentang acara Dangdut Ria yang diadakan di Gazeeboo Bandung dekat Tugu Pancasila. Aku berangkat ke sana bersama empat orang teman. Tiba di sana ternyata acara tidak ada, tak terlihat satu pun panggung di sana. Orang lain pun menanyakan acara itu, aku bilang tak hanya informasi di televisi. Informasi menyesatkan karena mereka telah berdatangan baik dari Bandung mau pun luar Bandung. Kemudian aku pulang dengan mobil bus Damri yang menuju ke mess-nya, di mobil aku melihat empat gadis “centil-centil” dan kukira ke-empat gadis itu wanita tuna susila (WTS) atau pekerja sek komersial (PSK). Konyol, temanku malah bersenda-gurau dengan mereka dan mendekatinya walau sudah diperingati bahwa wanita-wanita itu PSK. Mereka mulai mengajak berkencan malam hari itu, tapi teman-teman menolak, lalu melanjutkan perjalanan ke arah tegal lega. Di tegal lega aku melihat para pedagang malam menjajakan dagangannya, di antara pedagang itu terlihat tukang undian lotere menjual nomor seratus rupiah agar pembeli nomor memencocokan dengan nomor barang. Aku sempat tertarik membeli nomor itu, tapi sial tak sedikit pun keuntungan dari membeli lotere. Uang yang semula untuk ongkos terpakasa lenyap begitu saja sehingga harus pulang berjalan kaki menuju lokasi posko KKN bersama teman-teman.
Siangnya mereka mengadakan foto bersama, tapi Pipit yang semula mengadakan kontak dengan teman-teman di posko datang dan marah karena melihat kertas pengumuman yang Ia buat di dalam posko dipindahkan Urik ke kaca luar posko. Pipit mengira dipindahkannya kertas pengumuman bagi teman-teman yang belum melunasi iuran kelompok itu merupakan ejekan kepadanya. Pipit menangis sambil marah menyerahkan catatan perbendaharan kepada ketua agar digantikan yang lain. Gandhi sebagai ketua kelompok diam tak banyak komentar dan tak mau ambil pusing. Pipit terus menagis dan sesekali mengadukan nasibnya kepadaku karena perlakuan teman yang semula bercanda ditanggapinya dengan serius. Aku menasihati Pipit secara perlahan-lahan karena Pipit sering cepat tersinggung dan marah. Lalu, Pipit diam dan berhenti menangis setelah kujelaskan bahwa perlakuan teman itu guyonan dan tidak disengaja.
KKN hampir berakhir, tapi aku harus stand by di posko. Saat itu aku tidak banyak keluar, hanya menunggu posko, sementara teman-teman merencanakan liburan setelah KKN ke Pangandaran.
Suatu hari pemuda masyarakat di daerah itu yang biasa disebut Angkatan Pemuda Junior ingin mengadakan perpisahan dengan peserta KKN dengan masak dan bakar-bakar ayam. Namun, sayang permintaan mereka tidak sesuai dengan keinginan peserta karena mereka ingin acara itu diisi sambil mabuk-mabukan. Dengan berbagai pertimbangan dan meminta pendapat kelompok karang taruna setempat, kusarankan pada teman-teman agar malam itu berangkat ke tempat lain secara bersamaan dengan alasan ada acara penting yang tak boleh ditinggalkan. Padahal, teman-teman hendak pergi ke rumah Siti Rohimah di Lembang dan ke rumah Hamdani di Cihanjuang.
Keluarga Siti Rohimah menjamu teman-teman dengan baik, ayahnya membelikan banyak makanan seperti daging ayam goring, sayur, sambal dan pete. Antara kambuh dan reda, saat itu aku sedang sakit gigi dan sakit kepala. Makanan memang banyak, tapi tak bisa makan lahap karena gigiku tak bisa mengunyah keras.
Siangnnya aku memesan air susu sapi dan mancing ikan di kolam. Karena ikan tak didapatkan banyak, Hendra ingin menyudahi acara mincing, tapi di kolam itu terlihat ikan emas berukuran besar. Penasaran ingin menangkapnya, aku meminta izin ayah Siti Rohimah untuk menuruni kolam itu, Ia mempersilahkan dan bahkan untuk mengkeringkan kolam (Sunda: bedah). Bersama Dede dan Hendra kutangkap ikan dengan tangan. Kolam itu banyak dipenuhi kotaran manusia berwarna kuning dan bahkan ada yang sudah terlihat kecoklat-cokelatan dan sedikit menghitam dengan lumut hijau. Kedua teman itu, terlihat kesulitan menagkap ikan dengan tangan, tapi karena aku pernah melakukannya sebagaimana kebiasaan di kampung, kutangkap ikan-ikan itu dari yang ukuran kecil sampai yang besar. Aku dikelilingi teman-teman pinggir kolam seperti tontonan perlombaan penangkapan ikan. Tangkap ikan lalu lempar ke darat dan teman-teman girang menyambutnya. Aku naik ke atas kolam untuk mengakhiri penangkapan ikan setelah ikan emas besar itu tertangkap.
Keesokan harinya aku dan teman-teman pergi ke rumah Hamdan di Cihanjuang Bandung dan membawa ikan hasil tangkapan. Di rumah Hamdan aku berkunjung ke posko teman-teman yang sedang KKN di sana. Di antara peserta KKN itu satu diantaranya ternyata teman sekelasku bernama Nur Asiah. Sayang, Nur tidak ada di tempat waktu saya berkunjung. Aku berbincang dengan peserta KKN lain yang kukenal di kelompok itu.
Sekitar tiga hari sebelum perpisahan KKN keluarga masjid Al-Mushlih mengadakan kerja sama dalam rangka acara Halal Bi Halal dengan masyarakat dan akan mendirikan panggung untuk mengisi beberapa kegiatan acara seperti nasyid, ceramah dan sebagainya. Dalam acara itu, peserta KKN banyak membantu panitia penyelenggara dengan mendagangkan pernak-pernik, baju-baju dan sebagainya. Temanku Sahruni yang biasa dipanggil Mantri alias Jack membacakan puisi karena Ia mahasiswa jurusan Sastra. Asep membacarakan Tilawatil Qur’an, sedangkan aku membantu mereka mengatur acara di bawah panggung, terkadang merapikan bangku serta menjemput tamu.
Selepas perpisahan dengan pihak kelurahan, rencana ke Pangandaran menjadi matang. Barang-barang diangkut ke tempat masing-masin, Diah yang semula pulang ke rumahnya kembali ke posko sambil menangis ingin bertemu lagi walau hanya satu malam. Teman-teman masih ada di posko meski kelompok lainnya sudah pulang ke dari tempat KKN-nya. Malam hari itu teman-teman mengadakan renungan malam dengan mematikan lampu. Hanya lampu lilin yang menerangi malam itu untuk mengadukan keluh-kesah, saling memaafkan satu sama lain. Sebagian menangis, sebagian lagi tertidur pulas sambil diganggu teman yang lain. Siti Rohimah yang duduk menyingkur di pinggir dinding diganggu Diah lalu terbangun dan disuruh mengungkapkan keluh-kesah selama KKN. Diah dengan segala kelucuannya memberikan suasana humoris kepada teman-teman yang sedang bersedih mengadakan perpisahan.
Sambil mempersiapkan untuk esok hari berangkat ke Pangandaran malam berikutnya, mereka bersenda gurau di posko dengan mendengarkan siaran radio, mereka bernyanyi, memasak nasi dan mie rebus.
Semua peserta KKN berkumpul sore hari di posko untuk persiapan pemberangkatan ke Pangandaran. Pikiranku setelah di Pangandaran nanti, selain berkumpul bersama teman-teman KKN juga akan bertemu teman-teman dari Bogor yang hendak mengadakan perkumpulan. Aku menitipkan pesan kepada teman-teman dari Bogor bahwa aku berengkat dengan teman-teman KKN dan mempersilahkan mereka berangkat lebih dulu sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Semingu sebelum KKN berakhir, aku juga banyak menghubungi teman-teman KKN dari mahasiswa asal Bogor untuk mengadakan pertemuan “silaturrahmi” sebelum mereka pulang ke kampung halaman masig-masing.
Aku hubungi satu per satu di antara orang Bogor di tiap-tiap wilayah dengan memakai telepon atau sms. Wilayah Bandung kutangani sendiri dengan mendatangi tiap-tiap posko atau mengontak teman-teman dari Bogor via telephone. Wilayah Tasikmalaya teman Rifai sebagai koordinatornya, wilayah Subang oleh Fatoni, sedangkan wilayah Sumedang oleh Engkos Kosasih dan Kabupaten Bandung diserahkan kepada Heri Kiswanto. Sementara keputusan terakhir ada ditanganku untuk menentukan jadwal dan tempat perkumpulan. Rencananya, semula aku ingin berkumpul di pangandaran agar menambah suasana santai. Namun, karena beberapa hal yang tak mungkin acara itu dilaksanakan secara cepat, acara itu terlaksana oleh teman-teman mahasiswa asal Bogor sebulan setelah KKN pada saat aku sedang di rawat di rumah sakit.
Dengan menumpangi mobil bus Budiman di Cicaheum sore hari, akhirnya, acara ke Pangandaran bersama teman-teman KKN sudah tiba. Sebelumnya aku banyak mengajak teman-teman lain untuk pergi ke sana. Tapi, mereka tidak dapat menyanggupinya karena alas an-alasan lain.
Sore itu aku mendapatkan telephon dari teman bahwa aku harus cepat-cepat dating ke terminal Cicaheum karena mobil terakhir akan berangkat. Tiba di terminal Cicaheum terlihat teman asal Bogor bernama Patoni (yang menjadi kordinator teman-teman mahasiswa Bogor di Subang) bersama teman-teman KKN ikut ke Pangandaran.
Mobil akan segera berangkat, teman-teman mulai memasuki mobil. Dalam mobil duduk di dekatku Patoni sambil merokok dengan mereka dan bersenda-gurau. Patoni menceritakan kondisi KKN di Subang, begitu juga aku menceritakan tentang peristiwa di seputar KKN dalam sharing pengalaman.
Jalanan berkelok-kelok, teman-teman ada yang membagi-bagikan makanan, bahkan Wina membawa sekardus besar nasi rames. Konyol, salah satu teman terdapat membawa minuman keras Whisky. Teman-teman banyak yang tertipu dengan meminum minuman itu, karena dianggap minuman suplemen biasa. Salah satu di antaranya teman merasa pusing dan muntah dengan meminum minuman itu Sedangkan aku meminum sebotol minuman suplemen Kratingdaeng.
Tiba di pangandaran teman yang muntah itu tak tahan lagi berjalan sempurna karena merasakan pusing kepala. Begitu turun di mobil, “bruoooo” berkas makanan yang telah dimakan keluar dari mulutnya, lantas jalan sempoyongan seperti mengeluarkan jurus Dewa Mabuk ala Jacky Chan. Ia banyak bicara melantur dan mengeluarkan muntah dari mulutnya hingga tergeletak di jalan trotoar. Teman-teman mempercayaiku untuk menanganinya, padahal aku tak tahu-menahu soal minuman keras. Bagaimana rasanya?, kataku sambil mengejek teman yang sedang kuboyong ke dekat pantai memakai becak dengan harga lumayan tinggi. Tanpa menyadari perkataannya, temanku itu menyuruhku menghajar tukang becak. Aku membentaknya supaya diam tidak banyak bicara dan tukang becak malah mentertawakannya.
Empat hari empat malam di Pangandaran, kuhabiskan waktu untuk berlibur. Kupergunakan kesempatan itu dengan bermain ke beberapa lokasi di Pangandaran. Pada malam hari, aku bermain dengan tiga orang teman mengelilingi tempat wisata Pantai Pangandara mulai Pantai Timur sampai Pantai Barat Pangandaran serta mengelilingi pasar dan tempat hiburan lainnya. Saat berkeliling, aku dipanggil seorang wanita penjaga kasino yang banyak menjajakan minuman keras yang harganya relatif mahal. Masuk dulu mas!, kata wanita penjaga itu. Aku melewati tempat itu dan sempat memasuki kasino sehingga tanganku dipegang penjaga kasino itu. Kulihat banyak wanita berparas muda berduduk menunggu pembeli minuman dan menghabiskan waktu di tempat itu. Kebetulan aku tidak mempunyai uang cukup, karena aku ditawari beberapa minuman keras oleh beberapa penjaga kedai minuman itu. Aku melihat beberapa minuman terpampang dengan jelas yang dihiasi kaca-kaca dan lampu warna-warni seperti Vodka, Mention, Brandy, Whisky, dan lain-lain. Kutanyakan barang yang kira-kira tidak ada di tempat itu dan memanipulasi harga barang dengan berpura-pura membedakan dengan tempat lain. Kukira tempat seperti ini tidak ada minuman murah. Lalu, kutanya penjaga, apakah di tempat ini ada minuman Topi Miring (TM)? Penjaga kedai menjawab, waah tidak ada mas!. Kemudian kutanya harga minuman lain supaya tidak menonjolkan sikapku yang mengada-ada. Berapa harga minuman ini?, tanayku. 50.000 rupiah mas!, jawab penjaga. Waah tidak kemahalan tuh!, kalau di Bandung minuman ini harganya hanya 5000 rupiah, sambungku. Penjaga balik bertanya, mas mau beli tidak?. Aku jawab, nanti aja deh kapan-kapan!. Padahal dalam lubuk hati aku tak janji dan enggan memasuki tempat seperti itu lagi. Temanku terbahak-bahak lolos dari tawaran para penjaga minuman keras. Perut mulai terasa lapar dan aku hendak mencari nasi goreng yang harganya lebih murah, karena biasanya harga-harga makanan di tempat wisata relatif mahal. Selain itu, persiapan uang sisa KKN tidak cukup karena hanya bekal uang untuk transportasi pulang.
Di pinggir pantai aku mencari pedagang nasi goreng yang dapat kutawar. Terlihat seorang ibu yang sedang tidur menunggu gerobak dagangnnya. Kupanggil perlahan ibu itu beberapa kali, ibu, ibu, ibu, kataku beberapa kali sampai Ia terbangun. Setelah tawar-menawar harga, aku membeli nasi goreng dan kopi hitam dua gelas dengan harga murah. Padahal, peraturan pedagang di sekitar pantai tidak boleh ada pedagang yang menjajakan dagangannya dengan harga berbeda dari pedagang-pedagang lain.
Sambil menghisap rokok, terlihat sepasang sejoli sedang memadu asmara menjalin cinta kasih sambil mengumbar buayan-buayan janji manisnya kebohongan dunia di pinggir pantai. Tiba-tiba, petugas pantai datang. Sepasang sejoli yang berpelukan rapat kaya perangko itu tidak menghiraukan petugas, dan melewatinya begitu saja. Lalu, kedua sepasang kekasih itu melihat-lihat ke arahku bertiga. Tak lama kemudian tontonan layar film dua sepasang kekasih pun bubar. Aku pulang ke rumah sewaan di Pangandaran setelah membayar harga dua gelas kopi dan tiga piring nasi goreng secara “patungan”.
Pagi hari mandi tepi laut pinggir pantai yang terkadang karena keasikan berenang sampai tak terasa hampir terbawa arus ombak pantai Selatan itu. Selepas membasuh tubuh dengan air tawar, siang hari aku berangkat dengan seorang teman ke Pantai Pasir Putih melewati Cagar Alam Pangandaran. Semula aku tidak akan akan membayar karcis dengan melewati jalur pinggir pantai, bukan lewat posko penjaga cagar alam tersebut. Ternyata, seseorang menghampiriku menagih uang karcis masuk seharga 2500 rupiah per orang. Aku terpaksa membayar dan melanjutkan perjalanan menuju cagar alam. Tiba di Pasir Putih aku melihat seseorang nelayan sedang istirahat membakar ikan hasil tangkapannya di pinggir pantai. Aku dan teman meminta ikan kepada nelayan itu untuk dibakar. Ia pun memberikan tiga ekor ikan untuk dibakar. Rasanya indah membakar ikan pinggir pantai hasil tangkapan nelayan.
Pukul 14.30 aku pulang setelah teman di rumah sewaan menghubungiku lewat telepon. Padahal, aku dan seorang teman Patoni masih sedang asik bermain menyusuri pinggir pantai pangandaran melewati pasir putih menuju pantai barat melewati cagar alam yang riuh-rindam.
Sebelum pulang ke Bandung, aku berkumpul di terminal Pangandaran dan membeli makananan dan minuman ringan sekedar untuk mengisi kekosongan perut yang mulai terasa lapar. Di dalam mobil bus Budiman aku bercanda bersama teman-teman sambil memberikan guyonan selama perjalanan sehingga teman-teman terlihat penuh dengan ceria dan tawa. Bahkan, penumpang lainnya pun ikut tertawa ketika aku dan teman-teman menampilkan kebolehan dalam berhumor.