Berbicara soal nikmat, bangsa Indonesia harus paling bersyukur karena tidak mungkin terhitung banyaknya anugerah Tuhan yang diberikan di Nusantara ini melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam yang lebih baik?.
Tapi, apa boleh dikata negara ini ibarat sebuah llilin. Di saat lilin menyala, ia menerangi seluruh ruangan, namun ia sendiri terbakar. Cadangan minyak bumi cukup besar, emas kian banyak terpendam di bawah bumi pertiwi. Tapi, apakah masyarakat sudah banyak terlibat dalam pengelolaan energi perut bumi, dan berapa persen hasil bumi ini dirasakannya?
Apabila bukan bangsa ini yang mengelola, siapa lagi yang mau peduli dengan lingkungan kita?. Jangakan minyak, emas, tembaga dan sebagainya yang belum mampu dikelola bangsa sendiri, air yang sudah jelas nampak di atas permukaan bumi kita masih belum cukup untuk memikirkan. Di negara ini, musim hujan sudah menjadi bagian dari rutinitas tahunan. Tapi, tidak lah cukup kejadian-kejadian sebelumnya dijadikan pelajaran untuk menangkal keaadaan bahaya bagi masyarakat?
Jika air suatu ibarat, ia tertampung dalam suatu muara dari beberapa arus sungai yang kemudian mengalir ke laut. Air merupakan sumber kehidupan, simbol keperkasaan, kerendahan hati, kesabaran dan bahkan sebagian orang masih ada yang malakukan ritual kepercayaan terhadap nenek leluhur mereka, karena itu air merupakan simbol kepercayaan yang dikultuskan (disucikan).
Meski dijadikan awan yang mengandung petir, membelah bumi, membakar pohon, air tetap tabah memberikan hujan membasahi bumi dari kekeringan. Orang menganggap itu adalah rahmat-Nya, sehingga tumbuhan dan tunas biotik bermunculan. Meski dijadikan gunung es (gletser) yang membeku air mengalir dan menyatu kembali dalam sebuah bahtera. Meski terpisah di sebuah gunung, telaga, danau dan gua di dalam tanah, yang digali menjadi sumur atau sungai air tetap akan ke suatu muara dan bersatu di suatu tempat yang amat luas.
Alangkah nista bila seseorang tidak dapat memanfaatkan sumber kehidupan alam ini sebagai kekayaan hayati. Para ahli menyebutnya keaadaan primer. Air tidak mungkin pasti terbagi dengan angka walau pun mengerahkan kemampuan luar biasa. Air tidak dapat dipisahkan satu sama lain kecuali manusia merubahnya melalui suatu proses (buatan), atau Tuhan berkehandak lain. Air tetap satu nama dan bentuk, yaitu “air”.
Air tidak bisa dikalahakan apapun, kecuali oleh Sang Pencipta, karena itu air merupakan simbol keperkasan. Dari titik terkecil ke titik terbesar air mencari celah-celah menghadapi berbagai rintangan yang sangat dahsyat. Dengan perlahan dan memastikan, lewat dedaunan, ranting dan segala macam benda yang dihadapi air mencari celah bagian menuju suatu bahtera yang sangat luas. Air mengalir menjauhi keperkasan sang gunung.
Di suatu muara air bertemu dan berpisah. Pada suatu saat dan tempat air akan bertemu kembali karena air tidak mungkin terpisah dan terbagi. Air adalah suatu kesatuan yang utuh.
Air sering mendapat perlakuan yang tak wajar. Air hanya berdiam. Tapi, bila diperlakukan tidak seimbang, air membuat keputusan yang selalu disalah- mengertikan orang dengan suatu “ancaman”. Dikotori, dihina, disingkirkan oleh tangan-tangan tak bertanggung-jawab serta tak mau mengerti. Air mengalami proses pahit sebelum menuju tempat yang kuat dan luas. Berapapun noda yang ditimpakan tidak mungkin merubah keotentikan air, kesucian, kejernihan yang terlalu besar, luas dan dalam. Air selalu mengisi satu sama lain dalam ruang dan waktu di setiap perubahan yang amat jauh. Air tidak mengucapkan “selamat berjumpa” atau “selamat berpisah” di muara mana pun. Walau pun muara itu berubah menjadi tempat gersang atau menjadi bangunan kokoh, air akan memunculkan muara baru. Begitu seterusnya, air tak menganal kematian dan menjadikannya abadi, kecuali Tuhan berkehendak lain, dan kita tak bisa menangkal.
Sempat air dijadikan embun pagi dan kabut tebal yang merintangi pandangan sehingga tubuh kedinginan. Di manapun air bersembunyi orang akan mencari, membutuhkan dan memanfaatkannya. Di suatu gua atau di dalam tanah sekali pun air tetap menjadi sumber kehidupan. Tak sedikit orang menjadikannya dewa dalam sungai gangga.
Bila air memiliki nyawa, betapa tulus dirimu, rendanya hatimu, elok dan indah rupa, kuat pancaran energi sinarmu dan betapa perkasanya dirimu. Betapa angkuhnya orang yang telah membuat dirimu menderita dan ternoda, betapa acuh orang yang telah membuat dirimu menangis. Sempat dirimu dijadikan tempat menabur dosa dan murka kemudian dihina, dicemoohkan dan disia-siakan. Dari tetesan kejernihan lalu dijadikan limbah. Mulianya dirimu telah membuat orang senang sedang dirimu menderita. Semoga suatu saat engkau mendapatkan tempat yang mulia dalam nirwana keindahan, kenikmatan, kesejahteraan dan kemakmuran.