Jakarta, Kompas – Kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat George Walker Bush sering kali menimbulkan ketegangan dan konflik di berbagai negara. Kebijakan itu pulalah yang justru meningkatkan radikalisme di dunia Islam.
Hal itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi saat menerima Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Cameron R Hume di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (5/9).
Hasyim menegaskan, NU tidak pernah memusuhi Pemerintah AS, apalagi bangsa AS. Namun, NU selalu bersikap kritis terhadap kebijakan luar negeri Presiden Bush yang justru menghasilkan konflik di berbagai negara.
Konflik yang terjadi di negara-negara Islam akan selalu berimbas ke Indonesia. Kondisi ini semakin menambah beban bagi Indonesia yang sedang berupaya keluar dari krisis dan menuntaskan program reformasi.
Dalam pertemuan sekitar satu jam itu, Hasyim dan Hume juga membahas upaya mengatasi radikalisme di dunia Islam dan Indonesia.
Menurut Hasyim, radikalisme yang muncul di Indonesia tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena keberadaannya bukanlah lahir dari karakteristik domestik asli Indonesia. Karakter Islam di Indonesia adalah penuh dengan toleransi karena berhadapan dengan keragaman suku, budaya, agama, ataupun ras.
Sementara itu, di Timur Tengah, citra Islam kerap dikaitkan dengan kekerasan karena Islam di Timur Tengah berhadapan dengan kekuatan Israel atau potensi minyak bumi yang selalu diperebutkan beberapa negara, serta kebijakan AS yang tidak adil terhadap dunia Islam. “Radikalisme Islam di Indonesia cukup dikurangi dengan pengembangan moderasi Islam, peningkatan kesejahteraan dan pendidikan,” katanya.
Hasyim juga menyayangkan sikap AS dalam menghadapi radikalisme. Di satu sisi, AS sangat menentang munculnya radikalisme. Namun, di sisi lain, kebijakan luar negeri AS justru memunculkan radikalisme baru. Untuk itu, lanjut Hasyim, NU akan terus mengobarkan perdamaian dunia meski tujuan itu sulit tercapai.
Dalam kesempatan itu Hume menawarkan peningkatan kerja sama dengan NU dalam bidang pendidikan melalui beasiswa studi ke AS ataupun pengiriman tenaga ahli AS ke pesantren dan sekolah NU. Bidang pendidikan yang ditawarkan meliputi manajemen, bisnis, ekonomi, teknologi, pedagogi, dan teknologi informasi. (MZW)